Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2020

EGO DAN PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL MANUSIA

            Pembentukan pribadi yang baik akan berguna sebagai bekal anak untuk menghadapi lingkungan sosialnya sendiri. Juga menentukan kemampuannya berjuang dalam menghadapi masalahnya sendiri. Dengan demikian, pembentukan pribadi anak menjadi hal yang penting untuk dipelajari.

            Masa-masa awal seorang anak menjadi dasar pembentukan karakternya. Pengaruh-pengaruh yang masuk ke dalam kehidupan seorang anak sangat menentukan pembentukan karakternya kelak. Banyak teori tentang perkembangan psikologi anak, diantaranya adalah teori psikososial Erikson yang dicetuskan oleh Erik Erikson.

            Teori psikososial Erikson ini merupakan salah satu teori terbaik mengenai kepribadian yang ada dalam psikologi. Erikson mempercayai bahwa kepribadian seseorang akan berkembang melalui beberapa tingkatan tertentu. Salah satu elemen penting dari tingkatan psikososial Erikson adalah perkembangan mengenai persamaan ego.

            Ego adalah suatu perasaan sadar yang kita kembangkan melalui proses interaksi sosial. Perkembangan ego akan selalu berubah berdasarkan pengalaman dan informasi baru yang didapatkan seseorang sebagai hasil interaksinya dengan orang lain. Erikson juga mempercayai bahwa kemampuan untuk memotivasi sikap dan perbuatan seseorang dapat memicu suatu perkembangan yang positif. Inilah yang mendasari penyebutan teorinya sebagai Teori Perkembangan Psikososial.

            Menurut Erikson, ego yang sempurna adalah ego yang mengandung tiga aspek utama, yaitu :

·         Faktualitas : yaitu kumpulan fakta dan data yang dapat diverifikasi dengan metode kerja yang digunakan sebagai hasil dari interaksi lingkungan.

·         Universalitas : berkaitan dengan kesadaran akan kenyataan atau sense of reallity. Menggabungkan hal yang praktis dan konkrit dengan pandangan seluruh semesta.

·         Aktualitas : yaitu suatu cara untuk memperkuat hubungan dengan orang lain agar mencapai tujuan bersama.

Dasar dari teori Erikson adalah sebuah konsep yang mempunyai tingkatan. Ada delapan tingkatan yang menjadi bagian dari teori psikososial Erikson. Masing-masing tingkatan tersebut akan dilalui oleh setiap manusia. Dan setiap manusia dapat naik ke tingkat berikutnya walaupun perkembangan yang dialaminya di tingkat sebelumnya tidak sepenuhnya tuntas.

Setiap tingkatan dalam teori Erikson, berhubungan dengan semua bidang kehidupan. Artinya jika setiap tingkatan itu tertangani dengan baik, maka individu tersebut akan merasa pandai. Sebaliknya jika tingkatan-tingkatan tersebut tidak tertangani dengan baik, pada individu tersebut akan muncul perasaan tidak selaras.

Erikson mempercayai bahwa  dalam setiap tingkat, seseorang akan mengalami konflik atau krisis yang menjadi titik balik setiap perkembangannya. Konflik-konflik ini berpusat pada perkembangan kualitas psikologi. Atau dengan kata lain kegagalan dalam pengembangan kualitas terseebut.

Seperti yang diungkapkan sebelumnya, bahwa teori perkembangan psikososial Erikson ini mempunyai delapan tahapan. Penjelasan dari masing-masing tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

1.      Trust vs Mistrust (0-18 bulan)

Karena ketergantungannya, hal pertama yang akan dipelajari seorang anak atau bayo dari lingkungannya adalah rasa percaya pada orang di sekitarnya. Terutama pada ibu atau pengasuhnya yang selalu bersama setiap hari. Jika kebutuhan anak dipenuhi oleh sang ibu atau pengasuhnya, seperti makanan dan kasih sayang, maka anak akan merasakan keamanan dan kepercayaan.

Keberhasilan dari tahapan ini akan berpengaruh kepada konsep diri yang akan dimiliki si anak. Konsep diri adalah sekumpulan hal-hal yang dipikirkan, diyakini, dan dipersepsikan seseorang tentang dirinya.

2.      Otonomi vs malu dan ragu-ragu (18 buoan – 3 tahun)

Kemampuan anak untuk melakukan beberapa hal pada tahap ini sudah mulai berkembang. Seperti makan sendiri, berjalan, dan berbicara. Kepercayaan yang diberikan orang tua  untuk memberinya kesempatan bereksplorasi sendiri dengan dibawah bimbingan, akan dapat membentuk anak menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri.

Keberhasilan akan tahapan ini akan mempengaruhi bagaimana kepribadian si anak berkembang. Tidak terbentuknya rasa percaya diri anak meningkatkan kemunculan persentase kepribadian ganda di masa depan.

3.      Insitiatif vs rasa bersalah (3 – 6 tahun)

Anak usia prasekolah sudah mulai mematangkan beberapa kemampuannya yang lain seperti motorik dan berbahasa. Mampu mengeksplorasi lingkungannya secara fisik maupun sosial. Dan mampu mengembangkan inisiatif untuk mulai bertindak.

Kegagalan pada tahapan ini akan mengganggu proses pematangan pribadi si anak. Yang pada akhirnya akan menimbulkan keabnormalan dalam psikologisnya.

4.      Tekun vs rendah diri (6 – 12 tahun)

Anak yang sudah terlibat aktif dalam interaksi sosial akan mulai mengembangkan suatu perasaan bangga terhadap identitasnya. Dukungan dari orang tua dan lingkungannya akan menbangun perasaan kompeten serta percaya diri. Pencapaian sebelumnya akan memotivasi anak untuk mencapai pengalaman baru.

Keberhasilan tahapan ini akan berpengaruh pada proses belajar anak di masa yang akan datang. Anak yang berhasil melalui tahapan ini dengan tuntas maka kepribadiannya akan mampu memilih proses belajar yang sesuai.

5.      Identitas vs kebingungan peran (12 – 18 tahun)

Pada tahap ini, seorang anak akan mencoba banyak hal untuk mengetahui jati diri mereka.  Biasanya anak akan mencari teman yang memiliki kesamaan dengan dirinya untuk melewati tahap ini. Jika anak dapat menjalani berbagai peran baru dengan positif dan didukung oleh orang tua, maka identitas yang positif akan dicapai oleh si anak.

6.      Keintiman vs isolasi (18 – 35 tahun)

Tahap pertama dalam perkembangan kedewasaan ini biasanya terjadi pada masa dewasa muda. Yaitu tahap ketika seseorang merasa siap membangun hubungan yang dekat dan intim dengan orang lain. Saat keberhasilan membangun hubungan yang erat diperoleh, maka seseorang akan mampu merasakan cinta dan kasih sayang.

7.      Bangkit vs stagnan (35 – 64 tahun)

Ini adalah tahap kedua perkembangan kedewasaan. Normalnya, pada tahap ini seseorang sudah mapan dalam kehidupannya. Kemajuan karir dan rumah tangga yang telah dicapai memberikan seseorang perasaan untuk memiliki suatu tujuan.

8.      Integritas vs keputusasaan (65 tahun keatas)

Pada tahapan ini, seseorang akan mengalami penglihatan kembali atau flashback tentang alur kehidupan yang telah dijalaninya. Pada tahap ini juga, seseorang itu akan berusaha untuk mengatasi berbagai permasalahan yang sebelumnya tidak terselesaikan.

Keberhasilan tahap ini akan membuat seseorang mampu mendapatkan kebijaksanaan di akhir hayatnya.

            Teori psikososial Erikson ini mempunyai kelebihan dibandingkan dengan teori psikologi lainnya. Kelebihannya adalah teorinya mencakup seluruh masa, dan tahapannya mulai dari masa kanak-kanan hingga lanjut usia. Inilah sebabnya banyak psikolog yang lebih memilih teori Erikson dibandingkan teori lainnya.

Rabu, 12 Agustus 2020

Apa Kabar Pendidikan Indonesia?

 Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, sepertinya kita sudah kehabisan kata untuk berkomentar. Ya, pola pendidikan di negara kita memang masih belum ajeg. Beda menteri beda kebijakan kurikulumnya.
Tidak salah memang, karena para menterinya pun hasil kurikulum pendidikan negara kita juga
Tapi terus terang saja, kebijakan yang berbeda-beda tersebut membuat praktisi pendidikan menjadi kelimpungan. Jangankan praktisi pendidikan, orang tua dan siswa/i pun sama-sama kebingungan. Terutama orang tua dan siswa/i yang baru naik ke kelas 6 SD, 3 SMP maupun 3 SMA.
Hal ini dikarenakan, ditingkat sebelumnya mereka belajar berdasarkan kurikulum dari menteri A. Begitu naik kelas, menteri A diganti oleh menteri B yang dengan mudahnya mengganti dengan kurikulum baru. Tentu saja ini akan membuat guru, orang tua dan anak menjadi kewalahan. Guru harus mempelajari dengan kilat kurikulum baru tersebut demi bisa mengajarkan kepada siswa siswinya. Anak-anak harus beradaptasi lagi sedangkan ujian akhir sudah di depan mata.
Yang terjadi adalah meningkatnya level stress dari anak-anak. Kalau itu yang terjadi, maka orang tua yang lebih kewalahan. Pertama, mereka belum tentu mempunyai latar belakang pendidik. Kedua, mereka juga belum tentu mempunyai latar belakang konseling. Hasil akhir, orang tua dan anak menjadi sama-sama stress. Ujungnya, kekerasan dalam rumah tangga meningkat. Jadi merembet kemana-mana.
Begitu juga yang sedang terjadi saat ini. Dengan adanya pandemi, menambah cepat laju tingkat stress anak-anak. Mereka yang biasanya bisa berkalibrasi dengan bermain di luar rumah, sekarang harus tetap di rumah hingga berbulan-bulan. Dengan kondisi yang sedemikian rupa, apa yang terjadi dengan pendidikan anak-anak sekolah? Faktanya, kurikulum yang digunakan masihlah sama dengan kurikulum sebelum pandemi. Sungguh tidak adil bagi anak-anak. Dengan keterbatasn fasilitas, mereka harus dicekoki dengan kurikulum yang masih tetap padat. Seharusnya pemerintah dalam hal ini Mendiknas, haruslah segera menentukan solusi dengan membuat kurikulm darurat. Kurikulum dimana anak-anak hanya mempelajari materi dasar seperti matematika, bahasa, agama, sains dan moral.
Atau bisa juga, pemerintah membuat kurikulum baru yang berbasis potensi dan karakter. Ini lebih adil bagi anak-anak. Karena mereka bisa berprestasi dan dinilai menurut karakter dan potensinya. Tidaklah disamakan semua. Kurikulum ini akan lebih melejitkan potensi anak-anak karena mereka diasah sejak dini.
Sambil mematangkan kurikulum berbasis potensi dan karakter ini, pemerintah bisa menerapkan kurikulum darurat. Diharapkan dengan tersalurkannya potensi anak-anak dalam pendidikan di sekolah, tingkat stress mereka pun akan menurun.
Semoga pemerintah semakin bijaksana dalam menangani bidang pendidikan. Karena pendidikan yang tepat akan melahirkan generasi pemimpin yang bijak. Dan pemimpin yang bijak sangat diperlukan dalam memimpin sebuah negara.

 Keterangan foto tidak tersedia.

 

Selasa, 11 Agustus 2020

Antara Cita-Cita dan Impian

Keterangan foto tidak tersedia.

 

 Antara Cita-Cita dan Impian

Apa sebenarnya yang membedakan cita-cita dengan impian? Sebelum kita bahas lebih lanjut, kita cek dulu definisi cita-cita dan impian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Cita-cita adalah (1) keinginan (kehendak) yang selalu ada dalam pikiran, (2) tujuan yang sempurna (yang akan dicapai atau dilaksanakan).
Impian adalah (barang) yang diimpikan, barang yang sangat diinginkan.
Setelah membaca definisi kedua kata tersebut, jelas terlihat perbedaannya. Kalau cita-cita hanya sekedar ingin sementara impian menggunakan tambahan kata "sangat" ingin. Jadi kalau melihat dari sudut kekuatan keinginan, impian lebih kuat dibandingkan dengan cita-cita.
Itulah sebabnya, cita-cita seseorang bisa berubah. Tapi impian seseorang jarang berubah. Seseorang saat ditanya cita-cita masa kecil, jawabannya keren-keren. Ada yang jawab dokter, insinyur, pilot, polisi dan sebagainy. Tapi saat sudah dewasa, cita-citanya mayoritas berubah. Tidak lagi ingin jadi dokter atau insinyur, bisa jadi tiba-tiba jadi seniman.
Hal ini dikarenakan, saat kecil anak-anak melihat profesi-profesi tersebut tampak keren. Apalagi dengan seragam yang rapi, sungguh mempesona penampilannya. Tapi begitu beranjak dewasa, seseorang mulai memahami passionnya, bakatnya, maka seragam tidak lagi menjadi faktor yang menentukan cita-citanya. Dengan memahami passionnya, seseorang akan melakukan apapun agar bisa melakukan passionnya.
Passion inilah yang membedakan seseorang dalam mencapai cita-cita dan impiannya. Cita-cita biasanya tanpa disertai passion, tapi kalau impian, sudah pasti didasari oleh passion. Maka, mulailah menggali passion anak-anak kita sejak dini. Agar cita-citanya sejalan dengan impiannya. Apabila cita-cita sudah sejalan dengan impian, mudah bagi orang tua untuk mengarahkannya. Jangan sampai orang tua mengeluarkan stupid cost yang besar karena tidak memahami passion anaknya.
Contoh saya, sejak kecil bercita-cita menjadi dokter. Pertengahan jalan ketahuan kalau saya ternyata tidak kuat melihat darah. Maka buyarlah cita-cita menjadi dokter. Tapi saat itu saya belum menyadari bahwa menjadi dokter bukanlah impian saya. Aktivitas yang paling saya sukai adalah mendengarkan curhat orang lain. Dan ternyata, itulah yang menjadi impian saya. Keinginan untuk mendengarkan curhat orang lain dan memberikan support kepada mereka terus muncul dan semakin hari semakin kuat.
Dan seperti pepatah mengatakan, life begin at 40. Kehidupan saya menjalani profesi Solver dimulai saat usia 40 tahun.
Kalau dilihat dari sisi usia, saya termasuk terlambat mencapai impian saya. Tapi dari sisi pencapaian, lebih baik terlambat daripada tidak berusaha mencapainya sama sekali.
Jadi, jangan pernah berhenti mengejar impianmu. Saat engkau mempunyai impian, pegang erat, lakukan yang terbaik untuk meraihnya. Jangan biarkan siapapun mencoba menghalangimu untuk meraihnya. Yakin, Allah akan memberikan jalan bagi orang yang bersungguh-sungguh.

 

Senin, 10 Agustus 2020

My Family

Keluarga, apa sebenarnya makna keluarga bagi kita? Makna keluarga bagi setiap orang pasti berbeda. Ada yang bermakna prioritas pertama, ada yang bermakna pada siapa kita kembali, dan lain-lain.
Bagiku sendiri, makna keluarga adalah sekumpulan orang yang mau menerima kita apa adanya dan membuat kita mampu bersikap apa adanya pula. Ya, bagiku, keluarga adalah tempat dimana aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus memikirkan apa kata orang terkait nama baik keluarga.
Di depan suami dan anak-anak, aku bisa bersikap layaknya aku pribadi. Mereka bisa membedakan kapan saat aku bersikap sebagai istri, ibu maupun pribadi. Dan itu berlaku bagi semua anggota keluarga kami. Sehingga diantara kami, tidak ada yang namanya rahasia, kecuali memang yang bersifat privacy.
Kenyataannya, kami menikmati sikap yang diambil ini. Ada kalanya kami berperan sebagai orang tua dan anak. Ada pula saat kami berperan sebagai sesama. Dan hal inilah yang membuat hubungan kami menjadi nyaman. Setiap anak nyaman bercerita apa pun, dan kami pun orang tua dengan senang hati mendengarkannya.
Kondisi keluarga yang seperti ini memang tidak serta merta kami peroleh begitu saja. Berbagai tantangan hidup yang hadir dalam keluarga akhirnya membentuk kami menjadi keluarga yang kompak. Walaupun sedikit debat dan pertengkaran diantara anak-anak tetap menjadi bumbu dalam keluarga kami. Namun itulah yang menjadi pelangi keluarga.
Dengan berbagai karakter yang ada, memang tidak mudah untuk membuat kompak. Tapi dengan saling pengertian dan pemahaman antara masing-masing anggota keluarga, membuat kekompakan semakin terasa. Anak yang sudah besar dapat diandalkan untuk menggantikan peran orang tua disaat kami sedanf tidak di rumah. Anak yang kecil dapat diandalkan untuk membantu kakak-kakaknya. Sungguh suatu nikmat yang tak terkira.
Sehingga benar adanya makna dari ayat di surat Ar Rahman yang berbunyi,"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" Semoga dari apa yang menjadi tradisi dan kebiasaan keluarga kami dapat menghasilkan generasi muda Islam yang sholeh dan sholehah. Aamiin yaa Rabbal Aalamiin….

 

 Gambar mungkin berisi: 4 orang, termasuk Bintang Haykal Fikri, gunung, luar ruangan dan alam

Senin, 13 Juli 2020

Nasehat Seorang Ibu

Menjadi orang tua dalam hal ini seorang ibu memang tidak mudah. Apalagi saat anak-anak mulai beranjak remaja dan dewasa. Banyak perubahan yang akan terjadi, baik kepada anak maupun orang tua. Sebagai orang tua tentu selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dalam kondisi senang maupun sedih.

Saat anak sedang menghadapi permasalahan, orang tua tidak akan tinggal diam. Mereka akan berusaha memberikan bantuan semampunya. Setidaknya orang tua akan memberikan berbagai nasehat yang baik agar anak dapat menghadapi dan mengatasi permasalahannya dengan baik. Selain nasehat, orang tua juga akan membagikan pengalaman mereka terkait dengan permasalahan yang dihadapi anaknya.

Biasanya seorang anak akan menceritakan masalahnya kepada sang ibu daripada kepada ayahnya. Hal ini lebih kepada karena rata-rata ibulah yang selalu ada di samping si anak. Sehingga si anak lebih merasa nyaman untuk berkeluh kesah kepada ibunya. Diantara nasehat-nasehat yang diberikan ibu kepada anaknya adalah sebagai berikut :

Selalu Berfikir Positif

Dalam menghadapi permasalahan biasanya pikiran akan menjadi tidak menentu. Apalagi bila yang menghadapi permasalahan itu adalah anak-anak. Sebagai orang tua, ibu harus memberikan nasehat yang baik. Ibu dapat menasehati anaknya untuk selalu berfikir positif terhadap masalah yang dihadapinya. Dengan berfikir positif, maka permasalahan yang ada akan menjadi lebih mudah untuk dihadapi.

Bersabar

Meminta anak untuk bersabar saat menghadapi masalah merupakan keputusan yang sangat tepat. Memang sebaiknya ibu membuat anaknya untuk selalu bersabar saat masalah datang menghampiri. Ajari anak untuk menyerahkan semuanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar permasalahan yang ada cepat selesai.

Berdoa

Selain meminta anak untuk bersabar, ibu harus mengajarkan anak untuk selalu berdoa memohon yang terbaik kepada Sang Pemberi masalah. Berdoa merupakan salah satu ikhtiar dalam menghadapi masalah. Dengan berdoa, maka Allah akan memberikan yang terbaik kepada setiap umatnya. Hal tersebut akan membuat anak menjadi lebih kuat dalam menghadapi masalah.

Tidak Mudah Mengeluh

Membiasakan anak untuk tidak mudah mengeluh dalam menghadapi masalah menjadi nasehat tersendiri bagi anak. Terkadang anak merasa bahwa permasalahan yang dimilikinya sangat berat sehingga dia tidak sanggup menghadapinya lagi. Berilah nasehat kepada anak agar menjadi pribadi yang kuat dan tegar sehingga tidak akan mudah mengeluh apa pun keadaan yang sedang dihadapi.

Memberikan nasehat yang baik kepada anak dalam menghadaapi masalah memang menjadi tugas bagi setiap orang tua. Jika orang tua, dalam hal ini ibu, memberikan nasehat yang tepat, maka anak akan lebih mudah meresapi semua nasehat yang telah diberikan.


Selasa, 30 Juni 2020

Kesalahan sebagai Salah Satu Bagian dari Proses Belajar.

                 Bullying merupakan salah satu bentuk kekerasan yang dilakukan oleh satu atau sekelompok orang yang dengan sengaja melakukan tindakan-tindakan yang bersifat negatif secara berulang kali yang tujuannya untuk menyakiti, merendahkan atau menjatuhkan harga diri orang lain. Bullying terjadi karena ada kesenjangan kekuatan antara pelaku dan korbannya. Demikian penjelasan mengenai bullying yang disampaikan oleh salah seorang dosen Psikologi Ubaya dalam salah satu artikel di website Ubaya pada tanggal 3 Juni 2014.

                 Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang melakukan bullying. Salah satunya adalah karena memiliki Salah satunya adalah karena memiliki pengalaman masa lalu yang sama. Selain itu, orang tua juga memegang peranan penting dalam perilaku bullying. Pola asuh orang tua yang otoriter dan sering menggunakan hukuman fisik akan membuat si anak meniru perbuatan tersebut dan mempraktekannya kepada temannya. Sehingga muncullah perilaku bullying.

            Terkait bullying ini, aku mempunyai beberapa pengalaman yang dialami oleh anak-anakku. Hal ini disebabkan oleh didikanku yang cukup keras (walau jauh dari otoriter) dalam hal memberikan target pendidikan kepada anak-anak. Pola asuh yang demikian menyebabkan anak-anakku mengalami bullying dari teman-temannya. Hal ini dikarenakan rendahnya kepercayaan diri mereka akibat dari tingginya tuntutanku akan prestasi mereka.

            Pengalaman bullying di sekolah pertama kali dialami oleh anakku yang kedua pada saat kelas 3 SD. Akibat bullying tersebut dia sampai tidak bisa berjalan selama lebih dari 6 bulan dan meninggalkan pelajaran di sekolah hampir 1 tahun. Beruntung anakku termasuk anak yang berprestasi, jadi walau tidak bisa masuk sekolah dia masih mampu memahami pelajaran dari bukku-buku paket yang dia miliki. Dan pihak sekolahpun bersedia memberikan dispensasi terkait kondisi anakku tersebut.

Pengalaman bullying kedua dialami oleh anak ketigaku. Dia mengalaminya pada saat awal masuk Sekolah Dasar. Memang kesalahanku yang menyekolahkannya terlalu muda yang nota bene secara mental belum matang untuk menerima pelajaran di SD. Saat itu anakku baru berusia 5,5 tahun, masih dibawah standar masuk SD yaitu 6 tahun. Namun dikarenakan ambisiku yang menginginkan anakku segera sekolah, maka sejak usia 2,5 tahun anakku itu sudah masuk sekolah Play Group.

            Saat itu aku masih awam terhadap yang namanya parenting, aku terlalu fokus dalam mengejar karir. Dan salah satu alasan anakku cepat-cepat disekolahkan adalah agar anakku ada yang menjaga selama aku bekerja. Sungguh pemikiran yang picik untuk seorang ibu, namun saat itu keputusan itulah yang ideal menurutku.

            Seandainya saat itu aku mau mempelajari ilmu parenting, tentu aku akan lebih peka terhadap perilaku anak-anak. Sehingga anak keduaku tidak akan mengalami peristiwa yang menyakitkan tersebut. Namun nasi sudah menjadi bubur, aku tidak mau menyesali apa yang sudah terjadi. Sejak peristiwa bullying anak keduaku tersebut, aku sudah bertekad akan mempelajari ilmu parenting dimanapun itu berada.

            Dalam proses menebus kesalahanku kepada anak keduaku, terjadi peristiwa bullying kepada anakku. Lagi-lagi aku membuat kesalahan. Apabila sebelumnya kesalahanku adalah terlalu sibuk bekerja sehingga kurang peduli terhadap pengasuhan anak-anak. Kali ini kesalahanku adalah terlalu fokus belajar ilmu parenting sehingga aku kerap meninggalkan rumah untuk mengejar ilmu tersebut ke berbagai tempat. Alhasil, bukannya anak-anak dididik dan diasuh dengan baik tapi malah mendapatkan pengalaman bullying lagi.

            Saat itu aku terlalu sibuk mengejar ilmu namun lupa mempraktekannya. Dan sejak anak ketigaku menjadi korban bullying juga, aku mulai merasakan ada yang salah dengan diriku. Sampai akhirnya aku memutuskan menemui temanku yang berprofesi sebagai psikolog untuk mencari tahu apa sebenarnya yang salah pada diriku. Namun hasil analisa temanku itu menunjukkan aku baik-baik saja, hanya aku yang terlalu merasa bersalah sehingga berambisi untuk menguasai seluruh ilmu parenting yang ada di dunia ini sehingga melupakan hal yang paling mendasar dari sebuah ilmu. Yaitu mempraktekkan ilmu tersebut.

            Analisa temanku tersebut membuat aku tersentak sadar. Aku bertekad akan memperbaiki semuanya. Temanku tersebut memberikan saran agar aku memperbaiki diri sendiri dulu sebelum memperbaiki pengasuhan kepada anak-anakku. Karena menurutnya sebaik apapun metode pengasuhan yang diterapkan kepada anak-anak tapi apabila sang ibu masih belum beres dengan dirinya sendiri, maka hasil pengasuhannya pun tidak akan baik. Sesungguhnya baik buruknya hasil pengasuhan tergantung kepada sang ibu.

            Memang benar apa yang diajarkan dalam agama Islam. Baik buruk suatu generasi ditentukan oleh kualitas wanitanya. Apabila wanitanya baik maka akan dihasilkan generasi yang baik. Sebaliknya apabila wanitanya tidak baik maka generasi yang dihasilkan akan tidak baik juga. Begitupun yang terjadi dalam sebuah keluarga. Apabila sang ibu baik lahir bathinnya, maka akan dihasilkan anak-anak yang sholeh dan sholehah.

            Merasa tertampar oleh analisa temanku tersebut, aku semakin membulatkan tekad untuk tidak sekedar belajar ilmu parenting dan mempraktekannya, namun juga akan menjadi seorang konsultan parenting. “Tamparan” tersebut membuahkan sebuah tekad yang mulia, dan saat ini aku masih berproses ke arah sana.

Selasa, 23 Juni 2020

Remaja Muslim Masa Kini

Masa remaja merupakan masa dimana seseorang mengalami transisi dari masa kanak-kanak yang penuh ketergantungan menuju masa pembentukan tanggung jawab. Masa remaja ditandai dengan pengalaman-pengalaman baru baik di bidang fisik-biologis maupun psikis atau kejiwaan. Bagi wanita, masa remaja diawali dengan hadirnya menstruasi pertama. Sedangkan bagi laki-laki ditandai dengan keluarnya sperma dalam mimpi basah pertama.
Remaja di mata Islam merupakan tonggak kesuksesan. Hal ini dikarenakan remaja adalah generasi penerus Islam. Jika generasi remajanya bagus dan bisa mengamalkan Islam dengan baik, maka Islam juga akan semakin tangguh. Tetapi bila remajanya tidak mampu menjalankan apa-apa yang disyari’atkan oleh Islam, sehingga akhlaqnya rusak, maka Islam akan mudah sekali runtuh dan tidak memiliki kekuatan.
Dizaman millenial ini sisi pergaulan harus menjadi perhatian kita bersama. Maraknya pergaulan bebas, obat-obatan terlarang, dan lain sebagainya, yang muncul di media sosial. Serta banyaknya penyalahgunaan perkembangan teknologi , sudah seharusnya menjadi salah satu fokus perhatian kita. Ini semua adalah akibat dari salah pergaulan. Salah pergaulan disebabkan karena berbagai faktor, mulai dari factor keluarga yang kurang harmonis yang menyebabkan remaja frustasi sehingga mencari jalan yang salah. Faktor salah pilih teman yang sering mengajak kearah negatif. Juga faktor lingkungan yang mendukung untuk melakukan hal negatif, serta longgarnya batasan batasan pergaulan.

Minggu, 21 Juni 2020

Your Dream Your Passion

Selalu Ikuti Impian Kita, Jangan Sampai Hidup Dalam Penyesalan ...

Banyak dari kita hidup di bawah harapan orangtua, guru, dan teman-teman kita. Kita jarang bisa melakukan hal-hal yang benar-benar kita sukai dan cintai. Berada di bawah begitu banyak tekanan hingga pada usia 20 tahun, membuat kita merasa lelah dan memutuskan untuk membuang beban itu.

Terbebas dari stres dan tekanan, kita bekerja dengan antusias dan memimpikan keinginan dengan ambisius. Kita bagaikan kuda terlepas dari kandangnya. Kita bekerja sesuai dengan apa yang kita mau. Mengejar karir setinggi-tingginya demi merasakan apa yang selama ini hanya menjadi impian.

Tetapi saat kita mencapai usia 40 tahun, kita mulai kehilangan visi dan impian kita. Kita mulai merasa tidak puas. Mulai mengeluh serta mengkritik. Kita menjalani hidup sebagai penderitaan karena kita tidak pernah puas. Mulai menjalani hidup bagai zombie. Kondisi yang lebih parah dibandingkan dengan saat kita masih dibawah tekanan orang tua. Karena saat itu kita masih punya tujuan walaupun itu ditentukan oleh orang tua.

Namun saat kita hidup sebagai zombie, kita benar-benar sudah kehilangan arah dan tujuan. Hanya sekedar menjalani hidup apa adanya, mengalir begitu saja. Apabila seseorang sudah pada tahap kondisi seperti ini, maka sudah "red alert". Harus segera diperbaiki arah dan tujuan hidupnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut terjadi pada anak-anak kita, maka seyogyanya orang tua harus sudah bisa menggali apa yang menjadi impian anak-anaknya. Dimulai dari menggali bakat yang dimiliki sang anak. Selaraskan bakat yang ada dengan passion si anak.  Kemudian tentukan impian besarnya.
Mimpi yang selaras dengan passion akan menjadi sebuah kekuatan untuk menjalani hidup dengan penuh semangat dan antusias. Apalagi kalau disertai dengan bakat yang dimiliki. Maka pastikan impian anak-anak kita selaras dengan passion mereka. Bimbing mereka untuk tetap menggigit kuat-kuat impiannya, agar apapun yang terjadi, mereka tetap semangat menggapai impiannya.

Senin, 15 Juni 2020

Dinamika Belajar di Rumah : Happy Learning


            Tahun 2020 merupakan tahun yang tak akan terlupakan sepanjang masa oleh seluruh manusia di bumi ini. Betapa tidak, awal tahun ini diwarnai oleh pandemi yang bernama Covid-19. Berbagai negara di penjuru dunia menerapkan lockdown atau isolasi. Baik itu di level negara, kota, maupun perumahan. Semua dilakukan untuk mencegah penyebaran virus yang menjadi penyebab utamanya Covid-19, yaitu virus corona.

            Penerapan lockdown menyebabkan berhentinya berbagai aktivitas manusia, salah satunya adalah kegiatan belajar mengajar (KBM). Seluruh negara sepakat bahwa KBM di sekolah menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam penyebaran virus Covid-19. Apalagi di jenjang TK dan SD, dimana anak-anak masih belum memahami sepenuhnya bagaimana melakukan pembatasan sosial. Yang akhirnya dibuatlah keputusan penyelenggaraan KBM secara daring atau belajar di rumah.

            Pelaksanaan KBM secara daring ternyata menimbulkan banyak keluhan dari berbagai pihak, terutama orang tua siswa. Mereka yang terbiasa hanya mendampingi anak-anaknya mengerjakan tugas sekolah, kini dengan belajar di rumah ini harus mampu mengajarkan berbagai materi pelajaran dan tugas  yang diberikan kepada anak, yang sebelumnya tidak sempat dijelaskan gurunya di sekolah. Waktu mereka yang biasanya dihabiskan untuk mengurus segala pernak pernik urusan rumah tangga, kini tersita hanya untuk menemani dan membimbing anak-anaknya belajar di rumah.

            Alhamdulillah  selama masa belajar di rumah ini, saya dan anak-anak hampir tidak merasakan hal tersebut diatas. Hal ini dikarenakan saya menerapkan cara belajar sesuai dengan genetik mereka masing-masing, sehingga mereka bisa belajar di rumah secara nyaman dan santai walaupun menghadapi materi pelajaran yang belum diajarkan oleh gurunya.

            Penting bagi kita sebagai orang tua untuk memahami cara belajar anak. Tidak setiap anak mampu memahami pelajaran yang diberikan secara daring. Oleh karenanya kita sebagai orang tua harus mampu mengatur strategi agar anak kita dapat melewati masa belajar di rumah ini dengan nyaman, kadar stress dan tingkat kebosanan yang minimal.

            Hal tersebut membutuhkan usaha baik dari orang tua maupun anak. Orang tua harus mengingat-ingat kembali pelajaran jaman sekolah dulu yang nota bene sudah menguap entah kemana. Tanpa strategi yang baik, orang tua dalam hal ini ibu akan kerepotan dalam membuat manajemen waktu antara mengurus rumah dan mendampingi anak belajar daring.

Anak juga harus berjuang memahami materi pelajaran yang baru baginya, yang gurunya tidak sempat jelaskan di sekolah. Memahami pelajaran baru bisa menimbulkan tekanan tersendiri kepada anak, apalagi tambahan tugas-tugas yang materinya belum mereka kuasai. Kondisi ini akan membuat anak menjadi semakin tertekan.

            Dalam laman merdeka.com tanggal 25 April 2020, Kak Seto selaku Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia mengakui banyak anak-anak yang mengalami stress setelah menjalani pembelajaran di rumah. Hal ini dikarenakan si anak harus belajar bersama orang tuanya. Salah satu penyebabnya adalah cara orang tua dalam menghadapi anak-anaknya dikala tiba-tiba harus menjadi guru di rumah.

            Menurut Kak Seto, anak-anak merasa tertekan karena orang tua cenderung  melakukan pemaksaan dalam memberikan penjelasan materi pelajaran. Walaupun sebenarnya pemaksaan ini bertujuan agar anak-anak memahami materi yang diberikan. Cara yang berbeda yang mereka terima di sekolah saat diajari oleh para gurunya.

                Kondisi-kondisi diatas tidak akan terjadi apabila orang tua memahami gaya belajar anak-anaknya secara genetik. Terkadang ada orang tua yang merasa bahwa gaya belajar anaknya adalah audio karena lebih suka mendengarkan. Namun belum tentu seperti itu karena lingkungan tempat si anak tinggal juga berpengaruh terhadap gaya belajarnya. Namun gaya belajar yang dipengaruhi lingkungan ini tidak akan memberikan hasil yang optimal, karena bukan genetik mereka.

            Gaya belajar yang sesuai dengan genetik si anak akan memberikan hasil yang lebih maksimal. Anak akan merasa nyaman karena belajar dengan gayanya sendiri, orang tua pun tidak stress karena bingung bagaimana menyuruh anak untuk belajar. Gaya belajar sesuai genetik ini sangat membantu orang tua di masa belajar di rumah ini.

            Bagaimana caranya agar orang tua mengetahui gaya belajar anak yang sesuai dengan genetiknya? Tentu saja tidak dengan serta merta orang tua memahaminya, harus dilakukan sebuah tes. Ada berbagai macam test untuk mengetahui karakter anak, namun hanya satu yang hasilnya adalah karakter genetik anak, yaitu STIFIn. Genetik disini bukan berarti turunan dari orang tuanya, tapi lebih kepada bawaan lahir. Karena karakter genetik ini tidak diturunkan oleh orang tuanya, bahkan anak kembar pun bisa memiliki karakter genetik yang berbeda. 

            Tahun 2009, anak pertama dan kedua saya melakukan tes STIFIn di sekolah TK nya. Saat itu menjelang kenaikan kelas. Anak pertama akan masuk SD, anak kedua akan naik ke TK B. Dari hasil tes tersebut, saya jadi mengetahui karakter genetik mereka. Dan menjadi panduan saya dalam mendidik mereka. Kepada setiap walikelasnya pun, saya selalu menjelaskan gaya belajar mereka. Sehingga para guru memahami bagaimana memotivasi mereka untuk belajar. Hasilnya anak-anak selalu berada didalam 5 besar terbaik di kelasnya.

            Anak ketiga saya dites STIFIn pada tahun 2013, di awal kelas 1 SD. Setiap kenaikan kelas, saya jelaskan bagaimana gaya belajarnya kepada walikelas. Walaupun minat bakatnya bukan di akademik, namun anak saya tersebut bisa memperoleh nilai akademis melampaui KKM yang ditetapkan.

            Anak keempat saya dites STIFIn pada tahun 2018, menjelang masuk SD. Sampai saat ini guru-guru yang mengajarnya mengatakan bahwa mengajar anak saya tersebut tidak membuat pusing kepala karena sudah tau celahnya. Seperti halnya dengan kakak-kakaknya, hasil tes STIFIn anak saya ini juga dijelaskan kepada walikelasnya agar mereka memahami gaya belajar anak saya tersebut. Walaupun tampak seperti tidak mengikuti pelajaran, namun nilai-nilai yang dicapainya mengesankan. Bahkan di sempat meraih nilai terbaik di kelasnya.

            Dan dimasa pandemi ini, saya benar-benar merasakan manfaatnya. Dengan berbagai tugas, ujian dan materi-materi pelajaran yang belum sempat dijelaskan di kelas, saya terapkan gaya belajar menurut genetik ini kepada anak-anak saya. Sehingga saya masih tetap  bisa mengurus rumah seperti saat mereka di sekolah, memasak sesuai waktunya seperti sebelum ada pandemi.

            Keempat anak saya bisa saling berkolaborasi dalam melakukan pembelajaran di rumah ini. Sejak mengetahui karakter genetik masing-masing anak, saya memang sudah menjelaskan kepada mereka bagaimana karakter dia dan saudara-saudaranya. Bagaimana cara belajar masing-masing, sehingga saat pembelajaran di rumah mereka bisa kompak melakukannya dengan nyaman dan santai.

            Anak-anak bisa melakukan “happy learning” dalam kebersamaan yang selama ini jarang dirasakan akibat dari kesibukan di sekolah masing-masing. Si kakak bisa membantu menjelaskan materi pelajaran kepada si adik. Sebaliknya, si adik bisa membantu si kakak untuk tugas-tugas terkait prakarya. Sungguh suasana yang menyenangkan untuk kita sebagai orang tua, bukan?

            Oleh karena itu, saya menyarankan agar para orang tua mengetahui karakter genetik anaknya. Karena bukan hanya bermanfaat untuk selama masa pendemi saja, namun  juga untuk sepanjang kehidupan mereka. Saya sudah merasakan manfaat tes pengenalan karakter yang sudah dilakukan kepada anak-anak. Harapan saya, para orang tua yang lain pun bisa merasakan hal yang sama.

            Kesuksesan seorang anak adalah hasil dari pemahaman orang tua terhadap karakter si anak. Sehingga si anak akan dididik dan dibimbing sesuai dengan karakternya. Anak dan orang tua akan merasakan kenyamanan dan kelekatan, sehingga terciptalah yang namanya “Happy Learning dalam Kebersamaan”.