Tampilkan postingan dengan label Relationship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Relationship. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Agustus 2023

Wanita Kedua

"Aku harus pulang dulu, Sayang. Istriku sudah menanti kepulanganku. Biasanya aku sudah tiba di rumah pukul 21, sekarang sudah hampir tengah malam aku belum pulang."
Lelaki itu berkata seraya kedua tangannya memegang wajah wanita cantik di hadapannya.
Sinar redup dan berkaca yang tampak dari mata wanitanya itu membuatnya berat untuk pergi, tetapi dia harus pulang. Istri dan anaknya sudah menunggunya di rumah.
"Kamu mencintaiku, Mas?"
Wanita itu mengucapkan pertanyaan yang sebenarnya dia pun sudah mengetahui jawabannya. Namun, tetap juga keluar kalimat itu untuk sekedar meyakinkan perasaannya.
Perasaan yang hinggap di hati yang salah sehingga entah bagaimana ujung perasaannya ini nanti. Yang dia tahu, setiap berada di dekat lelaki itu, perasaan nyaman dan bahagia selalu meliputinya. Walaupun pertemuan mereka selalu diakhiri dengan luruhnya air dari matanya serta pertanyaan retoris tadi.
Mendengar pertanyaan wanitanya yang selalu berulang, hati lelaki itu bagaikan ditusuk oleh ribuan duri beracun. Sakit dan mematikan. Namun dia memang tak berdaya. Takdir mempertemukannya dengan cintanya ini di saat dia sudah memiliki hati yang lain.
"Kamu tahu apa yang kurasakan, Sayang. Kamu tahu betapa sakitnya hati ini setiap kali melihat embun di matamu," kata lelaki itu sambil menciumi mata wanitanya yang terpejam.
Menjadi wanita kedua apapun alasannya tidak pernah membuat seorang wanita mendapat predikat wanita baik-baik. Namun, terkadang dunia terlalu senang bercanda sehingga cinta sejati muncul ketika cinta yang lain sudah hadir sebelumnya.
Tapi apakah cinta yang seperti ini masih bisa disebut cinta sejati? 
Apakah benar bahwa cinta sejati tidak selalu harus memiliki?
Namun, mengapa cinta sejati harus semenyakitkan ini?
Aku tidak pernah ingin menjadi wanita kedua bagi siapapun, begitupun aku tidak ingin kalau suamiku memiliki wanita kedua. Namun, takdir memiliki sense of humour yang tinggi, yang menjadikanku tokoh sentral di sesi open mic-nya dengan tema Wanita Kedua.
Menjalani peran sebagai wanita kedua bagaikan naik roller coaster dalam kehidupan. Siang hari aku menjadi aktris yang berperan sebagai wanita kedua, malam hari aku menjalani peran dunia nyataku sebagai istri yang baik untuk suamiku.
Menjalani dua peran ini sungguh melelahkan, tetapi hatiku dan hatinya sepertinya sudah tidak sanggup untuk saling melepaskan. Hati kami sudah sangat saling terpaut, lebih erat ikatannya dibandingkan dengan suamiku.
Sayangku, sampai kapan peran ini harus kujalani?
Sungguh aku sudah lelah, tak tahu apakah aku sanggup menjalaninya hingga akhir kita. 
Aku minta kamu untuk melepasku karena aku lebih tidak sanggup lagi untuk melepasmu. Logikaku selalu hilang setiap itu berkaitan dengan dirimu.
Tuhan, aku lelah sangat, aku ingin pergi sejauh mungkin, lepas dari semua kenyataan ini.
"Mas, aku sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya," tulisku kepada lelakiku melalui aplikasi pesan.
Dengan perasaan hancur, akhirnya aku memutuskan untuk melepas lelakiku, cinta sejatiku.
Walaupun hatiku menjadi hampa, setidaknya dia tidak lagi merasakan kelelahan.
Aku akan mencoba menghadapi kenyataan bersama lelaki yang sudah Allah takdirkan bersamaku, berharap di akhirat nanti Dia pertemukan aku kembali dengan lelaki cinta sejatiku dan menjadi jodoh akhiratku.
"Sayang, walaupun kita saling mencintai, tetapi dengan melepasmu bukan berarti cintaku padamu hilang. Justru karena aku sangat mencintaimu, aku harus melepasmu agar beban hatimu menjadi lebih ringan dan kamu bisa fokus kepada dia yang sudah berada di sisimu selama ini."

Minggu, 16 Agustus 2020

RIndu yang tak Berujung

 

 Aku
Ketika aku sedang rindu, dimanakah engkau berada? Aku selalu menunggumu disini di tempat terakhir kita berjumpa. Disaat itu engkau berjanji akan selalu ada di sampingku. Kau berjanji akan selalu menemani hari-hariku.
Apakah kau tidak pernah merasakan rindu lagi kepadaku? Ataukah sebenarnya kau tak pernah rindu? Sehingga karena kau tidak mau menyakiti hatiku, maka kau memutuskan pergi tanpa pernah ada ucapan selamat tinggal? Tidakkah kau tahu hatiku begitu merindumu?
Setiap senja, aku selalu datang kesini. Ke tempat kau berjanji untuk selalu mencintaiku. Untuk selalu menyayangiku. Untuk selalu merindukanku.
Tapi hingga rembulan mengintip dibalik awan, kau tidak pernah datang. Apakah kau memang sudah mengingkari janjimu? Apakah kau tahu bahwa laki-laki yang dipegang adalah kata-katanya? Tidakkah kau terpikir atau kau rasakan bagaimana hancurnya hatiku?
Ingin rasanya aku membencimu. Namun hatiku tak kuasa. Rasa cinta dan rindu jauh lebih dalam dibandingkan rasa benciku kepadamu. Disaat semua orang mengatakan aku harus melupakanmu, aku akan tetap bertahan dengan perasaanku. Aku yakin suatu saat nanti, engkau akan datang untuk menjemputku.
Aku akan tetap menantimu disini. Di tempat kita berjumpa untuk terakhir kalinya. Ditempat kau ucapkan janji-janjimu kepadaku. Hingga waktu yang akupun tak tahu ujungnya, kuakan tetap menunggumu.

Kamu
Saat kamu rindu, aku selalu datang disisimu. Aku selalu berada disampingmu saat kamu menantiku disini. Ditempat aku berjanji untuk selalu mencintaimu. Untuk selalu menyayangimu. Untuk selalu merindukanmu. Karena kamulah satu-satunya belahan jiwaku.
Aku selalu merindukanmu, Cintaku. Aku selalu merindukan saat-saat kita bersama. Saat kita berdua memandang senja hingga rembulan muncul dari peraduannya. Tak pernah lekang rinduku padamu, Cintaku.
Aku tak pernah mengucapkan selamat tinggal, karena aku memang tak kan pernah mampu mengucapkannya. Pun saat ruhku harus berpisah dengan jasadnya, aku tetap tak mampu mengucapkan selamat tinggal padamu. Kamu satu-satunya cinta yang kurindu.
Aku sangat memahami perasaanmu. Aku siap seandainya kamu membenciku walau aku tak ingin kamu membenciku. Karena aku tahu, kamu tidak pernah tahu alasanku tidak pernah datang menemuimu lagi. Sesungguhnya aku ingin mengatakannya kepadamu, namun aku tidak tahu bagaimana caranya.
Kini aku hanya sebuah jiwa yang melayang tanpa tahu tempatku berada. Seseorang yang telah merenggut jiwaku saat kita berpisah membuatku tak bisa menemuimu lagi, Rinduku. Kuharap ada manusia yang bisa menemukan jasadku agar kamu tahu mengapa aku tidak lagi menemuimu. Agar kamu tidak lagi menungguku disini.
Aku sangat merindukanmu, aku akan tetap menemani hari-harimu. Meski kamu tidak lagi merasakan kehadiranku, tapi kupastikan aku selalu disampingmu. Hingga tiba saatnya nanti aku bisa menjemputmu untuk menyatukan rindu kita kembali.

Dan kita kembali berada di dunia yang sama.

 

Minggu, 09 Agustus 2020

Solver dan Writer

 Gambar mungkin berisi: Runny Yuliasari, teks yang menyatakan 'Bunda Runny Woman Solver ပ Writer'

 
Kedua profesi inilah yang melengkapi peran saya sebagai perempuan. Sebagai diri pribadi, saya bisa mengungkapkan segala ide, perasaan dan pengalaman dalam bentuk tulisan. Di mana tulisan-tulisan tersebut menjadikan saya merintis sebagai penulis.
Sebagai seorang ibu, saya sudah menjadi ibu dari 4 orang anak yang in syaa Allah soleh dan sholehah. Sebagai seorang istri, saya sudah menjalaninya selama 17 tahun. Semoga hingga jannah-Nya nanti, kami tetap bersama.
Sebagai anggota masyarakat, saya memilih peran menjadi seorang Solver. Profesi di mana seseorang membantu orang lain untuk menemukan jalan cahaya kehidupannya. Sesuai dengan tagline Solver, yaitu "Nyalakan Jalan Cahaya".
Dengan profesi ini saya ingin mengambil peran untuk membantu para wanita agar lebih berdaya, mandiri tapi tetap memahami posisinya sebagai seorang istri, ibu dan diri sendiri. Oleh karena inilah saya mengambil spesialisasi Solver sebagai "Woman Solver". Sesuai ajaran Islam, yang diterangkan dalam Al Quran, bahwa wanita adalah tiang negara. Baik wanitanya maka baik pula negaranya.
Dengan tagline "Be A Great Woman", saya ingin mengajak para wanita untuk berjuang menjalankan berbagai peranannya. Karena prinsip yang sesuai dengan ajaran Islam adalah "A Great Woman can create A Great Leader".
Kedua profesi ini saya peroleh dengan penuh perjuangan. Keinginan menjadi penulis berawal saat bertemu dengan seorang blogger cantik di sebuah komunitas tahun 2012. Tahun 2015, bertemu seorang mentor penulis di facebook. Mencoba ikut kelasnya agar bisa menerbitkan buku solo. Walau hingga tahun 2016, buku solo tersebut tidak pernah terbit.
Hingga di tahun 2018, saat  saya mantap mengambil Solver sebagai profesi, dengan perjuangan yang tidak mudah. Karena perjuangan meyakinkan suami bahwa dengan menjadi Solver adalah impian saya, membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Karena tekad yang kuat, maka Allah membuka hati suami untuk memberikan restu dan ridhanya kepada saya. Ya, ridha suami menjadi penentu keberhasilan saya. Seiring dengan perjalanan saya menempuh pendidikan Solver, profesi Writer mulai berkembang pula. Bagi saya, seorang Solver tanpa mempunyai karya tulisan belumlah sempurna.

 

Jumat, 21 Februari 2020

Catatan Hati Seorang Istri

 



Beberapa hari ini semua media baik tv maupun online menghadirkan berita mengenai meninggalnya seorang aktor yang juga suami seorang penyanyi. Si istri merasa terpukul dengan kepergian sang suami yang begitu mendadak. Gencarnya berita tersebut ditayangkan di media, mau tidak mau saya menjadi ikut terhanyut. Dampaknya saya menjadi penasaran lagi dengan sinetron yang dulu pernah dibintangi oleh aktor tersebut. Judul sinetron itu sama dengan judul tulisan saya ini, yaitu "Catatan Hati Seorang Istri".
Ditengah  keterhanyutan saya dengan berita terebut, saya menerima curahan hati dari dua  orang klien dengan pengalaman yang sama, yaitu ditinggal meninggal oleh sang belahan hati. Yang satu sudah ditinggal selama satu setengah tahun, sedangkan wanita yang satu lagi baru ditinggal sekitar lima (5) hari lalu. Hal ini menjadi alasan saya membuat tulisan ini.
Dan kondisi kedua klien tersebut saat ini sama-sama drop alias sakit karena mereka masih terus teringat akan hal-hal kecil yang manis yang suaminya lakukan. Saat ini mereka merasakan bahwa hal-hal kecil tersebut begitu dirindukan dan mereka sangat menyadari kalau itu tidak akan pernah mereka rasakan lagi. Perasaan merindu yang begitu dalam tanpa mampu mengungkapkannya membuat fisik menjadi drop. Tanpa daya, jiwa yang kehilangan pasangannya pun akhirnya ambruk, tak sanggup lagi menahan beban rindu yang semakin berat.
Sehingga benarlah kata Dilan kepada Milea, jangan rindu karena rindu itu berat. Dan saya sudah menyaksikan kenyataannya. Pengalaman berbagi ini membuat saya berpikir, seandainya saya berada di posisi kedua wanita tersebut, bagaimanakah kondisi saya? Apakah mampu tegar seperti mereka atau malah terpuruk tak berkesudahan?
Selama ini saya merasa biasa saja disaat berjauhan dengan suami. Mungkin dikarenakan kami terbiasa hidup terpisah dengan seringnya suami ditempatkan ke daerah oleh kantornya. Kondisi tersebut membuat saya menjadi istri yang lebih mandiri dalam artian meng-handle semua urusan rumah dan anak-anak sendiri, suami hanya tahu beres. Terus terang, selama saya menjadi istri, saya termasuk istri yang cukup abai kepada suami. Melayani keperluan suami berdasarkan permintaan, bukan karena kesadaran. Apalagi suami juga bukanlah tipikal suami yang menuntut istri itu harus full melayani. 
Kejutan-kejutan kecil yang diberikan suami, saya anggap biasa saja, sebagai kompensasi dari seringnya kami berjauhan. Perhatian-perhatian yang diberikan suami, terkadang saya anggap lebay, apalagi suami bukanlah termasuk orang yang romantis. Walaupun hal-hal tersebut membuat saya merasa senang juga, hehehe....
Namun dengan adanya berita meninggalnya sang aktor yang begitu mendadak dan gencarnya berita yang menunjukkan betapa terpuruknya sang istri namun harus tetap tegar demi anaknya, saya merasa diberikan "reminder" oleh Allah. Ditambah bertemu dengan dua orang klien yang mempunyai pengalaman yang sama, membuat saya tersadarkan betapa saya masih jauh menjadi istri yang baik untuk suami. Betapa saya masih menafikan cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh suami selama ini. 
Ditengah proses menulis ini, dari TV terdengar lagu "Cinta Sejati"nya BCL, membuat emosi saya semakin terhanyut. Saya pandangi suami yang sedang tertidur lelap, saya menyadari bahwa ternyata tak sanggup untuk kehilangan dia. Apapun yang pernah terjadi diantara kami, suka duka yang pernah kami lalui, nyatanya kami sudah menghabiskan waktu bersama lebih dari separuh usia kami.
Saya kian menyadari dan memahami, mengapa saya merasa biasa saja pada saat berjauhan dengan suami. Hal itu bukan disebabkan karena kami terbiasa berjauhan atau rasa cinta diantara kami memudar, namun lebih karena saya masih merasa bahwa walaupun suami jauh, namun dia akan kembali ke rumah. Saya tidak menyadari bahwa usia adalah hak prerogratif Allah, kapan saja Dia memanggil hambaNya, maka tak ada yang mampu menghalangi. Dan saya lupa bahwa itu bisa terjadi kapan saja kepada saya. Bisa saya yang duluan atau suami duluan, tapi intinya adalah sudah siapkah saya?
Jawabannya sudah pasti tidak akan pernah siap. Namun satu hal yang saya rasakan dari peristiwa-peristiwa tersebut diatas adalah betapa Allah begitu mencintai saya. DiberikanNya saya "reminder" agar saya menjadi istri yang lebih menyayangi, mencintai dan selalu bersyukur dengan semua cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh suami. Sehingga pada saatnya tiba nanti, entah siapa diantara kami yang lebih dulu dipanggilNya, saya tidak merasa menyesal karena tidak memberikan yang terbaik kepada suami. Satu hal yang saya inginkan saat tiba waktunya nanti, suami merasa bangga beristrikan saya.


*This is dedicated to my beloved husband who always support me in any moments any conditions. I love you with bunch of love, proud of you and im proud being your wife...

Minggu, 01 Desember 2019

Ketika Allah Berbicara




Image result for animasi transformasi seorang muslimah 
Maret 2009, 3 bulan setelah aku melahirkan, dengan tiba-tiba aku dimutasi ke bagian kredit. Bagian yang selalu aku hindari sejak awal aku bergabung dengan bank tempatku bekerja saat ini. Namun dengan dalih aku mempunyai bayi sehingga memerlukan tugas yang lebih fleksibel dibandingkan di cabang, maka Kepala Kantor Wilayah memutasiku ke bagian kredit mikro. Sungguh suatu mutasi yang langsung membuatku demotivasi karena aku tahu hatiku tidak pernah bisa kompromi untuk bagian ini.
Tiga bulan mengikuti pendidikan kredit mikro, aku ditempatkan di cabang tempat aku menjadi kepala sebelumnya. Dan ternyata memang di kredit mikro tugasku fleksibel, begitu juga dengan jam kerjanya. Awal-awal bulan jam kerjaku masih normal, tapi begitu cabang mikroku mulai berkembang, jam kerjaku mulai tidak normal. Aku menjadi semakin sering pulang malam walaupun keesokan harinya aku masih bisa berangkat agak siang ke kantor. Tapi tetap saja aku menjadi semakin jarang berinteraksi dengan suami dan anak-anakku.
Terkadang demi untuk menjaga bonding dengan anak-anak, aku membawa serta mereka beserta baby sitter nya ke kantorku. Sehingga walau jarang berinteraksi, bonding dengan mereka masih tetap terjaga. Namun tidak demikian halnya dengan suami. Semakin jarang berinteraksi semakin tidak nyambung komunikasi kami, yang menyebabkan sering munculnya kesalahpahaman diantara kami. Mulai dari hal sepele hingga hal besar yang hampir mengakibatkan rumah tangga kami bubar.
Aku nyaris gila. Disatu sisi, aku masih merasa kurang nyaman dengan bagian dimana aku dimutasi. Disisi lain, berbagai kesalahpahaman antara aku dan suami semakin sering terjadi.  Yang terkadang membuat anak-anak ketakutan karena mendengar pertengkaran-pertengkaran kami itu.
Di bulan Desember 2009, aku mendapatkan kabar yang membahagiakan. Di satu hari aku merasakan pusing dan mual sehingga setelah melakukan survey, aku tidak langsung kembali  ke kantor melainkan pergi rumah sakit untuk memeriksakan diri. Aku langsung menuju IGD dan hasil dari pemeriksaan fisik dan lab yang dilakukan, akhirnya dokter memberitahuku bahwa aku sedang hamil. Tak terhingga senangnya hatiku mendengarnya, dan sesudah pemeriksaan selesai aku kembali ke kantor. 
Suatu hari di akhir Januari 2010, menjelang keberangkatanku dan salah satu staf marketingku untuk survey, aku merasakan perutku agak mulas dan tidak enak. Kupikir aku ingin buang air besar sehingga kuputuskan untuk ke toilet dulu sebelum berangkat survey. Namun bukannya buang air melainkan flek yang keluar. Aku kaget dan segera keluar dari toilet. Kemudian minta diantarkan ke rumah sakit oleh stafku.
Hari itu, 5 minggu setelah aku diberitahukan kabar kehamilanku, aku harus mendengar kabar bahwa kehamilan tersebut tidak dapat dilanjutkan. Ya, janinku tidak sanggup mengikuti aktivitasku yang sungguh sibuk dan melelahkan di kantor sehingga akhirnya menyerah di usia kandungan jalan 13 minggu. Saat itu, didampingi suami, aku masih berusaha mempertahankan janinku. Walau dokter kandunganku mengatakan bahwa janinku sudah meninggal, tapi aku tidak mau percaya begitu saja. Aku tetap berkata bahwa aku akan terus mempertahankan bayiku ini.
Setelah berdebat, akhirnya dokter menyarankan aku untuk dirawat di rumah sakit. Dan ternyata memang benar, selama dirawat aku terus menerus pendarahan sehingga ketika dilakukan USG, aku harus menerima kenyataan bahwa janinku sudah hancur. Hasil USG hanya menampilkan kantong bayi yang sudah kosong. Akupun  menjalani kuretase untuk membersihkan rahimku. Selamat jalan anakku, maafkan bunda yang tidak mampu menjagamu bahkan sejak masih dalam kandungan. Keguguran ini cukup membuatku terpuruk cukup dalam.
Tiga bulan setelah kuretase, tepatnya di bulan April 2010, tiba-tiba aku merasakan mual-mual, rasanya seluruh isi perutku akan keluar. Ketika kulihat kalender yang terletak di mejaku, aku tersadar bahwasanya aku sudah terlambat menstruasi selama 2 minggu. Kuyakin bahwa mual-mual yang aku rasakan sekarang adalah akibat dari sedang tumbuhnya janin dalam rahimku. Dengan sedikit lemas, aku minta ijin ke atasanku untuk pulang. Namun ditengah perjalanan, kuputuskan untuk mampir di laboratorium dekat rumah untuk memastikan kebenaran perkiraanku.
Dan perkiraanku benar, hasil laboratorium menunjukkan aku positif hamil. Esok harinya, aku memeriksakan diri ke dokter kandunganku. Dokter memintaku untuk mengurangi aktivitas mengingat riwayat keguguran yg kualami sebelumnya, dan sebisa mungkin meminimalisir naik turun tangga.
Demi janinku, berbekal surat keterangan dokter aku mengajukan mutasi ke kantor cabang yang lokasinya mendekati kantor suamiku dan hanya satu lantai. Beruntung atasanku mempunyai istri yang sedang hamil juga, sehingga bisa memahami kondisi kehamilanku dan mau memindahkanku ke kantor cabang yang dimaksud.
Juni 2010,  3 bulan sudah usia kandunganku. Satu sore menjelang pulang kantor, setelah shalat ashar, aku tiba-tiba merasa demam dan perutku terasa kencang. Perasaanku tidak enak, aku yakin ada yang tidak beres dengan kandunganku. Teringat saat keguguran yang lalu, perutku terasa mulas. Aku menelepon suami untuk menemuiku di rumah sakit karena aku memutuskan untuk ke IGD. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kandunganku.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung di periksa dan dikonsul ke dokter kandunganku. Dari hasil pemeriksaan USG dan konsultasi, aku dinyatakan mengalami pendarahan dan diharuskan menjalani bedrest selama 2 minggu. Dengan perasaan tak menentu, aku menunggu suami menjemputku. 
Beberapa minggu menjalankan bedrest, pendarahanku bukannya membaik tapi semakin parah. Aku semakin stress dan bayangan keguguran lagi muncul dipelupuk mataku. Padahal kutahu bahwa aku seharusnya tenang agar janinku juga tenang, namun tak dapat kusangkal perasaan takut yang sangat besar ini.
Puncaknya di suatu maghrib, saat berbaring di tempat tidur aku tiba-tiba merasa panas dingin, badanku demam dan perutku sakit sekali, saking sakitnya aku tidak sanggup bersuara pada saat memanggil suami yang kebetulan sedang shalat maghrib. Dan aku tiba-tiba kehilangan kesadaranku. Aku tersadar kembali ketika suami memanggil-manggil namaku dengan cemas. Saat tersadar, betapa kagetnya ketika kulihat seluruh tempat tidur sudah menjadi lautan darah. Dan untuk kesekian kalinya, aku harus keguguran lagi 
Enam bulan setelah keguguran yang terakhir, yaitu di bulan Januari 2011, aku mendapatkan kabar gembira lagi. Hasil medical check up yang kulakukan menunjukkan aku sedang hamil. Tak percaya aku sampai minta kepastian kepada suami. Dan memang dibagian hasil laboratorium terdapat hasil positif untuk kehamilan. Alhamdulillah ya Allah, sungguh bahagianya aku masih dipercaya untuk dititipkan anak kembali.
Sebulan setelah hari itu, saatnya kontrol kandungan, ditemani mbaknya anak-anak aku menunggu antrian. Sudah 2 hari aku merasa lemas, bawaan bayi pikirku. Kuajak bicara janinku, kukatakan betapa aku sayang padanya. Sungguh kaget, saat dilakukan USG di layar komputer yang terlihat hanya kantong bayi padahal usia kandunganku sudah masuk 12 minggu. Dokter memintaku untuk periksa dalam, ketika suster sedang mempersiapkan kebutuhan periksa dalam, tiba2 perutku mulas sekali. Kukatakan pada suster bahwa perutku mulas, sesaat kemudian gumpalan darah keluar dari bagian bawah tubuhku. Betapa kagetnya aku, dan ketika dokter mengatakan bahwa aku keguguran lagi, aku sudah menjadi begitu skeptis.
Mengalami keguguran 2 kali berturut-turut membuatku tak mampu menangis lagi. Aku hanya bisa pasrah dan introspeksi diri apa yang salah dalam diriku sehingga aku harus mengalaminya lagi. Semua saran dokter sudah kuturuti, namun takdirNya jugalah yang menentukan.
Bulan Oktober 2011, akhirnya jadi juga aku mutasi ke bagian yang tidak bertentangan dengan nuraniku. Sejak pergi ke kantor pagi itu, aku merasakan pusing kepala. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, aku menelepon supir kantor untuk minta tolong memarkirkan mobilku di basement. Sesampainya di lobby, aku telepon temen supirku itu untuk mengantarku ke rumah sakit. Begitu sakitnya kepalaku menyebabkan kesadaranku hilang.
Setiba di rumah sakit, dokter IGD langsung memeriksaku dan hasilnya adalah aku sedang hamil lagi dan mengalami sedikit pendarahan. Aku harus bedrest total, tidak boleh turun sama sekali dari tempat tidur karena kehamilanku sangat berisiko mengingat riwayat keguguran berulang yang pernah aku alami. Aku senang bercampur takut mendengarnya, tapi aku bertekad apapun akan kulakukan untuk mempertahankan janinku kali ini. 
Di trimester pertama, aku mengalami pendarahan 4 kali dan 4 kali pula aku harus dirawat. Memasuki trimester kedua, ujianku bertambah. Setiap aku bergerak, perutku kontraksi sehingga keluar flek. Praktis dari awal kehamilan sampai usia kandungan 20 minggu aku tidak bisa beraktivitas apapun.
Pihak kantor tidak mau tahu dengan kondisiku dengan tetap memintaku untuk hadir di kantor. Sementara, dokter kandunganku sudah memvonis bahwa aku tidak boleh banyak bergerak apabila janinku ingin selamat. Disinilah ujian Allah, aku dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Akhirnya aku harus memutuskan antara karir dan kandunganku.
Dengan mengucapkan bismillah dan mengikhlaskan hati, aku meminta ijin kepada suami untuk resign dari pekerjaanku. Suami kaget bercampur terharu, dia menyerahkan sepenuhnya keputusan kepadaku karena menurutnya aku yang menjalani, dia support apapun keputusanku. Sebulan setelah resign, aku melahirkan. Rupanya bayiku ingin segera menghirup udara dunia, dia minta dilahirkan prematur di usia kandungan 32 minggu 3 hari melalui operasi caesar.
Ujianku belum berhenti, 2 jam setelah kelahirannya bayiku kritis karena paru-parunya tidak mengembang dan dirujuk ke sebuah rumah sakit khusus ibu dan anak. Sebelum aku sadar dari pengaruh obat bius, aku sudah dipisahkan dari bayiku. Hikmah dari terpisahnya aku dan bayiku, aku menjadi lebih cepat pulih dari operasi.
Pulang dari rumah sakit, aku langsung menengok bayiku. Dan sungguh ku tak sanggup menahan tangis melihat kondisinya yang dipenuhi berbagai selang. Kubisikkan kedatanganku dan memotivasinya terus berjuang untuk hidup. Setiap hari aku mendampingi bayiku untuk memberikan asi. Dengan kuasa dan ridhoNya, bayiku bisa melewati masa kritisnya dan setelah 1 bulan lebih dirawat bisa berkumpul kembali bersama kakak-kakaknya.
Sungguh peristiwa kelahiran dan kondisi bayiku menjadi salah satu titik balik hidupku. Aku semakin memantapkan diri untuk menjadi ibu rumah tangga yang merawat, mengasuh dan mengawasi anak-anakku sendiri sebagai balasan atas waktu kebersamaan yang hilang saat aku bekerja dahulu. Sejak kelahiran anak bungsuku ini, aku benar-benar mengalami metamorfosis. Dititik ini pula aku memutuskan untuk berhijab.
Banyak teman, kenalan maupun bekas kolegaku yang tidak percaya atas perubahan ini. Ya, semua orang yang mengenalku pasti tidak akan percaya dengan gaya hidupku sekarang. Jangankan mereka, diriku pun sempat tidak percaya dengan perubahan ini, tapi aku yakin Allah sangat menyayangiku sehingga Dia menegurku agar aku lebih fokus mencari akhirat. Sungguh indah caraNya berbicara kepadaku yang tidak juga mendengarkan teguran-teguranNya. Dia siapkan mentalku untuk menghadapi kehidupan baru sehingga aku tidak merasakan apa yang disebut dengan Post Power Syndrom disaat aku sudah berpaling kepadaNya saat Dia berbicara kepadaku. Sungguh nyata besarnya kasih sayangNya.

Sabtu, 30 November 2019

Impressive Communication for Couple

Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila  tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.
Menurut Professor Albert Mehrabian, yang menjadi pionir komunikasi sejak 1960an, komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang menarik dan interaktif antara pihak-pihak yang terkait atau yang disebut dengan Impressive Communication. Komunikasi ini meliputi :
  • Postur, gestur dan bahasa tubuh sebesar 55%
  • Tonalitas, warna nada, tempo dan volume sebesar 38%
  • Kata kunci dan gaya komunikasi sebesar 7%
Dalam sebuah rumah tangga, komunikasi adalah salah satu hal yang sangat berperan penting dalam menjalin sebuah hubungan suami-istri yang harmonis. Komunikasi menjadi sangat penting dikarenakan :
1.      Hubungan yang baik berawal dari saling bicara dan terbuka
2.      Bisa saling jujur dan percaya
3.      Meminimalkan salah paham
4.      Meningkatkan keintiman
5.      Menjadi pendengar yang baik
Namun tidak semua pasangan suami istri mengalami kelancaran komunikasi. Ada beberapa permasalahan yang menghambat komunikasi diantara suami istri, diantaranya :
1.     Dua kecenderungan
Secara teoritis, dalam setiap diri manusia memiliki dua kecenderungan kepribadian, yaitu sebagai pribadi terbuka (ekstrovert, yaitu mereka yang lebih mudah bergaul dan terbuka kepada orang lain ) dan pribadi tertutup (introvert, yaitu mereka yang lebih sulit bergaul dengan orang lain dan merasa lebih aman jika bersikap menutup diri terhadap orang lain).
2.     Saluran komunikasi terhambat
Jika dalam komunikasi itu salah satu saluran komunikasinya mampat atau tersumbat, maka informasi yang harusnya mengalir akan terhambat pula. Sedangkan lancar-tidaknya informasi mengalir, akan menentukan kualitas komunikasi di antara keduanya.  
3.     Beda persepi
Perbedaan persepsi pria dan wanita mengenai hal-hal yang dianggap perlu atau tidak perlu untuk diinformasikan.
4.     Didikan masa kecil
Sejak  kecil, laki-laki telah dibiasakan untuk tidak mengutarakan isi perasaan atau pikirannya kepada orang lain. Mereka telah dididik untuk mampu menahan semua itu, karena mereka dituntut untuk menjadi kuat. Sebaliknya perempuan, mereka dianggap wajar jika menangis atau mengeluh sekalipun, sebab mereka tak harus menjadi kuat.
Pasangan suami istri tidak hanya perlu mengetahui apa yang menjadi permasalahan dalam berkomunikasi, namun harus mengetahui berbagai jenis pola komunikasi yang menarik dan efektif. Menurut Farid Poniman dalam konsep STIFIn yang dikembangkannya, terdapat beberapa pola komunikasi yang menarik dan efektif berdasarkan genetik yaitu :
1.      Komunikasi dengan menggunakan bahasa yang jelas, runut dan detil disertai dengan contoh nyata (Genetiknya orang Sensing)
2.      Komunikasi dengan menggunakan bahasa yang logis, jelas sebab akibatnya, fokus pada konsekuensi dan tidak mengulang (Genetiknya orang Thinking)
3.      Komunikasi dengan menggunakan analogi/metafor, berbagai kemungkinan dan alternatif (Genetiknya orang Intuiting)
4.      Komunikasi dengan menggunakan perasaan, tentang kepedulian terhadap lawan bicara (Genetiknya orang Feeling)
5.      Komunikasi dengan menggunakan kata-kata yang to the point, bukan kata-kata bersayap, menjawab hanya apa yang ditanyakan (Genetiknya orang Insting)


Image result for animasi suami istri romantis
Setelah mengetahui apa yang menjadi permasalahan komunikasi diantara pasangan suami istri dan pola-pola komunikasi yang ada, maka seyogyanya sepasang suami istri harus mampu memahami pola komunikasi pasangannya. Menurut Ustadz Bendri, solusi dalam manajemen konflik rumah tangga ada 2, yaitu fahami pola asuh pasangan kita (fenotip) dan fahami juga genetiknya.
Mengapa harus memahami fenotip dan genetik pasangan? Karena fenotif adalah pola asuh, didikan atau lingkungan yang menjadikannya seperti saat ini. Dimana cara berkomunikasinya pun akan mengikuti fenotipnya. Sedangkan genetiknya adalah cara berkomunikasi yang memang sudah diberikan oleh Allah untuk masing-masing orang.
Apabila seseorang dididik di lingkungan yang sesuai dengan genetiknya, maka pola komunikasi yang menjadi fenotipnya akan sama dengan genetiknya. Sebaliknya, apabila seseorang dididik di lingkungan yang tidak sama dengan genetiknya, maka pola komunikasi yang dimiliknya akan menyerupai fenotipnya. Namun suatu saat nanti, pola komunikasi genetiknya akan muncul disaat orang tersebut sudah merasa tidak nyaman dengan fenotifnya.
Oleh karena itu penting bagi setiap orang untuk memahami fenotip dan genotif pasangannya masing-masing. Dengan demikian akan terjalin komunikasi yang menarik dan efektif dengan pasangan sehingga terciptalah  keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Sebuah keluarga yang menjadi dambaan setiap pasangan.