Rabu, 23 Agustus 2023
Wanita Kedua
Jumat, 14 Agustus 2020
Tradisi yang Menghilang

Ada beberapa tradisi yang biasa keluarga kami lakukan menjelang bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Sejak aku sudah bisa mengingat peristiwa yang ada di bumi ini hingga buyut, nenek dan ibuku meninggal, kami selalu melakukannya. Namun saat buyutku meninggal, ada tradisi yang mulai tidak dilakukan. Setelah nenekku meninggal, beberapa tradisi menghilang. Dan sejak ibuku meninggal 4 tahun lalu, semua tradisi yang dulu kami lakukan benar-benar menghilang.
Terus terang aku sangat merindukan tradisi-tradisi tersebut. Ingin rasanya menghidupkan semua tradisi tersebut. Namun sepertinya kondisi yang ada tidak menunjang untukku melakukan berbagai tradisi jaman aku kecil. Tapi kalau aku mau berusaha, beberapa tradisi yang masih relevan dengan zaman sekarang bisa saja aku lakukan bersama anakku.
Dulu, saat aku masih kecil, menjelang Ramadhan kami mempunyai tradisi berziarah atau 'nyekar' ke makam-makam leluhur kami. Mulai yang berada di pemakaman kota sampai yang di kampung. Semua makam leluhur kami ziarahi. Aku paling suka saat moment menabur bunga.
Bunga-bunga yang kami tabur adalah hasil dari aneka bunga yang ditanam nenekku di pekarangan rumah. Kami tidak terbiasa membeli bunga tabur di areal pemakaman. Makanya bunga-bunga yang ditabur di makam leluhur kami biasanya berbeda dengan bunga-bunga yang ada di makam lainnya. Ziarah kubur biasanya kami lakukan seminggu sebelum Ramadhan.
Pada hari pertama Ramadhan, kami sekeluarga wajib berbuka puasa di rumah. Jadi saudara-saudara yang tinggal di luar kota biasanya pulang kampung untuk 'munggahan'. Sebutan yang kami berikan untuk acara buka bersama di hari pertama puasa. Tidak ada yang berani melanggar tradisi tersebut. Karena dipastikan akan mendapat wejangan panjang lebar dari buyut kami.
Saat masih ada buyutku, sejak hari pertama puasa, kami sudah mulai membuat aneka penganan untuk Idul Fitri nanti. Dimulai dari keripik ketan hitam, kerupuk gendar, kue satu, kue rangi, rengginang aneka rasa, kecimpring, kue kembang goyang, aneka kue kering diakhir oleh kue bolu dan puding santan saat malam takbiran.
Setiap hari kami membuat aneka penganan tersebut. Hingga nyaris aku tidak pernah merasakan lapar dan haus saat melaksanakan puasa karena sibuk membantu buyut dan nenekku membuat aneka penganan tersebut. Apalagi sehari menjelang Idul Fitri, buyut dan nenekku sudah sibuk membuat ketupat. Rasanya enak sekali karena ketupatnya dibuat diatas perapian bukan kompor. Wangi daun kelapanya dan warna kemerahannya membuat kami para cucu beliau sangat menggemari ketupatnya.
Setelah buyutku meninggal, tradisi membuat aneka keripik dan rengginang mulai tidak dilakukan. Nenekku hanya meneruskan tradisi membuat aneka kue kering dan makanan menjelang malam takbiran saja. Karena berkurangnya kesibukanku diawal Ramadhan, maka nenekku memasukkan aku ke sekolah agama. Maksudnya agar aku tetap ada kesibukan untuk mengisi liburan Ramadhanku.
Zaman aku kecil dulu, setiap bulan Ramadhan, sekolah libur sebulan lebih. Kami baru masuk sekolah lagi seminggu setelah Lebaran. Namun selama liburan tersebut kami tetap ada tugas yang harus dikumpulkan saat masuk kembali ke sekolah nanti. Ramadhan masa kecilku dulu benar-benar terasa menyenangkan.
Tradisi-tradisi tersebut tetap dilakukan sampai aku menikah dan mempunyai anak. Namun, setelah nenekku meninggal, tradisi membuat kue bolu dan puding santan saat malam takbiran, tidak pernah dilakukan lagi. Ibuku meneruskan tradisi membuat kue kering, walau macamnya tidak sebanyak yang nenekku buat, dan masak di malam takbiran. Tanpa kue bolu dan puding santan. Aku mulai kehilangan tradisi tersebut, namun memaklumi karena tidak mungkin ibuku melakukannya sendiri.
Ya, kami anak-anaknya sudah berumah tangga. Jarang kami bisa berkumpul secara komplit pada hari Lebaran karena kami biasa bergantian untuk berlebaran di mertua-mertua kami. Sehingga tidak mungkin bagi kami untuk selalu membantu mama memasak saat malam takbiran. Zaman sudah berubah, tradisi pun ikut berubah.
Setelah ibuku meninggal, semua tradisi tersebut tidak lagi dilakukan di keluarga besar kami. Aku benar-benar merasa kehilangan. Namun memang kondisi juga tidak memungkinkan. Beberapa kali aku mencoba menghidupkan kembali tradisi membuat kue kering dan kue bolu dirumahku, tapi rasanya tetap berbeda dengan masa kecil aku dulu.
Aku rindu masa-masa membantu buyut dan nenekku membuat aneka penganan Lebaran. Aku rindu dengan segala kebiasaan yang kami lakukan dulu. Mungkinkah aku menghidupkan lagi tradisi-tradisi tersebut di keluarga kecilku ini?
Selasa, 30 Juni 2020
Kesalahan sebagai Salah Satu Bagian dari Proses Belajar.
Bullying merupakan salah satu bentuk kekerasan yang dilakukan oleh satu atau sekelompok orang yang dengan sengaja melakukan tindakan-tindakan yang bersifat negatif secara berulang kali yang tujuannya untuk menyakiti, merendahkan atau menjatuhkan harga diri orang lain. Bullying terjadi karena ada kesenjangan kekuatan antara pelaku dan korbannya. Demikian penjelasan mengenai bullying yang disampaikan oleh salah seorang dosen Psikologi Ubaya dalam salah satu artikel di website Ubaya pada tanggal 3 Juni 2014.
Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang melakukan bullying. Salah satunya adalah karena memiliki Salah satunya adalah karena memiliki pengalaman masa lalu yang sama. Selain itu, orang tua juga memegang peranan penting dalam perilaku bullying. Pola asuh orang tua yang otoriter dan sering menggunakan hukuman fisik akan membuat si anak meniru perbuatan tersebut dan mempraktekannya kepada temannya. Sehingga muncullah perilaku bullying.
Terkait bullying ini, aku mempunyai beberapa pengalaman yang dialami oleh anak-anakku. Hal ini disebabkan oleh didikanku yang cukup keras (walau jauh dari otoriter) dalam hal memberikan target pendidikan kepada anak-anak. Pola asuh yang demikian menyebabkan anak-anakku mengalami bullying dari teman-temannya. Hal ini dikarenakan rendahnya kepercayaan diri mereka akibat dari tingginya tuntutanku akan prestasi mereka.
Pengalaman bullying di sekolah pertama kali dialami oleh anakku yang kedua pada saat kelas 3 SD. Akibat bullying tersebut dia sampai tidak bisa berjalan selama lebih dari 6 bulan dan meninggalkan pelajaran di sekolah hampir 1 tahun. Beruntung anakku termasuk anak yang berprestasi, jadi walau tidak bisa masuk sekolah dia masih mampu memahami pelajaran dari bukku-buku paket yang dia miliki. Dan pihak sekolahpun bersedia memberikan dispensasi terkait kondisi anakku tersebut.
Pengalaman bullying kedua dialami oleh anak ketigaku. Dia mengalaminya pada saat awal masuk Sekolah Dasar. Memang kesalahanku yang menyekolahkannya terlalu muda yang nota bene secara mental belum matang untuk menerima pelajaran di SD. Saat itu anakku baru berusia 5,5 tahun, masih dibawah standar masuk SD yaitu 6 tahun. Namun dikarenakan ambisiku yang menginginkan anakku segera sekolah, maka sejak usia 2,5 tahun anakku itu sudah masuk sekolah Play Group.
Saat itu aku masih awam terhadap yang namanya parenting, aku terlalu fokus dalam mengejar karir. Dan salah satu alasan anakku cepat-cepat disekolahkan adalah agar anakku ada yang menjaga selama aku bekerja. Sungguh pemikiran yang picik untuk seorang ibu, namun saat itu keputusan itulah yang ideal menurutku.
Seandainya saat itu aku mau mempelajari ilmu parenting, tentu aku akan lebih peka terhadap perilaku anak-anak. Sehingga anak keduaku tidak akan mengalami peristiwa yang menyakitkan tersebut. Namun nasi sudah menjadi bubur, aku tidak mau menyesali apa yang sudah terjadi. Sejak peristiwa bullying anak keduaku tersebut, aku sudah bertekad akan mempelajari ilmu parenting dimanapun itu berada.
Dalam proses menebus kesalahanku kepada anak keduaku, terjadi peristiwa bullying kepada anakku. Lagi-lagi aku membuat kesalahan. Apabila sebelumnya kesalahanku adalah terlalu sibuk bekerja sehingga kurang peduli terhadap pengasuhan anak-anak. Kali ini kesalahanku adalah terlalu fokus belajar ilmu parenting sehingga aku kerap meninggalkan rumah untuk mengejar ilmu tersebut ke berbagai tempat. Alhasil, bukannya anak-anak dididik dan diasuh dengan baik tapi malah mendapatkan pengalaman bullying lagi.
Saat itu aku terlalu sibuk mengejar ilmu namun lupa mempraktekannya. Dan sejak anak ketigaku menjadi korban bullying juga, aku mulai merasakan ada yang salah dengan diriku. Sampai akhirnya aku memutuskan menemui temanku yang berprofesi sebagai psikolog untuk mencari tahu apa sebenarnya yang salah pada diriku. Namun hasil analisa temanku itu menunjukkan aku baik-baik saja, hanya aku yang terlalu merasa bersalah sehingga berambisi untuk menguasai seluruh ilmu parenting yang ada di dunia ini sehingga melupakan hal yang paling mendasar dari sebuah ilmu. Yaitu mempraktekkan ilmu tersebut.
Analisa temanku tersebut membuat aku tersentak sadar. Aku bertekad akan memperbaiki semuanya. Temanku tersebut memberikan saran agar aku memperbaiki diri sendiri dulu sebelum memperbaiki pengasuhan kepada anak-anakku. Karena menurutnya sebaik apapun metode pengasuhan yang diterapkan kepada anak-anak tapi apabila sang ibu masih belum beres dengan dirinya sendiri, maka hasil pengasuhannya pun tidak akan baik. Sesungguhnya baik buruknya hasil pengasuhan tergantung kepada sang ibu.
Memang benar apa yang diajarkan dalam agama Islam. Baik buruk suatu generasi ditentukan oleh kualitas wanitanya. Apabila wanitanya baik maka akan dihasilkan generasi yang baik. Sebaliknya apabila wanitanya tidak baik maka generasi yang dihasilkan akan tidak baik juga. Begitupun yang terjadi dalam sebuah keluarga. Apabila sang ibu baik lahir bathinnya, maka akan dihasilkan anak-anak yang sholeh dan sholehah.
Merasa tertampar oleh analisa temanku tersebut, aku semakin membulatkan tekad untuk tidak sekedar belajar ilmu parenting dan mempraktekannya, namun juga akan menjadi seorang konsultan parenting. “Tamparan” tersebut membuahkan sebuah tekad yang mulia, dan saat ini aku masih berproses ke arah sana.
Senin, 15 Juni 2020
Dinamika Belajar di Rumah : Happy Learning
Tahun 2020 merupakan tahun yang tak akan terlupakan sepanjang masa oleh seluruh manusia di bumi ini. Betapa tidak, awal tahun ini diwarnai oleh pandemi yang bernama Covid-19. Berbagai negara di penjuru dunia menerapkan lockdown atau isolasi. Baik itu di level negara, kota, maupun perumahan. Semua dilakukan untuk mencegah penyebaran virus yang menjadi penyebab utamanya Covid-19, yaitu virus corona.
Penerapan lockdown menyebabkan berhentinya berbagai aktivitas manusia, salah satunya adalah kegiatan belajar mengajar (KBM). Seluruh negara sepakat bahwa KBM di sekolah menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam penyebaran virus Covid-19. Apalagi di jenjang TK dan SD, dimana anak-anak masih belum memahami sepenuhnya bagaimana melakukan pembatasan sosial. Yang akhirnya dibuatlah keputusan penyelenggaraan KBM secara daring atau belajar di rumah.
Pelaksanaan KBM secara daring ternyata menimbulkan banyak keluhan dari berbagai pihak, terutama orang tua siswa. Mereka yang terbiasa hanya mendampingi anak-anaknya mengerjakan tugas sekolah, kini dengan belajar di rumah ini harus mampu mengajarkan berbagai materi pelajaran dan tugas yang diberikan kepada anak, yang sebelumnya tidak sempat dijelaskan gurunya di sekolah. Waktu mereka yang biasanya dihabiskan untuk mengurus segala pernak pernik urusan rumah tangga, kini tersita hanya untuk menemani dan membimbing anak-anaknya belajar di rumah.
Alhamdulillah selama masa belajar di rumah ini, saya dan anak-anak hampir tidak merasakan hal tersebut diatas. Hal ini dikarenakan saya menerapkan cara belajar sesuai dengan genetik mereka masing-masing, sehingga mereka bisa belajar di rumah secara nyaman dan santai walaupun menghadapi materi pelajaran yang belum diajarkan oleh gurunya.
Penting bagi kita sebagai orang tua untuk memahami cara belajar anak. Tidak setiap anak mampu memahami pelajaran yang diberikan secara daring. Oleh karenanya kita sebagai orang tua harus mampu mengatur strategi agar anak kita dapat melewati masa belajar di rumah ini dengan nyaman, kadar stress dan tingkat kebosanan yang minimal.
Hal tersebut membutuhkan usaha baik dari orang tua maupun anak. Orang tua harus mengingat-ingat kembali pelajaran jaman sekolah dulu yang nota bene sudah menguap entah kemana. Tanpa strategi yang baik, orang tua dalam hal ini ibu akan kerepotan dalam membuat manajemen waktu antara mengurus rumah dan mendampingi anak belajar daring.
Anak juga harus berjuang memahami materi pelajaran yang baru baginya, yang gurunya tidak sempat jelaskan di sekolah. Memahami pelajaran baru bisa menimbulkan tekanan tersendiri kepada anak, apalagi tambahan tugas-tugas yang materinya belum mereka kuasai. Kondisi ini akan membuat anak menjadi semakin tertekan.
Dalam laman merdeka.com tanggal 25 April 2020, Kak Seto selaku Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia mengakui banyak anak-anak yang mengalami stress setelah menjalani pembelajaran di rumah. Hal ini dikarenakan si anak harus belajar bersama orang tuanya. Salah satu penyebabnya adalah cara orang tua dalam menghadapi anak-anaknya dikala tiba-tiba harus menjadi guru di rumah.
Menurut Kak Seto, anak-anak merasa tertekan karena orang tua cenderung melakukan pemaksaan dalam memberikan penjelasan materi pelajaran. Walaupun sebenarnya pemaksaan ini bertujuan agar anak-anak memahami materi yang diberikan. Cara yang berbeda yang mereka terima di sekolah saat diajari oleh para gurunya.
Kondisi-kondisi diatas tidak akan terjadi apabila orang tua memahami gaya belajar anak-anaknya secara genetik. Terkadang ada orang tua yang merasa bahwa gaya belajar anaknya adalah audio karena lebih suka mendengarkan. Namun belum tentu seperti itu karena lingkungan tempat si anak tinggal juga berpengaruh terhadap gaya belajarnya. Namun gaya belajar yang dipengaruhi lingkungan ini tidak akan memberikan hasil yang optimal, karena bukan genetik mereka.
Gaya belajar yang sesuai dengan genetik si anak akan memberikan hasil yang lebih maksimal. Anak akan merasa nyaman karena belajar dengan gayanya sendiri, orang tua pun tidak stress karena bingung bagaimana menyuruh anak untuk belajar. Gaya belajar sesuai genetik ini sangat membantu orang tua di masa belajar di rumah ini.
Bagaimana caranya agar orang tua mengetahui gaya belajar anak yang sesuai dengan genetiknya? Tentu saja tidak dengan serta merta orang tua memahaminya, harus dilakukan sebuah tes. Ada berbagai macam test untuk mengetahui karakter anak, namun hanya satu yang hasilnya adalah karakter genetik anak, yaitu STIFIn. Genetik disini bukan berarti turunan dari orang tuanya, tapi lebih kepada bawaan lahir. Karena karakter genetik ini tidak diturunkan oleh orang tuanya, bahkan anak kembar pun bisa memiliki karakter genetik yang berbeda.
Tahun 2009, anak pertama dan kedua saya melakukan tes STIFIn di sekolah TK nya. Saat itu menjelang kenaikan kelas. Anak pertama akan masuk SD, anak kedua akan naik ke TK B. Dari hasil tes tersebut, saya jadi mengetahui karakter genetik mereka. Dan menjadi panduan saya dalam mendidik mereka. Kepada setiap walikelasnya pun, saya selalu menjelaskan gaya belajar mereka. Sehingga para guru memahami bagaimana memotivasi mereka untuk belajar. Hasilnya anak-anak selalu berada didalam 5 besar terbaik di kelasnya.
Anak ketiga saya dites STIFIn pada tahun 2013, di awal kelas 1 SD. Setiap kenaikan kelas, saya jelaskan bagaimana gaya belajarnya kepada walikelas. Walaupun minat bakatnya bukan di akademik, namun anak saya tersebut bisa memperoleh nilai akademis melampaui KKM yang ditetapkan.
Anak keempat saya dites STIFIn pada tahun 2018, menjelang masuk SD. Sampai saat ini guru-guru yang mengajarnya mengatakan bahwa mengajar anak saya tersebut tidak membuat pusing kepala karena sudah tau celahnya. Seperti halnya dengan kakak-kakaknya, hasil tes STIFIn anak saya ini juga dijelaskan kepada walikelasnya agar mereka memahami gaya belajar anak saya tersebut. Walaupun tampak seperti tidak mengikuti pelajaran, namun nilai-nilai yang dicapainya mengesankan. Bahkan di sempat meraih nilai terbaik di kelasnya.
Dan dimasa pandemi ini, saya benar-benar merasakan manfaatnya. Dengan berbagai tugas, ujian dan materi-materi pelajaran yang belum sempat dijelaskan di kelas, saya terapkan gaya belajar menurut genetik ini kepada anak-anak saya. Sehingga saya masih tetap bisa mengurus rumah seperti saat mereka di sekolah, memasak sesuai waktunya seperti sebelum ada pandemi.
Keempat anak saya bisa saling berkolaborasi dalam melakukan pembelajaran di rumah ini. Sejak mengetahui karakter genetik masing-masing anak, saya memang sudah menjelaskan kepada mereka bagaimana karakter dia dan saudara-saudaranya. Bagaimana cara belajar masing-masing, sehingga saat pembelajaran di rumah mereka bisa kompak melakukannya dengan nyaman dan santai.
Anak-anak bisa melakukan “happy learning” dalam kebersamaan yang selama ini jarang dirasakan akibat dari kesibukan di sekolah masing-masing. Si kakak bisa membantu menjelaskan materi pelajaran kepada si adik. Sebaliknya, si adik bisa membantu si kakak untuk tugas-tugas terkait prakarya. Sungguh suasana yang menyenangkan untuk kita sebagai orang tua, bukan?
Oleh karena itu, saya menyarankan agar para orang tua mengetahui karakter genetik anaknya. Karena bukan hanya bermanfaat untuk selama masa pendemi saja, namun juga untuk sepanjang kehidupan mereka. Saya sudah merasakan manfaat tes pengenalan karakter yang sudah dilakukan kepada anak-anak. Harapan saya, para orang tua yang lain pun bisa merasakan hal yang sama.
Kesuksesan seorang anak adalah hasil dari pemahaman orang tua terhadap karakter si anak. Sehingga si anak akan dididik dan dibimbing sesuai dengan karakternya. Anak dan orang tua akan merasakan kenyamanan dan kelekatan, sehingga terciptalah yang namanya “Happy Learning dalam Kebersamaan”.
