Tampilkan postingan dengan label Rumah Tangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah Tangga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Agustus 2023

Wanita Kedua

"Aku harus pulang dulu, Sayang. Istriku sudah menanti kepulanganku. Biasanya aku sudah tiba di rumah pukul 21, sekarang sudah hampir tengah malam aku belum pulang."
Lelaki itu berkata seraya kedua tangannya memegang wajah wanita cantik di hadapannya.
Sinar redup dan berkaca yang tampak dari mata wanitanya itu membuatnya berat untuk pergi, tetapi dia harus pulang. Istri dan anaknya sudah menunggunya di rumah.
"Kamu mencintaiku, Mas?"
Wanita itu mengucapkan pertanyaan yang sebenarnya dia pun sudah mengetahui jawabannya. Namun, tetap juga keluar kalimat itu untuk sekedar meyakinkan perasaannya.
Perasaan yang hinggap di hati yang salah sehingga entah bagaimana ujung perasaannya ini nanti. Yang dia tahu, setiap berada di dekat lelaki itu, perasaan nyaman dan bahagia selalu meliputinya. Walaupun pertemuan mereka selalu diakhiri dengan luruhnya air dari matanya serta pertanyaan retoris tadi.
Mendengar pertanyaan wanitanya yang selalu berulang, hati lelaki itu bagaikan ditusuk oleh ribuan duri beracun. Sakit dan mematikan. Namun dia memang tak berdaya. Takdir mempertemukannya dengan cintanya ini di saat dia sudah memiliki hati yang lain.
"Kamu tahu apa yang kurasakan, Sayang. Kamu tahu betapa sakitnya hati ini setiap kali melihat embun di matamu," kata lelaki itu sambil menciumi mata wanitanya yang terpejam.
Menjadi wanita kedua apapun alasannya tidak pernah membuat seorang wanita mendapat predikat wanita baik-baik. Namun, terkadang dunia terlalu senang bercanda sehingga cinta sejati muncul ketika cinta yang lain sudah hadir sebelumnya.
Tapi apakah cinta yang seperti ini masih bisa disebut cinta sejati? 
Apakah benar bahwa cinta sejati tidak selalu harus memiliki?
Namun, mengapa cinta sejati harus semenyakitkan ini?
Aku tidak pernah ingin menjadi wanita kedua bagi siapapun, begitupun aku tidak ingin kalau suamiku memiliki wanita kedua. Namun, takdir memiliki sense of humour yang tinggi, yang menjadikanku tokoh sentral di sesi open mic-nya dengan tema Wanita Kedua.
Menjalani peran sebagai wanita kedua bagaikan naik roller coaster dalam kehidupan. Siang hari aku menjadi aktris yang berperan sebagai wanita kedua, malam hari aku menjalani peran dunia nyataku sebagai istri yang baik untuk suamiku.
Menjalani dua peran ini sungguh melelahkan, tetapi hatiku dan hatinya sepertinya sudah tidak sanggup untuk saling melepaskan. Hati kami sudah sangat saling terpaut, lebih erat ikatannya dibandingkan dengan suamiku.
Sayangku, sampai kapan peran ini harus kujalani?
Sungguh aku sudah lelah, tak tahu apakah aku sanggup menjalaninya hingga akhir kita. 
Aku minta kamu untuk melepasku karena aku lebih tidak sanggup lagi untuk melepasmu. Logikaku selalu hilang setiap itu berkaitan dengan dirimu.
Tuhan, aku lelah sangat, aku ingin pergi sejauh mungkin, lepas dari semua kenyataan ini.
"Mas, aku sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya," tulisku kepada lelakiku melalui aplikasi pesan.
Dengan perasaan hancur, akhirnya aku memutuskan untuk melepas lelakiku, cinta sejatiku.
Walaupun hatiku menjadi hampa, setidaknya dia tidak lagi merasakan kelelahan.
Aku akan mencoba menghadapi kenyataan bersama lelaki yang sudah Allah takdirkan bersamaku, berharap di akhirat nanti Dia pertemukan aku kembali dengan lelaki cinta sejatiku dan menjadi jodoh akhiratku.
"Sayang, walaupun kita saling mencintai, tetapi dengan melepasmu bukan berarti cintaku padamu hilang. Justru karena aku sangat mencintaimu, aku harus melepasmu agar beban hatimu menjadi lebih ringan dan kamu bisa fokus kepada dia yang sudah berada di sisimu selama ini."

Jumat, 14 Agustus 2020

Tradisi yang Menghilang

 Gambar mungkin berisi: makanan

 

 Ada beberapa tradisi yang biasa keluarga kami lakukan menjelang bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Sejak aku sudah bisa mengingat peristiwa yang ada di bumi ini hingga buyut, nenek dan ibuku meninggal, kami selalu melakukannya. Namun saat buyutku meninggal, ada tradisi yang mulai tidak dilakukan. Setelah nenekku meninggal, beberapa tradisi menghilang. Dan sejak ibuku meninggal 4 tahun lalu, semua tradisi yang dulu kami lakukan benar-benar menghilang.
Terus terang aku sangat merindukan tradisi-tradisi tersebut. Ingin rasanya menghidupkan semua tradisi tersebut. Namun sepertinya kondisi yang ada tidak menunjang untukku melakukan berbagai tradisi jaman aku kecil. Tapi kalau aku mau berusaha, beberapa tradisi yang masih relevan dengan zaman sekarang bisa saja aku lakukan bersama anakku.
Dulu, saat aku masih kecil, menjelang Ramadhan kami mempunyai tradisi berziarah atau 'nyekar' ke makam-makam leluhur kami. Mulai yang berada di pemakaman kota sampai yang di kampung. Semua makam leluhur kami ziarahi. Aku paling suka saat moment menabur bunga.
Bunga-bunga yang kami tabur adalah hasil dari aneka bunga yang ditanam nenekku di pekarangan rumah. Kami tidak terbiasa membeli bunga tabur di areal pemakaman. Makanya bunga-bunga yang ditabur di makam leluhur kami biasanya berbeda dengan bunga-bunga yang ada di makam lainnya. Ziarah kubur biasanya kami lakukan seminggu sebelum Ramadhan.
Pada hari pertama Ramadhan, kami sekeluarga wajib berbuka puasa di rumah. Jadi saudara-saudara yang tinggal di luar kota biasanya pulang kampung untuk 'munggahan'. Sebutan yang kami berikan untuk acara buka bersama di hari pertama puasa. Tidak ada yang berani melanggar tradisi tersebut. Karena dipastikan akan mendapat wejangan panjang lebar dari buyut kami.
Saat masih ada buyutku, sejak hari pertama puasa, kami sudah mulai membuat aneka penganan untuk Idul Fitri nanti. Dimulai dari keripik ketan hitam, kerupuk gendar, kue satu, kue rangi, rengginang aneka rasa, kecimpring, kue kembang goyang, aneka kue kering diakhir oleh kue bolu dan puding santan saat malam takbiran.
Setiap hari kami membuat aneka penganan tersebut. Hingga nyaris aku tidak pernah merasakan lapar dan haus saat melaksanakan puasa karena sibuk membantu buyut dan nenekku membuat aneka penganan tersebut. Apalagi sehari menjelang Idul Fitri, buyut dan nenekku sudah sibuk membuat ketupat. Rasanya enak sekali karena ketupatnya dibuat diatas perapian bukan kompor. Wangi daun kelapanya dan warna kemerahannya membuat kami para cucu beliau sangat menggemari ketupatnya.
Setelah buyutku meninggal, tradisi membuat aneka keripik dan rengginang mulai tidak dilakukan. Nenekku hanya meneruskan tradisi membuat aneka kue kering dan makanan menjelang malam takbiran saja. Karena berkurangnya kesibukanku diawal Ramadhan, maka nenekku memasukkan aku ke sekolah agama. Maksudnya agar aku tetap ada kesibukan untuk mengisi liburan Ramadhanku.
Zaman aku kecil dulu, setiap bulan Ramadhan, sekolah libur sebulan lebih. Kami baru masuk sekolah lagi seminggu setelah Lebaran. Namun selama liburan tersebut kami tetap ada tugas yang harus dikumpulkan saat masuk kembali ke sekolah nanti. Ramadhan masa kecilku dulu benar-benar terasa menyenangkan.
Tradisi-tradisi tersebut tetap dilakukan sampai aku menikah dan mempunyai anak. Namun, setelah nenekku meninggal, tradisi membuat kue bolu dan puding santan saat malam takbiran, tidak pernah dilakukan lagi. Ibuku meneruskan tradisi membuat kue kering, walau macamnya tidak sebanyak yang nenekku buat, dan masak di malam takbiran. Tanpa kue bolu dan puding santan. Aku mulai kehilangan tradisi tersebut, namun memaklumi karena tidak mungkin ibuku melakukannya sendiri.
Ya, kami anak-anaknya sudah berumah tangga. Jarang kami bisa berkumpul secara komplit pada hari Lebaran karena kami biasa bergantian untuk berlebaran di mertua-mertua kami. Sehingga tidak mungkin bagi kami untuk selalu membantu mama memasak saat malam takbiran. Zaman sudah berubah, tradisi pun ikut berubah.
Setelah ibuku meninggal, semua tradisi tersebut tidak lagi dilakukan di keluarga besar kami. Aku benar-benar merasa kehilangan. Namun memang kondisi juga tidak memungkinkan. Beberapa kali aku mencoba menghidupkan kembali tradisi membuat kue kering dan kue bolu dirumahku, tapi rasanya tetap berbeda dengan masa kecil aku dulu.
Aku rindu masa-masa membantu buyut dan nenekku membuat aneka penganan Lebaran. Aku rindu dengan segala kebiasaan yang kami lakukan dulu. Mungkinkah aku menghidupkan lagi tradisi-tradisi tersebut di keluarga kecilku ini?

 

Selasa, 30 Juni 2020

Kesalahan sebagai Salah Satu Bagian dari Proses Belajar.

                 Bullying merupakan salah satu bentuk kekerasan yang dilakukan oleh satu atau sekelompok orang yang dengan sengaja melakukan tindakan-tindakan yang bersifat negatif secara berulang kali yang tujuannya untuk menyakiti, merendahkan atau menjatuhkan harga diri orang lain. Bullying terjadi karena ada kesenjangan kekuatan antara pelaku dan korbannya. Demikian penjelasan mengenai bullying yang disampaikan oleh salah seorang dosen Psikologi Ubaya dalam salah satu artikel di website Ubaya pada tanggal 3 Juni 2014.

                 Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang melakukan bullying. Salah satunya adalah karena memiliki Salah satunya adalah karena memiliki pengalaman masa lalu yang sama. Selain itu, orang tua juga memegang peranan penting dalam perilaku bullying. Pola asuh orang tua yang otoriter dan sering menggunakan hukuman fisik akan membuat si anak meniru perbuatan tersebut dan mempraktekannya kepada temannya. Sehingga muncullah perilaku bullying.

            Terkait bullying ini, aku mempunyai beberapa pengalaman yang dialami oleh anak-anakku. Hal ini disebabkan oleh didikanku yang cukup keras (walau jauh dari otoriter) dalam hal memberikan target pendidikan kepada anak-anak. Pola asuh yang demikian menyebabkan anak-anakku mengalami bullying dari teman-temannya. Hal ini dikarenakan rendahnya kepercayaan diri mereka akibat dari tingginya tuntutanku akan prestasi mereka.

            Pengalaman bullying di sekolah pertama kali dialami oleh anakku yang kedua pada saat kelas 3 SD. Akibat bullying tersebut dia sampai tidak bisa berjalan selama lebih dari 6 bulan dan meninggalkan pelajaran di sekolah hampir 1 tahun. Beruntung anakku termasuk anak yang berprestasi, jadi walau tidak bisa masuk sekolah dia masih mampu memahami pelajaran dari bukku-buku paket yang dia miliki. Dan pihak sekolahpun bersedia memberikan dispensasi terkait kondisi anakku tersebut.

Pengalaman bullying kedua dialami oleh anak ketigaku. Dia mengalaminya pada saat awal masuk Sekolah Dasar. Memang kesalahanku yang menyekolahkannya terlalu muda yang nota bene secara mental belum matang untuk menerima pelajaran di SD. Saat itu anakku baru berusia 5,5 tahun, masih dibawah standar masuk SD yaitu 6 tahun. Namun dikarenakan ambisiku yang menginginkan anakku segera sekolah, maka sejak usia 2,5 tahun anakku itu sudah masuk sekolah Play Group.

            Saat itu aku masih awam terhadap yang namanya parenting, aku terlalu fokus dalam mengejar karir. Dan salah satu alasan anakku cepat-cepat disekolahkan adalah agar anakku ada yang menjaga selama aku bekerja. Sungguh pemikiran yang picik untuk seorang ibu, namun saat itu keputusan itulah yang ideal menurutku.

            Seandainya saat itu aku mau mempelajari ilmu parenting, tentu aku akan lebih peka terhadap perilaku anak-anak. Sehingga anak keduaku tidak akan mengalami peristiwa yang menyakitkan tersebut. Namun nasi sudah menjadi bubur, aku tidak mau menyesali apa yang sudah terjadi. Sejak peristiwa bullying anak keduaku tersebut, aku sudah bertekad akan mempelajari ilmu parenting dimanapun itu berada.

            Dalam proses menebus kesalahanku kepada anak keduaku, terjadi peristiwa bullying kepada anakku. Lagi-lagi aku membuat kesalahan. Apabila sebelumnya kesalahanku adalah terlalu sibuk bekerja sehingga kurang peduli terhadap pengasuhan anak-anak. Kali ini kesalahanku adalah terlalu fokus belajar ilmu parenting sehingga aku kerap meninggalkan rumah untuk mengejar ilmu tersebut ke berbagai tempat. Alhasil, bukannya anak-anak dididik dan diasuh dengan baik tapi malah mendapatkan pengalaman bullying lagi.

            Saat itu aku terlalu sibuk mengejar ilmu namun lupa mempraktekannya. Dan sejak anak ketigaku menjadi korban bullying juga, aku mulai merasakan ada yang salah dengan diriku. Sampai akhirnya aku memutuskan menemui temanku yang berprofesi sebagai psikolog untuk mencari tahu apa sebenarnya yang salah pada diriku. Namun hasil analisa temanku itu menunjukkan aku baik-baik saja, hanya aku yang terlalu merasa bersalah sehingga berambisi untuk menguasai seluruh ilmu parenting yang ada di dunia ini sehingga melupakan hal yang paling mendasar dari sebuah ilmu. Yaitu mempraktekkan ilmu tersebut.

            Analisa temanku tersebut membuat aku tersentak sadar. Aku bertekad akan memperbaiki semuanya. Temanku tersebut memberikan saran agar aku memperbaiki diri sendiri dulu sebelum memperbaiki pengasuhan kepada anak-anakku. Karena menurutnya sebaik apapun metode pengasuhan yang diterapkan kepada anak-anak tapi apabila sang ibu masih belum beres dengan dirinya sendiri, maka hasil pengasuhannya pun tidak akan baik. Sesungguhnya baik buruknya hasil pengasuhan tergantung kepada sang ibu.

            Memang benar apa yang diajarkan dalam agama Islam. Baik buruk suatu generasi ditentukan oleh kualitas wanitanya. Apabila wanitanya baik maka akan dihasilkan generasi yang baik. Sebaliknya apabila wanitanya tidak baik maka generasi yang dihasilkan akan tidak baik juga. Begitupun yang terjadi dalam sebuah keluarga. Apabila sang ibu baik lahir bathinnya, maka akan dihasilkan anak-anak yang sholeh dan sholehah.

            Merasa tertampar oleh analisa temanku tersebut, aku semakin membulatkan tekad untuk tidak sekedar belajar ilmu parenting dan mempraktekannya, namun juga akan menjadi seorang konsultan parenting. “Tamparan” tersebut membuahkan sebuah tekad yang mulia, dan saat ini aku masih berproses ke arah sana.

Senin, 15 Juni 2020

Dinamika Belajar di Rumah : Happy Learning


            Tahun 2020 merupakan tahun yang tak akan terlupakan sepanjang masa oleh seluruh manusia di bumi ini. Betapa tidak, awal tahun ini diwarnai oleh pandemi yang bernama Covid-19. Berbagai negara di penjuru dunia menerapkan lockdown atau isolasi. Baik itu di level negara, kota, maupun perumahan. Semua dilakukan untuk mencegah penyebaran virus yang menjadi penyebab utamanya Covid-19, yaitu virus corona.

            Penerapan lockdown menyebabkan berhentinya berbagai aktivitas manusia, salah satunya adalah kegiatan belajar mengajar (KBM). Seluruh negara sepakat bahwa KBM di sekolah menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam penyebaran virus Covid-19. Apalagi di jenjang TK dan SD, dimana anak-anak masih belum memahami sepenuhnya bagaimana melakukan pembatasan sosial. Yang akhirnya dibuatlah keputusan penyelenggaraan KBM secara daring atau belajar di rumah.

            Pelaksanaan KBM secara daring ternyata menimbulkan banyak keluhan dari berbagai pihak, terutama orang tua siswa. Mereka yang terbiasa hanya mendampingi anak-anaknya mengerjakan tugas sekolah, kini dengan belajar di rumah ini harus mampu mengajarkan berbagai materi pelajaran dan tugas  yang diberikan kepada anak, yang sebelumnya tidak sempat dijelaskan gurunya di sekolah. Waktu mereka yang biasanya dihabiskan untuk mengurus segala pernak pernik urusan rumah tangga, kini tersita hanya untuk menemani dan membimbing anak-anaknya belajar di rumah.

            Alhamdulillah  selama masa belajar di rumah ini, saya dan anak-anak hampir tidak merasakan hal tersebut diatas. Hal ini dikarenakan saya menerapkan cara belajar sesuai dengan genetik mereka masing-masing, sehingga mereka bisa belajar di rumah secara nyaman dan santai walaupun menghadapi materi pelajaran yang belum diajarkan oleh gurunya.

            Penting bagi kita sebagai orang tua untuk memahami cara belajar anak. Tidak setiap anak mampu memahami pelajaran yang diberikan secara daring. Oleh karenanya kita sebagai orang tua harus mampu mengatur strategi agar anak kita dapat melewati masa belajar di rumah ini dengan nyaman, kadar stress dan tingkat kebosanan yang minimal.

            Hal tersebut membutuhkan usaha baik dari orang tua maupun anak. Orang tua harus mengingat-ingat kembali pelajaran jaman sekolah dulu yang nota bene sudah menguap entah kemana. Tanpa strategi yang baik, orang tua dalam hal ini ibu akan kerepotan dalam membuat manajemen waktu antara mengurus rumah dan mendampingi anak belajar daring.

Anak juga harus berjuang memahami materi pelajaran yang baru baginya, yang gurunya tidak sempat jelaskan di sekolah. Memahami pelajaran baru bisa menimbulkan tekanan tersendiri kepada anak, apalagi tambahan tugas-tugas yang materinya belum mereka kuasai. Kondisi ini akan membuat anak menjadi semakin tertekan.

            Dalam laman merdeka.com tanggal 25 April 2020, Kak Seto selaku Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia mengakui banyak anak-anak yang mengalami stress setelah menjalani pembelajaran di rumah. Hal ini dikarenakan si anak harus belajar bersama orang tuanya. Salah satu penyebabnya adalah cara orang tua dalam menghadapi anak-anaknya dikala tiba-tiba harus menjadi guru di rumah.

            Menurut Kak Seto, anak-anak merasa tertekan karena orang tua cenderung  melakukan pemaksaan dalam memberikan penjelasan materi pelajaran. Walaupun sebenarnya pemaksaan ini bertujuan agar anak-anak memahami materi yang diberikan. Cara yang berbeda yang mereka terima di sekolah saat diajari oleh para gurunya.

                Kondisi-kondisi diatas tidak akan terjadi apabila orang tua memahami gaya belajar anak-anaknya secara genetik. Terkadang ada orang tua yang merasa bahwa gaya belajar anaknya adalah audio karena lebih suka mendengarkan. Namun belum tentu seperti itu karena lingkungan tempat si anak tinggal juga berpengaruh terhadap gaya belajarnya. Namun gaya belajar yang dipengaruhi lingkungan ini tidak akan memberikan hasil yang optimal, karena bukan genetik mereka.

            Gaya belajar yang sesuai dengan genetik si anak akan memberikan hasil yang lebih maksimal. Anak akan merasa nyaman karena belajar dengan gayanya sendiri, orang tua pun tidak stress karena bingung bagaimana menyuruh anak untuk belajar. Gaya belajar sesuai genetik ini sangat membantu orang tua di masa belajar di rumah ini.

            Bagaimana caranya agar orang tua mengetahui gaya belajar anak yang sesuai dengan genetiknya? Tentu saja tidak dengan serta merta orang tua memahaminya, harus dilakukan sebuah tes. Ada berbagai macam test untuk mengetahui karakter anak, namun hanya satu yang hasilnya adalah karakter genetik anak, yaitu STIFIn. Genetik disini bukan berarti turunan dari orang tuanya, tapi lebih kepada bawaan lahir. Karena karakter genetik ini tidak diturunkan oleh orang tuanya, bahkan anak kembar pun bisa memiliki karakter genetik yang berbeda. 

            Tahun 2009, anak pertama dan kedua saya melakukan tes STIFIn di sekolah TK nya. Saat itu menjelang kenaikan kelas. Anak pertama akan masuk SD, anak kedua akan naik ke TK B. Dari hasil tes tersebut, saya jadi mengetahui karakter genetik mereka. Dan menjadi panduan saya dalam mendidik mereka. Kepada setiap walikelasnya pun, saya selalu menjelaskan gaya belajar mereka. Sehingga para guru memahami bagaimana memotivasi mereka untuk belajar. Hasilnya anak-anak selalu berada didalam 5 besar terbaik di kelasnya.

            Anak ketiga saya dites STIFIn pada tahun 2013, di awal kelas 1 SD. Setiap kenaikan kelas, saya jelaskan bagaimana gaya belajarnya kepada walikelas. Walaupun minat bakatnya bukan di akademik, namun anak saya tersebut bisa memperoleh nilai akademis melampaui KKM yang ditetapkan.

            Anak keempat saya dites STIFIn pada tahun 2018, menjelang masuk SD. Sampai saat ini guru-guru yang mengajarnya mengatakan bahwa mengajar anak saya tersebut tidak membuat pusing kepala karena sudah tau celahnya. Seperti halnya dengan kakak-kakaknya, hasil tes STIFIn anak saya ini juga dijelaskan kepada walikelasnya agar mereka memahami gaya belajar anak saya tersebut. Walaupun tampak seperti tidak mengikuti pelajaran, namun nilai-nilai yang dicapainya mengesankan. Bahkan di sempat meraih nilai terbaik di kelasnya.

            Dan dimasa pandemi ini, saya benar-benar merasakan manfaatnya. Dengan berbagai tugas, ujian dan materi-materi pelajaran yang belum sempat dijelaskan di kelas, saya terapkan gaya belajar menurut genetik ini kepada anak-anak saya. Sehingga saya masih tetap  bisa mengurus rumah seperti saat mereka di sekolah, memasak sesuai waktunya seperti sebelum ada pandemi.

            Keempat anak saya bisa saling berkolaborasi dalam melakukan pembelajaran di rumah ini. Sejak mengetahui karakter genetik masing-masing anak, saya memang sudah menjelaskan kepada mereka bagaimana karakter dia dan saudara-saudaranya. Bagaimana cara belajar masing-masing, sehingga saat pembelajaran di rumah mereka bisa kompak melakukannya dengan nyaman dan santai.

            Anak-anak bisa melakukan “happy learning” dalam kebersamaan yang selama ini jarang dirasakan akibat dari kesibukan di sekolah masing-masing. Si kakak bisa membantu menjelaskan materi pelajaran kepada si adik. Sebaliknya, si adik bisa membantu si kakak untuk tugas-tugas terkait prakarya. Sungguh suasana yang menyenangkan untuk kita sebagai orang tua, bukan?

            Oleh karena itu, saya menyarankan agar para orang tua mengetahui karakter genetik anaknya. Karena bukan hanya bermanfaat untuk selama masa pendemi saja, namun  juga untuk sepanjang kehidupan mereka. Saya sudah merasakan manfaat tes pengenalan karakter yang sudah dilakukan kepada anak-anak. Harapan saya, para orang tua yang lain pun bisa merasakan hal yang sama.

            Kesuksesan seorang anak adalah hasil dari pemahaman orang tua terhadap karakter si anak. Sehingga si anak akan dididik dan dibimbing sesuai dengan karakternya. Anak dan orang tua akan merasakan kenyamanan dan kelekatan, sehingga terciptalah yang namanya “Happy Learning dalam Kebersamaan”.

Jumat, 21 Februari 2020

Catatan Hati Seorang Istri

 



Beberapa hari ini semua media baik tv maupun online menghadirkan berita mengenai meninggalnya seorang aktor yang juga suami seorang penyanyi. Si istri merasa terpukul dengan kepergian sang suami yang begitu mendadak. Gencarnya berita tersebut ditayangkan di media, mau tidak mau saya menjadi ikut terhanyut. Dampaknya saya menjadi penasaran lagi dengan sinetron yang dulu pernah dibintangi oleh aktor tersebut. Judul sinetron itu sama dengan judul tulisan saya ini, yaitu "Catatan Hati Seorang Istri".
Ditengah  keterhanyutan saya dengan berita terebut, saya menerima curahan hati dari dua  orang klien dengan pengalaman yang sama, yaitu ditinggal meninggal oleh sang belahan hati. Yang satu sudah ditinggal selama satu setengah tahun, sedangkan wanita yang satu lagi baru ditinggal sekitar lima (5) hari lalu. Hal ini menjadi alasan saya membuat tulisan ini.
Dan kondisi kedua klien tersebut saat ini sama-sama drop alias sakit karena mereka masih terus teringat akan hal-hal kecil yang manis yang suaminya lakukan. Saat ini mereka merasakan bahwa hal-hal kecil tersebut begitu dirindukan dan mereka sangat menyadari kalau itu tidak akan pernah mereka rasakan lagi. Perasaan merindu yang begitu dalam tanpa mampu mengungkapkannya membuat fisik menjadi drop. Tanpa daya, jiwa yang kehilangan pasangannya pun akhirnya ambruk, tak sanggup lagi menahan beban rindu yang semakin berat.
Sehingga benarlah kata Dilan kepada Milea, jangan rindu karena rindu itu berat. Dan saya sudah menyaksikan kenyataannya. Pengalaman berbagi ini membuat saya berpikir, seandainya saya berada di posisi kedua wanita tersebut, bagaimanakah kondisi saya? Apakah mampu tegar seperti mereka atau malah terpuruk tak berkesudahan?
Selama ini saya merasa biasa saja disaat berjauhan dengan suami. Mungkin dikarenakan kami terbiasa hidup terpisah dengan seringnya suami ditempatkan ke daerah oleh kantornya. Kondisi tersebut membuat saya menjadi istri yang lebih mandiri dalam artian meng-handle semua urusan rumah dan anak-anak sendiri, suami hanya tahu beres. Terus terang, selama saya menjadi istri, saya termasuk istri yang cukup abai kepada suami. Melayani keperluan suami berdasarkan permintaan, bukan karena kesadaran. Apalagi suami juga bukanlah tipikal suami yang menuntut istri itu harus full melayani. 
Kejutan-kejutan kecil yang diberikan suami, saya anggap biasa saja, sebagai kompensasi dari seringnya kami berjauhan. Perhatian-perhatian yang diberikan suami, terkadang saya anggap lebay, apalagi suami bukanlah termasuk orang yang romantis. Walaupun hal-hal tersebut membuat saya merasa senang juga, hehehe....
Namun dengan adanya berita meninggalnya sang aktor yang begitu mendadak dan gencarnya berita yang menunjukkan betapa terpuruknya sang istri namun harus tetap tegar demi anaknya, saya merasa diberikan "reminder" oleh Allah. Ditambah bertemu dengan dua orang klien yang mempunyai pengalaman yang sama, membuat saya tersadarkan betapa saya masih jauh menjadi istri yang baik untuk suami. Betapa saya masih menafikan cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh suami selama ini. 
Ditengah proses menulis ini, dari TV terdengar lagu "Cinta Sejati"nya BCL, membuat emosi saya semakin terhanyut. Saya pandangi suami yang sedang tertidur lelap, saya menyadari bahwa ternyata tak sanggup untuk kehilangan dia. Apapun yang pernah terjadi diantara kami, suka duka yang pernah kami lalui, nyatanya kami sudah menghabiskan waktu bersama lebih dari separuh usia kami.
Saya kian menyadari dan memahami, mengapa saya merasa biasa saja pada saat berjauhan dengan suami. Hal itu bukan disebabkan karena kami terbiasa berjauhan atau rasa cinta diantara kami memudar, namun lebih karena saya masih merasa bahwa walaupun suami jauh, namun dia akan kembali ke rumah. Saya tidak menyadari bahwa usia adalah hak prerogratif Allah, kapan saja Dia memanggil hambaNya, maka tak ada yang mampu menghalangi. Dan saya lupa bahwa itu bisa terjadi kapan saja kepada saya. Bisa saya yang duluan atau suami duluan, tapi intinya adalah sudah siapkah saya?
Jawabannya sudah pasti tidak akan pernah siap. Namun satu hal yang saya rasakan dari peristiwa-peristiwa tersebut diatas adalah betapa Allah begitu mencintai saya. DiberikanNya saya "reminder" agar saya menjadi istri yang lebih menyayangi, mencintai dan selalu bersyukur dengan semua cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh suami. Sehingga pada saatnya tiba nanti, entah siapa diantara kami yang lebih dulu dipanggilNya, saya tidak merasa menyesal karena tidak memberikan yang terbaik kepada suami. Satu hal yang saya inginkan saat tiba waktunya nanti, suami merasa bangga beristrikan saya.


*This is dedicated to my beloved husband who always support me in any moments any conditions. I love you with bunch of love, proud of you and im proud being your wife...

Minggu, 01 Desember 2019

Ketika Allah Berbicara




Image result for animasi transformasi seorang muslimah 
Maret 2009, 3 bulan setelah aku melahirkan, dengan tiba-tiba aku dimutasi ke bagian kredit. Bagian yang selalu aku hindari sejak awal aku bergabung dengan bank tempatku bekerja saat ini. Namun dengan dalih aku mempunyai bayi sehingga memerlukan tugas yang lebih fleksibel dibandingkan di cabang, maka Kepala Kantor Wilayah memutasiku ke bagian kredit mikro. Sungguh suatu mutasi yang langsung membuatku demotivasi karena aku tahu hatiku tidak pernah bisa kompromi untuk bagian ini.
Tiga bulan mengikuti pendidikan kredit mikro, aku ditempatkan di cabang tempat aku menjadi kepala sebelumnya. Dan ternyata memang di kredit mikro tugasku fleksibel, begitu juga dengan jam kerjanya. Awal-awal bulan jam kerjaku masih normal, tapi begitu cabang mikroku mulai berkembang, jam kerjaku mulai tidak normal. Aku menjadi semakin sering pulang malam walaupun keesokan harinya aku masih bisa berangkat agak siang ke kantor. Tapi tetap saja aku menjadi semakin jarang berinteraksi dengan suami dan anak-anakku.
Terkadang demi untuk menjaga bonding dengan anak-anak, aku membawa serta mereka beserta baby sitter nya ke kantorku. Sehingga walau jarang berinteraksi, bonding dengan mereka masih tetap terjaga. Namun tidak demikian halnya dengan suami. Semakin jarang berinteraksi semakin tidak nyambung komunikasi kami, yang menyebabkan sering munculnya kesalahpahaman diantara kami. Mulai dari hal sepele hingga hal besar yang hampir mengakibatkan rumah tangga kami bubar.
Aku nyaris gila. Disatu sisi, aku masih merasa kurang nyaman dengan bagian dimana aku dimutasi. Disisi lain, berbagai kesalahpahaman antara aku dan suami semakin sering terjadi.  Yang terkadang membuat anak-anak ketakutan karena mendengar pertengkaran-pertengkaran kami itu.
Di bulan Desember 2009, aku mendapatkan kabar yang membahagiakan. Di satu hari aku merasakan pusing dan mual sehingga setelah melakukan survey, aku tidak langsung kembali  ke kantor melainkan pergi rumah sakit untuk memeriksakan diri. Aku langsung menuju IGD dan hasil dari pemeriksaan fisik dan lab yang dilakukan, akhirnya dokter memberitahuku bahwa aku sedang hamil. Tak terhingga senangnya hatiku mendengarnya, dan sesudah pemeriksaan selesai aku kembali ke kantor. 
Suatu hari di akhir Januari 2010, menjelang keberangkatanku dan salah satu staf marketingku untuk survey, aku merasakan perutku agak mulas dan tidak enak. Kupikir aku ingin buang air besar sehingga kuputuskan untuk ke toilet dulu sebelum berangkat survey. Namun bukannya buang air melainkan flek yang keluar. Aku kaget dan segera keluar dari toilet. Kemudian minta diantarkan ke rumah sakit oleh stafku.
Hari itu, 5 minggu setelah aku diberitahukan kabar kehamilanku, aku harus mendengar kabar bahwa kehamilan tersebut tidak dapat dilanjutkan. Ya, janinku tidak sanggup mengikuti aktivitasku yang sungguh sibuk dan melelahkan di kantor sehingga akhirnya menyerah di usia kandungan jalan 13 minggu. Saat itu, didampingi suami, aku masih berusaha mempertahankan janinku. Walau dokter kandunganku mengatakan bahwa janinku sudah meninggal, tapi aku tidak mau percaya begitu saja. Aku tetap berkata bahwa aku akan terus mempertahankan bayiku ini.
Setelah berdebat, akhirnya dokter menyarankan aku untuk dirawat di rumah sakit. Dan ternyata memang benar, selama dirawat aku terus menerus pendarahan sehingga ketika dilakukan USG, aku harus menerima kenyataan bahwa janinku sudah hancur. Hasil USG hanya menampilkan kantong bayi yang sudah kosong. Akupun  menjalani kuretase untuk membersihkan rahimku. Selamat jalan anakku, maafkan bunda yang tidak mampu menjagamu bahkan sejak masih dalam kandungan. Keguguran ini cukup membuatku terpuruk cukup dalam.
Tiga bulan setelah kuretase, tepatnya di bulan April 2010, tiba-tiba aku merasakan mual-mual, rasanya seluruh isi perutku akan keluar. Ketika kulihat kalender yang terletak di mejaku, aku tersadar bahwasanya aku sudah terlambat menstruasi selama 2 minggu. Kuyakin bahwa mual-mual yang aku rasakan sekarang adalah akibat dari sedang tumbuhnya janin dalam rahimku. Dengan sedikit lemas, aku minta ijin ke atasanku untuk pulang. Namun ditengah perjalanan, kuputuskan untuk mampir di laboratorium dekat rumah untuk memastikan kebenaran perkiraanku.
Dan perkiraanku benar, hasil laboratorium menunjukkan aku positif hamil. Esok harinya, aku memeriksakan diri ke dokter kandunganku. Dokter memintaku untuk mengurangi aktivitas mengingat riwayat keguguran yg kualami sebelumnya, dan sebisa mungkin meminimalisir naik turun tangga.
Demi janinku, berbekal surat keterangan dokter aku mengajukan mutasi ke kantor cabang yang lokasinya mendekati kantor suamiku dan hanya satu lantai. Beruntung atasanku mempunyai istri yang sedang hamil juga, sehingga bisa memahami kondisi kehamilanku dan mau memindahkanku ke kantor cabang yang dimaksud.
Juni 2010,  3 bulan sudah usia kandunganku. Satu sore menjelang pulang kantor, setelah shalat ashar, aku tiba-tiba merasa demam dan perutku terasa kencang. Perasaanku tidak enak, aku yakin ada yang tidak beres dengan kandunganku. Teringat saat keguguran yang lalu, perutku terasa mulas. Aku menelepon suami untuk menemuiku di rumah sakit karena aku memutuskan untuk ke IGD. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kandunganku.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung di periksa dan dikonsul ke dokter kandunganku. Dari hasil pemeriksaan USG dan konsultasi, aku dinyatakan mengalami pendarahan dan diharuskan menjalani bedrest selama 2 minggu. Dengan perasaan tak menentu, aku menunggu suami menjemputku. 
Beberapa minggu menjalankan bedrest, pendarahanku bukannya membaik tapi semakin parah. Aku semakin stress dan bayangan keguguran lagi muncul dipelupuk mataku. Padahal kutahu bahwa aku seharusnya tenang agar janinku juga tenang, namun tak dapat kusangkal perasaan takut yang sangat besar ini.
Puncaknya di suatu maghrib, saat berbaring di tempat tidur aku tiba-tiba merasa panas dingin, badanku demam dan perutku sakit sekali, saking sakitnya aku tidak sanggup bersuara pada saat memanggil suami yang kebetulan sedang shalat maghrib. Dan aku tiba-tiba kehilangan kesadaranku. Aku tersadar kembali ketika suami memanggil-manggil namaku dengan cemas. Saat tersadar, betapa kagetnya ketika kulihat seluruh tempat tidur sudah menjadi lautan darah. Dan untuk kesekian kalinya, aku harus keguguran lagi 
Enam bulan setelah keguguran yang terakhir, yaitu di bulan Januari 2011, aku mendapatkan kabar gembira lagi. Hasil medical check up yang kulakukan menunjukkan aku sedang hamil. Tak percaya aku sampai minta kepastian kepada suami. Dan memang dibagian hasil laboratorium terdapat hasil positif untuk kehamilan. Alhamdulillah ya Allah, sungguh bahagianya aku masih dipercaya untuk dititipkan anak kembali.
Sebulan setelah hari itu, saatnya kontrol kandungan, ditemani mbaknya anak-anak aku menunggu antrian. Sudah 2 hari aku merasa lemas, bawaan bayi pikirku. Kuajak bicara janinku, kukatakan betapa aku sayang padanya. Sungguh kaget, saat dilakukan USG di layar komputer yang terlihat hanya kantong bayi padahal usia kandunganku sudah masuk 12 minggu. Dokter memintaku untuk periksa dalam, ketika suster sedang mempersiapkan kebutuhan periksa dalam, tiba2 perutku mulas sekali. Kukatakan pada suster bahwa perutku mulas, sesaat kemudian gumpalan darah keluar dari bagian bawah tubuhku. Betapa kagetnya aku, dan ketika dokter mengatakan bahwa aku keguguran lagi, aku sudah menjadi begitu skeptis.
Mengalami keguguran 2 kali berturut-turut membuatku tak mampu menangis lagi. Aku hanya bisa pasrah dan introspeksi diri apa yang salah dalam diriku sehingga aku harus mengalaminya lagi. Semua saran dokter sudah kuturuti, namun takdirNya jugalah yang menentukan.
Bulan Oktober 2011, akhirnya jadi juga aku mutasi ke bagian yang tidak bertentangan dengan nuraniku. Sejak pergi ke kantor pagi itu, aku merasakan pusing kepala. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, aku menelepon supir kantor untuk minta tolong memarkirkan mobilku di basement. Sesampainya di lobby, aku telepon temen supirku itu untuk mengantarku ke rumah sakit. Begitu sakitnya kepalaku menyebabkan kesadaranku hilang.
Setiba di rumah sakit, dokter IGD langsung memeriksaku dan hasilnya adalah aku sedang hamil lagi dan mengalami sedikit pendarahan. Aku harus bedrest total, tidak boleh turun sama sekali dari tempat tidur karena kehamilanku sangat berisiko mengingat riwayat keguguran berulang yang pernah aku alami. Aku senang bercampur takut mendengarnya, tapi aku bertekad apapun akan kulakukan untuk mempertahankan janinku kali ini. 
Di trimester pertama, aku mengalami pendarahan 4 kali dan 4 kali pula aku harus dirawat. Memasuki trimester kedua, ujianku bertambah. Setiap aku bergerak, perutku kontraksi sehingga keluar flek. Praktis dari awal kehamilan sampai usia kandungan 20 minggu aku tidak bisa beraktivitas apapun.
Pihak kantor tidak mau tahu dengan kondisiku dengan tetap memintaku untuk hadir di kantor. Sementara, dokter kandunganku sudah memvonis bahwa aku tidak boleh banyak bergerak apabila janinku ingin selamat. Disinilah ujian Allah, aku dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Akhirnya aku harus memutuskan antara karir dan kandunganku.
Dengan mengucapkan bismillah dan mengikhlaskan hati, aku meminta ijin kepada suami untuk resign dari pekerjaanku. Suami kaget bercampur terharu, dia menyerahkan sepenuhnya keputusan kepadaku karena menurutnya aku yang menjalani, dia support apapun keputusanku. Sebulan setelah resign, aku melahirkan. Rupanya bayiku ingin segera menghirup udara dunia, dia minta dilahirkan prematur di usia kandungan 32 minggu 3 hari melalui operasi caesar.
Ujianku belum berhenti, 2 jam setelah kelahirannya bayiku kritis karena paru-parunya tidak mengembang dan dirujuk ke sebuah rumah sakit khusus ibu dan anak. Sebelum aku sadar dari pengaruh obat bius, aku sudah dipisahkan dari bayiku. Hikmah dari terpisahnya aku dan bayiku, aku menjadi lebih cepat pulih dari operasi.
Pulang dari rumah sakit, aku langsung menengok bayiku. Dan sungguh ku tak sanggup menahan tangis melihat kondisinya yang dipenuhi berbagai selang. Kubisikkan kedatanganku dan memotivasinya terus berjuang untuk hidup. Setiap hari aku mendampingi bayiku untuk memberikan asi. Dengan kuasa dan ridhoNya, bayiku bisa melewati masa kritisnya dan setelah 1 bulan lebih dirawat bisa berkumpul kembali bersama kakak-kakaknya.
Sungguh peristiwa kelahiran dan kondisi bayiku menjadi salah satu titik balik hidupku. Aku semakin memantapkan diri untuk menjadi ibu rumah tangga yang merawat, mengasuh dan mengawasi anak-anakku sendiri sebagai balasan atas waktu kebersamaan yang hilang saat aku bekerja dahulu. Sejak kelahiran anak bungsuku ini, aku benar-benar mengalami metamorfosis. Dititik ini pula aku memutuskan untuk berhijab.
Banyak teman, kenalan maupun bekas kolegaku yang tidak percaya atas perubahan ini. Ya, semua orang yang mengenalku pasti tidak akan percaya dengan gaya hidupku sekarang. Jangankan mereka, diriku pun sempat tidak percaya dengan perubahan ini, tapi aku yakin Allah sangat menyayangiku sehingga Dia menegurku agar aku lebih fokus mencari akhirat. Sungguh indah caraNya berbicara kepadaku yang tidak juga mendengarkan teguran-teguranNya. Dia siapkan mentalku untuk menghadapi kehidupan baru sehingga aku tidak merasakan apa yang disebut dengan Post Power Syndrom disaat aku sudah berpaling kepadaNya saat Dia berbicara kepadaku. Sungguh nyata besarnya kasih sayangNya.