Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Agustus 2020

Tradisi yang Menghilang

 Gambar mungkin berisi: makanan

 

 Ada beberapa tradisi yang biasa keluarga kami lakukan menjelang bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Sejak aku sudah bisa mengingat peristiwa yang ada di bumi ini hingga buyut, nenek dan ibuku meninggal, kami selalu melakukannya. Namun saat buyutku meninggal, ada tradisi yang mulai tidak dilakukan. Setelah nenekku meninggal, beberapa tradisi menghilang. Dan sejak ibuku meninggal 4 tahun lalu, semua tradisi yang dulu kami lakukan benar-benar menghilang.
Terus terang aku sangat merindukan tradisi-tradisi tersebut. Ingin rasanya menghidupkan semua tradisi tersebut. Namun sepertinya kondisi yang ada tidak menunjang untukku melakukan berbagai tradisi jaman aku kecil. Tapi kalau aku mau berusaha, beberapa tradisi yang masih relevan dengan zaman sekarang bisa saja aku lakukan bersama anakku.
Dulu, saat aku masih kecil, menjelang Ramadhan kami mempunyai tradisi berziarah atau 'nyekar' ke makam-makam leluhur kami. Mulai yang berada di pemakaman kota sampai yang di kampung. Semua makam leluhur kami ziarahi. Aku paling suka saat moment menabur bunga.
Bunga-bunga yang kami tabur adalah hasil dari aneka bunga yang ditanam nenekku di pekarangan rumah. Kami tidak terbiasa membeli bunga tabur di areal pemakaman. Makanya bunga-bunga yang ditabur di makam leluhur kami biasanya berbeda dengan bunga-bunga yang ada di makam lainnya. Ziarah kubur biasanya kami lakukan seminggu sebelum Ramadhan.
Pada hari pertama Ramadhan, kami sekeluarga wajib berbuka puasa di rumah. Jadi saudara-saudara yang tinggal di luar kota biasanya pulang kampung untuk 'munggahan'. Sebutan yang kami berikan untuk acara buka bersama di hari pertama puasa. Tidak ada yang berani melanggar tradisi tersebut. Karena dipastikan akan mendapat wejangan panjang lebar dari buyut kami.
Saat masih ada buyutku, sejak hari pertama puasa, kami sudah mulai membuat aneka penganan untuk Idul Fitri nanti. Dimulai dari keripik ketan hitam, kerupuk gendar, kue satu, kue rangi, rengginang aneka rasa, kecimpring, kue kembang goyang, aneka kue kering diakhir oleh kue bolu dan puding santan saat malam takbiran.
Setiap hari kami membuat aneka penganan tersebut. Hingga nyaris aku tidak pernah merasakan lapar dan haus saat melaksanakan puasa karena sibuk membantu buyut dan nenekku membuat aneka penganan tersebut. Apalagi sehari menjelang Idul Fitri, buyut dan nenekku sudah sibuk membuat ketupat. Rasanya enak sekali karena ketupatnya dibuat diatas perapian bukan kompor. Wangi daun kelapanya dan warna kemerahannya membuat kami para cucu beliau sangat menggemari ketupatnya.
Setelah buyutku meninggal, tradisi membuat aneka keripik dan rengginang mulai tidak dilakukan. Nenekku hanya meneruskan tradisi membuat aneka kue kering dan makanan menjelang malam takbiran saja. Karena berkurangnya kesibukanku diawal Ramadhan, maka nenekku memasukkan aku ke sekolah agama. Maksudnya agar aku tetap ada kesibukan untuk mengisi liburan Ramadhanku.
Zaman aku kecil dulu, setiap bulan Ramadhan, sekolah libur sebulan lebih. Kami baru masuk sekolah lagi seminggu setelah Lebaran. Namun selama liburan tersebut kami tetap ada tugas yang harus dikumpulkan saat masuk kembali ke sekolah nanti. Ramadhan masa kecilku dulu benar-benar terasa menyenangkan.
Tradisi-tradisi tersebut tetap dilakukan sampai aku menikah dan mempunyai anak. Namun, setelah nenekku meninggal, tradisi membuat kue bolu dan puding santan saat malam takbiran, tidak pernah dilakukan lagi. Ibuku meneruskan tradisi membuat kue kering, walau macamnya tidak sebanyak yang nenekku buat, dan masak di malam takbiran. Tanpa kue bolu dan puding santan. Aku mulai kehilangan tradisi tersebut, namun memaklumi karena tidak mungkin ibuku melakukannya sendiri.
Ya, kami anak-anaknya sudah berumah tangga. Jarang kami bisa berkumpul secara komplit pada hari Lebaran karena kami biasa bergantian untuk berlebaran di mertua-mertua kami. Sehingga tidak mungkin bagi kami untuk selalu membantu mama memasak saat malam takbiran. Zaman sudah berubah, tradisi pun ikut berubah.
Setelah ibuku meninggal, semua tradisi tersebut tidak lagi dilakukan di keluarga besar kami. Aku benar-benar merasa kehilangan. Namun memang kondisi juga tidak memungkinkan. Beberapa kali aku mencoba menghidupkan kembali tradisi membuat kue kering dan kue bolu dirumahku, tapi rasanya tetap berbeda dengan masa kecil aku dulu.
Aku rindu masa-masa membantu buyut dan nenekku membuat aneka penganan Lebaran. Aku rindu dengan segala kebiasaan yang kami lakukan dulu. Mungkinkah aku menghidupkan lagi tradisi-tradisi tersebut di keluarga kecilku ini?

 

Selasa, 11 Agustus 2020

Antara Cita-Cita dan Impian

Keterangan foto tidak tersedia.

 

 Antara Cita-Cita dan Impian

Apa sebenarnya yang membedakan cita-cita dengan impian? Sebelum kita bahas lebih lanjut, kita cek dulu definisi cita-cita dan impian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Cita-cita adalah (1) keinginan (kehendak) yang selalu ada dalam pikiran, (2) tujuan yang sempurna (yang akan dicapai atau dilaksanakan).
Impian adalah (barang) yang diimpikan, barang yang sangat diinginkan.
Setelah membaca definisi kedua kata tersebut, jelas terlihat perbedaannya. Kalau cita-cita hanya sekedar ingin sementara impian menggunakan tambahan kata "sangat" ingin. Jadi kalau melihat dari sudut kekuatan keinginan, impian lebih kuat dibandingkan dengan cita-cita.
Itulah sebabnya, cita-cita seseorang bisa berubah. Tapi impian seseorang jarang berubah. Seseorang saat ditanya cita-cita masa kecil, jawabannya keren-keren. Ada yang jawab dokter, insinyur, pilot, polisi dan sebagainy. Tapi saat sudah dewasa, cita-citanya mayoritas berubah. Tidak lagi ingin jadi dokter atau insinyur, bisa jadi tiba-tiba jadi seniman.
Hal ini dikarenakan, saat kecil anak-anak melihat profesi-profesi tersebut tampak keren. Apalagi dengan seragam yang rapi, sungguh mempesona penampilannya. Tapi begitu beranjak dewasa, seseorang mulai memahami passionnya, bakatnya, maka seragam tidak lagi menjadi faktor yang menentukan cita-citanya. Dengan memahami passionnya, seseorang akan melakukan apapun agar bisa melakukan passionnya.
Passion inilah yang membedakan seseorang dalam mencapai cita-cita dan impiannya. Cita-cita biasanya tanpa disertai passion, tapi kalau impian, sudah pasti didasari oleh passion. Maka, mulailah menggali passion anak-anak kita sejak dini. Agar cita-citanya sejalan dengan impiannya. Apabila cita-cita sudah sejalan dengan impian, mudah bagi orang tua untuk mengarahkannya. Jangan sampai orang tua mengeluarkan stupid cost yang besar karena tidak memahami passion anaknya.
Contoh saya, sejak kecil bercita-cita menjadi dokter. Pertengahan jalan ketahuan kalau saya ternyata tidak kuat melihat darah. Maka buyarlah cita-cita menjadi dokter. Tapi saat itu saya belum menyadari bahwa menjadi dokter bukanlah impian saya. Aktivitas yang paling saya sukai adalah mendengarkan curhat orang lain. Dan ternyata, itulah yang menjadi impian saya. Keinginan untuk mendengarkan curhat orang lain dan memberikan support kepada mereka terus muncul dan semakin hari semakin kuat.
Dan seperti pepatah mengatakan, life begin at 40. Kehidupan saya menjalani profesi Solver dimulai saat usia 40 tahun.
Kalau dilihat dari sisi usia, saya termasuk terlambat mencapai impian saya. Tapi dari sisi pencapaian, lebih baik terlambat daripada tidak berusaha mencapainya sama sekali.
Jadi, jangan pernah berhenti mengejar impianmu. Saat engkau mempunyai impian, pegang erat, lakukan yang terbaik untuk meraihnya. Jangan biarkan siapapun mencoba menghalangimu untuk meraihnya. Yakin, Allah akan memberikan jalan bagi orang yang bersungguh-sungguh.

 

Senin, 10 Agustus 2020

My Family

Keluarga, apa sebenarnya makna keluarga bagi kita? Makna keluarga bagi setiap orang pasti berbeda. Ada yang bermakna prioritas pertama, ada yang bermakna pada siapa kita kembali, dan lain-lain.
Bagiku sendiri, makna keluarga adalah sekumpulan orang yang mau menerima kita apa adanya dan membuat kita mampu bersikap apa adanya pula. Ya, bagiku, keluarga adalah tempat dimana aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus memikirkan apa kata orang terkait nama baik keluarga.
Di depan suami dan anak-anak, aku bisa bersikap layaknya aku pribadi. Mereka bisa membedakan kapan saat aku bersikap sebagai istri, ibu maupun pribadi. Dan itu berlaku bagi semua anggota keluarga kami. Sehingga diantara kami, tidak ada yang namanya rahasia, kecuali memang yang bersifat privacy.
Kenyataannya, kami menikmati sikap yang diambil ini. Ada kalanya kami berperan sebagai orang tua dan anak. Ada pula saat kami berperan sebagai sesama. Dan hal inilah yang membuat hubungan kami menjadi nyaman. Setiap anak nyaman bercerita apa pun, dan kami pun orang tua dengan senang hati mendengarkannya.
Kondisi keluarga yang seperti ini memang tidak serta merta kami peroleh begitu saja. Berbagai tantangan hidup yang hadir dalam keluarga akhirnya membentuk kami menjadi keluarga yang kompak. Walaupun sedikit debat dan pertengkaran diantara anak-anak tetap menjadi bumbu dalam keluarga kami. Namun itulah yang menjadi pelangi keluarga.
Dengan berbagai karakter yang ada, memang tidak mudah untuk membuat kompak. Tapi dengan saling pengertian dan pemahaman antara masing-masing anggota keluarga, membuat kekompakan semakin terasa. Anak yang sudah besar dapat diandalkan untuk menggantikan peran orang tua disaat kami sedanf tidak di rumah. Anak yang kecil dapat diandalkan untuk membantu kakak-kakaknya. Sungguh suatu nikmat yang tak terkira.
Sehingga benar adanya makna dari ayat di surat Ar Rahman yang berbunyi,"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" Semoga dari apa yang menjadi tradisi dan kebiasaan keluarga kami dapat menghasilkan generasi muda Islam yang sholeh dan sholehah. Aamiin yaa Rabbal Aalamiin….

 

 Gambar mungkin berisi: 4 orang, termasuk Bintang Haykal Fikri, gunung, luar ruangan dan alam

Rabu, 22 Juli 2020

Hadiah Terindah

Hari ini adalah hari jadiku yang ke 43. Menjadi hari jadi yang paling istimewa sepanjang sejarah hidupku. Karena di usia yang sudah melebihi kepala 4, Allah masih memberikan kepercayaan padaku untuk mendidik dan mengasuh anak kembali. Sungguh aku masih belum faham makna dibalik hadiah ini, tapi kuyakin satu hal, pasti akan ada pelajaran yang ingin Allah berikan kepadaku.

 

 

Mengapa aku mengambil kesimpulan seperti ini? Karena apabila dilihat sisi kesehatan, kecil kemungkinan aku bisa hamil lagi. Dengan riwayat 6 kali keguguran dari 10 kehamilan yang sudah aku hadapi, dokter menyarankan aku untuk tidak hamil lagi. Disamping itu, faktor kesehatan suamiku juga menunjang aku untuk tidak bisa hamil lagi.

Hampir di setiap kehamilanku, aku tidak menyadarinya. Entah mungkin karena aktivitasku yang cukup padat atau mungkin karena aku baru mengalama hyperemesis saat kehamilanku sudah melewati usia 8 minggu. Namun untuk kehamilanku yang sekarang, aku merasakan hyperemesis mulai dari usia kehamilan 4 minggu. Sebelum aku periksa ke dokter, aku sudah mengalami hyperemesis. Itulah yang membuat aku memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Padahal sejak pandemi, kalau tidak emergency, aku tidak akan pergi ke rumah sakit.

Dan tanggal 21 Juli 2020, dokter menyatakan bahwa aku positif hamil. Antara kaget, senang dan khawatir. Kaget karena beberapa bulan lalu aku baru saja mengalami keguguran. Senang karena Allah masih mempercayakan amanah ini kepadaku. Khawatir karena aku takut kehamilanku akan berakhir seperti kehamilan sebelumnya. Ya, beberapa bulan lalu aku keguguran karena terlambat memeriksakan diri ke dokter sehingga aku tidak mendapat obat untuk menguatkan kandungan.

Betapa aku bersujud syukur menerima hadiah ini. Walau sedikit khawatir, aku akan menjalani kehamilan ini dengan kebahagiaan. Akan kujaga kehamilan ini dengan sebaik-baiknya. Hamil diusia lebih dari 40 tahun adalah diluar perkiraanku. Walau banyak dari temanku yang mengalami hal ini, tetap saja aku merasa galau. Namun aku sudah bertekad, kehamilan ini akan menjadi kehamilan yang paling istimewa. Karena aku mengalaminya di usia lebih dari 40 tahun plus kehamilan ini terjadi di masa pandemi.

Aku yakin segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Kehamilan ini pun terjadi atas izin dan kehendak Allah. aku yakin Allah akan membantuku dan menjagaku menjalani kehamilan ini. Bismillah, biidznillah...

Senin, 13 Juli 2020

Nasehat Seorang Ibu

Menjadi orang tua dalam hal ini seorang ibu memang tidak mudah. Apalagi saat anak-anak mulai beranjak remaja dan dewasa. Banyak perubahan yang akan terjadi, baik kepada anak maupun orang tua. Sebagai orang tua tentu selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dalam kondisi senang maupun sedih.

Saat anak sedang menghadapi permasalahan, orang tua tidak akan tinggal diam. Mereka akan berusaha memberikan bantuan semampunya. Setidaknya orang tua akan memberikan berbagai nasehat yang baik agar anak dapat menghadapi dan mengatasi permasalahannya dengan baik. Selain nasehat, orang tua juga akan membagikan pengalaman mereka terkait dengan permasalahan yang dihadapi anaknya.

Biasanya seorang anak akan menceritakan masalahnya kepada sang ibu daripada kepada ayahnya. Hal ini lebih kepada karena rata-rata ibulah yang selalu ada di samping si anak. Sehingga si anak lebih merasa nyaman untuk berkeluh kesah kepada ibunya. Diantara nasehat-nasehat yang diberikan ibu kepada anaknya adalah sebagai berikut :

Selalu Berfikir Positif

Dalam menghadapi permasalahan biasanya pikiran akan menjadi tidak menentu. Apalagi bila yang menghadapi permasalahan itu adalah anak-anak. Sebagai orang tua, ibu harus memberikan nasehat yang baik. Ibu dapat menasehati anaknya untuk selalu berfikir positif terhadap masalah yang dihadapinya. Dengan berfikir positif, maka permasalahan yang ada akan menjadi lebih mudah untuk dihadapi.

Bersabar

Meminta anak untuk bersabar saat menghadapi masalah merupakan keputusan yang sangat tepat. Memang sebaiknya ibu membuat anaknya untuk selalu bersabar saat masalah datang menghampiri. Ajari anak untuk menyerahkan semuanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar permasalahan yang ada cepat selesai.

Berdoa

Selain meminta anak untuk bersabar, ibu harus mengajarkan anak untuk selalu berdoa memohon yang terbaik kepada Sang Pemberi masalah. Berdoa merupakan salah satu ikhtiar dalam menghadapi masalah. Dengan berdoa, maka Allah akan memberikan yang terbaik kepada setiap umatnya. Hal tersebut akan membuat anak menjadi lebih kuat dalam menghadapi masalah.

Tidak Mudah Mengeluh

Membiasakan anak untuk tidak mudah mengeluh dalam menghadapi masalah menjadi nasehat tersendiri bagi anak. Terkadang anak merasa bahwa permasalahan yang dimilikinya sangat berat sehingga dia tidak sanggup menghadapinya lagi. Berilah nasehat kepada anak agar menjadi pribadi yang kuat dan tegar sehingga tidak akan mudah mengeluh apa pun keadaan yang sedang dihadapi.

Memberikan nasehat yang baik kepada anak dalam menghadaapi masalah memang menjadi tugas bagi setiap orang tua. Jika orang tua, dalam hal ini ibu, memberikan nasehat yang tepat, maka anak akan lebih mudah meresapi semua nasehat yang telah diberikan.


Selasa, 30 Juni 2020

Kesalahan sebagai Salah Satu Bagian dari Proses Belajar.

                 Bullying merupakan salah satu bentuk kekerasan yang dilakukan oleh satu atau sekelompok orang yang dengan sengaja melakukan tindakan-tindakan yang bersifat negatif secara berulang kali yang tujuannya untuk menyakiti, merendahkan atau menjatuhkan harga diri orang lain. Bullying terjadi karena ada kesenjangan kekuatan antara pelaku dan korbannya. Demikian penjelasan mengenai bullying yang disampaikan oleh salah seorang dosen Psikologi Ubaya dalam salah satu artikel di website Ubaya pada tanggal 3 Juni 2014.

                 Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang melakukan bullying. Salah satunya adalah karena memiliki Salah satunya adalah karena memiliki pengalaman masa lalu yang sama. Selain itu, orang tua juga memegang peranan penting dalam perilaku bullying. Pola asuh orang tua yang otoriter dan sering menggunakan hukuman fisik akan membuat si anak meniru perbuatan tersebut dan mempraktekannya kepada temannya. Sehingga muncullah perilaku bullying.

            Terkait bullying ini, aku mempunyai beberapa pengalaman yang dialami oleh anak-anakku. Hal ini disebabkan oleh didikanku yang cukup keras (walau jauh dari otoriter) dalam hal memberikan target pendidikan kepada anak-anak. Pola asuh yang demikian menyebabkan anak-anakku mengalami bullying dari teman-temannya. Hal ini dikarenakan rendahnya kepercayaan diri mereka akibat dari tingginya tuntutanku akan prestasi mereka.

            Pengalaman bullying di sekolah pertama kali dialami oleh anakku yang kedua pada saat kelas 3 SD. Akibat bullying tersebut dia sampai tidak bisa berjalan selama lebih dari 6 bulan dan meninggalkan pelajaran di sekolah hampir 1 tahun. Beruntung anakku termasuk anak yang berprestasi, jadi walau tidak bisa masuk sekolah dia masih mampu memahami pelajaran dari bukku-buku paket yang dia miliki. Dan pihak sekolahpun bersedia memberikan dispensasi terkait kondisi anakku tersebut.

Pengalaman bullying kedua dialami oleh anak ketigaku. Dia mengalaminya pada saat awal masuk Sekolah Dasar. Memang kesalahanku yang menyekolahkannya terlalu muda yang nota bene secara mental belum matang untuk menerima pelajaran di SD. Saat itu anakku baru berusia 5,5 tahun, masih dibawah standar masuk SD yaitu 6 tahun. Namun dikarenakan ambisiku yang menginginkan anakku segera sekolah, maka sejak usia 2,5 tahun anakku itu sudah masuk sekolah Play Group.

            Saat itu aku masih awam terhadap yang namanya parenting, aku terlalu fokus dalam mengejar karir. Dan salah satu alasan anakku cepat-cepat disekolahkan adalah agar anakku ada yang menjaga selama aku bekerja. Sungguh pemikiran yang picik untuk seorang ibu, namun saat itu keputusan itulah yang ideal menurutku.

            Seandainya saat itu aku mau mempelajari ilmu parenting, tentu aku akan lebih peka terhadap perilaku anak-anak. Sehingga anak keduaku tidak akan mengalami peristiwa yang menyakitkan tersebut. Namun nasi sudah menjadi bubur, aku tidak mau menyesali apa yang sudah terjadi. Sejak peristiwa bullying anak keduaku tersebut, aku sudah bertekad akan mempelajari ilmu parenting dimanapun itu berada.

            Dalam proses menebus kesalahanku kepada anak keduaku, terjadi peristiwa bullying kepada anakku. Lagi-lagi aku membuat kesalahan. Apabila sebelumnya kesalahanku adalah terlalu sibuk bekerja sehingga kurang peduli terhadap pengasuhan anak-anak. Kali ini kesalahanku adalah terlalu fokus belajar ilmu parenting sehingga aku kerap meninggalkan rumah untuk mengejar ilmu tersebut ke berbagai tempat. Alhasil, bukannya anak-anak dididik dan diasuh dengan baik tapi malah mendapatkan pengalaman bullying lagi.

            Saat itu aku terlalu sibuk mengejar ilmu namun lupa mempraktekannya. Dan sejak anak ketigaku menjadi korban bullying juga, aku mulai merasakan ada yang salah dengan diriku. Sampai akhirnya aku memutuskan menemui temanku yang berprofesi sebagai psikolog untuk mencari tahu apa sebenarnya yang salah pada diriku. Namun hasil analisa temanku itu menunjukkan aku baik-baik saja, hanya aku yang terlalu merasa bersalah sehingga berambisi untuk menguasai seluruh ilmu parenting yang ada di dunia ini sehingga melupakan hal yang paling mendasar dari sebuah ilmu. Yaitu mempraktekkan ilmu tersebut.

            Analisa temanku tersebut membuat aku tersentak sadar. Aku bertekad akan memperbaiki semuanya. Temanku tersebut memberikan saran agar aku memperbaiki diri sendiri dulu sebelum memperbaiki pengasuhan kepada anak-anakku. Karena menurutnya sebaik apapun metode pengasuhan yang diterapkan kepada anak-anak tapi apabila sang ibu masih belum beres dengan dirinya sendiri, maka hasil pengasuhannya pun tidak akan baik. Sesungguhnya baik buruknya hasil pengasuhan tergantung kepada sang ibu.

            Memang benar apa yang diajarkan dalam agama Islam. Baik buruk suatu generasi ditentukan oleh kualitas wanitanya. Apabila wanitanya baik maka akan dihasilkan generasi yang baik. Sebaliknya apabila wanitanya tidak baik maka generasi yang dihasilkan akan tidak baik juga. Begitupun yang terjadi dalam sebuah keluarga. Apabila sang ibu baik lahir bathinnya, maka akan dihasilkan anak-anak yang sholeh dan sholehah.

            Merasa tertampar oleh analisa temanku tersebut, aku semakin membulatkan tekad untuk tidak sekedar belajar ilmu parenting dan mempraktekannya, namun juga akan menjadi seorang konsultan parenting. “Tamparan” tersebut membuahkan sebuah tekad yang mulia, dan saat ini aku masih berproses ke arah sana.

Senin, 15 Juni 2020

Dinamika Belajar di Rumah : Happy Learning


            Tahun 2020 merupakan tahun yang tak akan terlupakan sepanjang masa oleh seluruh manusia di bumi ini. Betapa tidak, awal tahun ini diwarnai oleh pandemi yang bernama Covid-19. Berbagai negara di penjuru dunia menerapkan lockdown atau isolasi. Baik itu di level negara, kota, maupun perumahan. Semua dilakukan untuk mencegah penyebaran virus yang menjadi penyebab utamanya Covid-19, yaitu virus corona.

            Penerapan lockdown menyebabkan berhentinya berbagai aktivitas manusia, salah satunya adalah kegiatan belajar mengajar (KBM). Seluruh negara sepakat bahwa KBM di sekolah menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam penyebaran virus Covid-19. Apalagi di jenjang TK dan SD, dimana anak-anak masih belum memahami sepenuhnya bagaimana melakukan pembatasan sosial. Yang akhirnya dibuatlah keputusan penyelenggaraan KBM secara daring atau belajar di rumah.

            Pelaksanaan KBM secara daring ternyata menimbulkan banyak keluhan dari berbagai pihak, terutama orang tua siswa. Mereka yang terbiasa hanya mendampingi anak-anaknya mengerjakan tugas sekolah, kini dengan belajar di rumah ini harus mampu mengajarkan berbagai materi pelajaran dan tugas  yang diberikan kepada anak, yang sebelumnya tidak sempat dijelaskan gurunya di sekolah. Waktu mereka yang biasanya dihabiskan untuk mengurus segala pernak pernik urusan rumah tangga, kini tersita hanya untuk menemani dan membimbing anak-anaknya belajar di rumah.

            Alhamdulillah  selama masa belajar di rumah ini, saya dan anak-anak hampir tidak merasakan hal tersebut diatas. Hal ini dikarenakan saya menerapkan cara belajar sesuai dengan genetik mereka masing-masing, sehingga mereka bisa belajar di rumah secara nyaman dan santai walaupun menghadapi materi pelajaran yang belum diajarkan oleh gurunya.

            Penting bagi kita sebagai orang tua untuk memahami cara belajar anak. Tidak setiap anak mampu memahami pelajaran yang diberikan secara daring. Oleh karenanya kita sebagai orang tua harus mampu mengatur strategi agar anak kita dapat melewati masa belajar di rumah ini dengan nyaman, kadar stress dan tingkat kebosanan yang minimal.

            Hal tersebut membutuhkan usaha baik dari orang tua maupun anak. Orang tua harus mengingat-ingat kembali pelajaran jaman sekolah dulu yang nota bene sudah menguap entah kemana. Tanpa strategi yang baik, orang tua dalam hal ini ibu akan kerepotan dalam membuat manajemen waktu antara mengurus rumah dan mendampingi anak belajar daring.

Anak juga harus berjuang memahami materi pelajaran yang baru baginya, yang gurunya tidak sempat jelaskan di sekolah. Memahami pelajaran baru bisa menimbulkan tekanan tersendiri kepada anak, apalagi tambahan tugas-tugas yang materinya belum mereka kuasai. Kondisi ini akan membuat anak menjadi semakin tertekan.

            Dalam laman merdeka.com tanggal 25 April 2020, Kak Seto selaku Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia mengakui banyak anak-anak yang mengalami stress setelah menjalani pembelajaran di rumah. Hal ini dikarenakan si anak harus belajar bersama orang tuanya. Salah satu penyebabnya adalah cara orang tua dalam menghadapi anak-anaknya dikala tiba-tiba harus menjadi guru di rumah.

            Menurut Kak Seto, anak-anak merasa tertekan karena orang tua cenderung  melakukan pemaksaan dalam memberikan penjelasan materi pelajaran. Walaupun sebenarnya pemaksaan ini bertujuan agar anak-anak memahami materi yang diberikan. Cara yang berbeda yang mereka terima di sekolah saat diajari oleh para gurunya.

                Kondisi-kondisi diatas tidak akan terjadi apabila orang tua memahami gaya belajar anak-anaknya secara genetik. Terkadang ada orang tua yang merasa bahwa gaya belajar anaknya adalah audio karena lebih suka mendengarkan. Namun belum tentu seperti itu karena lingkungan tempat si anak tinggal juga berpengaruh terhadap gaya belajarnya. Namun gaya belajar yang dipengaruhi lingkungan ini tidak akan memberikan hasil yang optimal, karena bukan genetik mereka.

            Gaya belajar yang sesuai dengan genetik si anak akan memberikan hasil yang lebih maksimal. Anak akan merasa nyaman karena belajar dengan gayanya sendiri, orang tua pun tidak stress karena bingung bagaimana menyuruh anak untuk belajar. Gaya belajar sesuai genetik ini sangat membantu orang tua di masa belajar di rumah ini.

            Bagaimana caranya agar orang tua mengetahui gaya belajar anak yang sesuai dengan genetiknya? Tentu saja tidak dengan serta merta orang tua memahaminya, harus dilakukan sebuah tes. Ada berbagai macam test untuk mengetahui karakter anak, namun hanya satu yang hasilnya adalah karakter genetik anak, yaitu STIFIn. Genetik disini bukan berarti turunan dari orang tuanya, tapi lebih kepada bawaan lahir. Karena karakter genetik ini tidak diturunkan oleh orang tuanya, bahkan anak kembar pun bisa memiliki karakter genetik yang berbeda. 

            Tahun 2009, anak pertama dan kedua saya melakukan tes STIFIn di sekolah TK nya. Saat itu menjelang kenaikan kelas. Anak pertama akan masuk SD, anak kedua akan naik ke TK B. Dari hasil tes tersebut, saya jadi mengetahui karakter genetik mereka. Dan menjadi panduan saya dalam mendidik mereka. Kepada setiap walikelasnya pun, saya selalu menjelaskan gaya belajar mereka. Sehingga para guru memahami bagaimana memotivasi mereka untuk belajar. Hasilnya anak-anak selalu berada didalam 5 besar terbaik di kelasnya.

            Anak ketiga saya dites STIFIn pada tahun 2013, di awal kelas 1 SD. Setiap kenaikan kelas, saya jelaskan bagaimana gaya belajarnya kepada walikelas. Walaupun minat bakatnya bukan di akademik, namun anak saya tersebut bisa memperoleh nilai akademis melampaui KKM yang ditetapkan.

            Anak keempat saya dites STIFIn pada tahun 2018, menjelang masuk SD. Sampai saat ini guru-guru yang mengajarnya mengatakan bahwa mengajar anak saya tersebut tidak membuat pusing kepala karena sudah tau celahnya. Seperti halnya dengan kakak-kakaknya, hasil tes STIFIn anak saya ini juga dijelaskan kepada walikelasnya agar mereka memahami gaya belajar anak saya tersebut. Walaupun tampak seperti tidak mengikuti pelajaran, namun nilai-nilai yang dicapainya mengesankan. Bahkan di sempat meraih nilai terbaik di kelasnya.

            Dan dimasa pandemi ini, saya benar-benar merasakan manfaatnya. Dengan berbagai tugas, ujian dan materi-materi pelajaran yang belum sempat dijelaskan di kelas, saya terapkan gaya belajar menurut genetik ini kepada anak-anak saya. Sehingga saya masih tetap  bisa mengurus rumah seperti saat mereka di sekolah, memasak sesuai waktunya seperti sebelum ada pandemi.

            Keempat anak saya bisa saling berkolaborasi dalam melakukan pembelajaran di rumah ini. Sejak mengetahui karakter genetik masing-masing anak, saya memang sudah menjelaskan kepada mereka bagaimana karakter dia dan saudara-saudaranya. Bagaimana cara belajar masing-masing, sehingga saat pembelajaran di rumah mereka bisa kompak melakukannya dengan nyaman dan santai.

            Anak-anak bisa melakukan “happy learning” dalam kebersamaan yang selama ini jarang dirasakan akibat dari kesibukan di sekolah masing-masing. Si kakak bisa membantu menjelaskan materi pelajaran kepada si adik. Sebaliknya, si adik bisa membantu si kakak untuk tugas-tugas terkait prakarya. Sungguh suasana yang menyenangkan untuk kita sebagai orang tua, bukan?

            Oleh karena itu, saya menyarankan agar para orang tua mengetahui karakter genetik anaknya. Karena bukan hanya bermanfaat untuk selama masa pendemi saja, namun  juga untuk sepanjang kehidupan mereka. Saya sudah merasakan manfaat tes pengenalan karakter yang sudah dilakukan kepada anak-anak. Harapan saya, para orang tua yang lain pun bisa merasakan hal yang sama.

            Kesuksesan seorang anak adalah hasil dari pemahaman orang tua terhadap karakter si anak. Sehingga si anak akan dididik dan dibimbing sesuai dengan karakternya. Anak dan orang tua akan merasakan kenyamanan dan kelekatan, sehingga terciptalah yang namanya “Happy Learning dalam Kebersamaan”.

Senin, 20 April 2020

Anakku Jalan Hijrahku

             8 tahun yang lalu, secara terpaksa kamu harus dilahirkan, anakku. Kondisimu tidak memungkinkan untuk tinggal lebih lama di rahim bunda. Secepatnya kamu harus keluar demi menyelamatkan nyawamu yang sudah kita perjuangkan untuk dipertahankan.

              Oktober 2011, badan yang terasa lemas dan lesu selama seminggu lebih ternyata menandakan bahwa aku sedang hamil. Kaget, bahagia dan khawatir bercampur aduk saat menerima kabar tersebut. Ada trauma tersendiri setelah mengalami 7x kehamilan dan 4 diantaranya keguguran. Namun aku tetap bersyukur karena yakin pasti akan ada hikmah yang sedang Allah coba tunjukkan kepadaku.                                 Memasuki minggu 12, aku mengalami pendarahan. Hal yang selalu terjadi di minggu yang sama pada tiga kehamilan sebelumnya. Dokter kandungan memang melarangku untuk beraktivitas di trimester pertama. Namun demi karir yang sedang menanjak, aku selalu mengabaikan peringatan dokterku tersebut.

            Pada kehamilan ini aku sering merasakan kontraksi, namun di minggu ke 12 ini kontraksi tersebut mengakibatkan pendarahan. Sehingga aku harus segera pergi ke rumah sakit.      Tiba di rumah sakit aku langsung ke IGD untuk melihat kondisi janinku. Dari hasil USG, dokter menyatakan bahwa aliran nutrisi ke janinku kurang baik dikarenakan tingkat stress yang kuhadapi. Dokter memutuskan aku harus dirawat agar dapat beristirahat untuk memperbaiki kondisi janinku.

            Selama dirawat di rumah sakit, aku seringkali merenung mencoba mencari pesan yang Allah ingin sampaikan kepadaku melalui peristiwa-peristiwa ini. Dari hasil perenungan dan berbagai masukan dari teman-teman kantor, aku memutuskan untuk mengajukan mutasi ke bagian yang tidak memerlukan pergi ke lapangan.

            Seminggu setelah kembali ke kantor, aku mengalami pendarahan lagi. Aku diharuskan bedrest total, tidak boleh turun sama sekali dari tempat tidur mengingat riwayat keguguran berulang yang pernah kualami. Kali ini aku bertekad apapun akan kulakukan untuk mempertahankan janinku.

            Rupanya Allah mendengar tekadku. Memasuki trimester kedua, setiap aku bergerak, perutku berkontraksi sehingga keluar vlek. Praktis  selama hamil aku tidak bisa pergi ke kantor. Pihak kantor tidak mau tahu dengan kondisiku dan tetap meminta aku  kembali bekerja. Sementara dokter kandungan memvonis aku tidak boleh banyak bergerak apabila janinku ingin selamat.

            Dengan mengucapkan bismillah, aku meminta ijin kepada suami untuk resign dari pekerjaanku. Tidak sampai sebulan setelah resign, aku melahirkan. Rupanya bayiku ingin segera menghirup udara dunia, dia minta dilahirkan di usia kandungan 32 minggu 3 hari melalui operasi caesar.

            Perjuangan kami belum selesai, 2 jam setelah kelahirannya bayiku kritis dikarenakan paru-parunya tidak mengembang dan dirujuk ke sebuah rumah sakit khusus ibu dan anak. Sebelum aku sadar dari pengaruh obat bius, aku sudah dipisahkan dari bayiku. Hikmahnya, aku menjadi lebih cepat pulih dari operasi.

            Pulang dari rumah sakit, aku langsung menengok bayiku. Aku tak sanggup menahan tangis melihat kondisinya yang dipenuhi berbagai selang. Kubisikkan kedatanganku dan memotivasinya terus berjuang. Setiap hari aku ke rumah sakit mendampingi bayiku. Hampir seharian aku di rumah sakit, berharap keajaiban datang. Aku meminta maaf kepada anak-anakku yang lain dan mencoba memberi pengertian bahwa saat ini aku harus fokus kepada adik mereka sehingga untuk sementara mereka tidak bisa mendapatkan perhatianku. Alhamdulillah anak-anakku mengerti dan mereka sangat menantikan kehadiran adik kecilnya di rumah.

Minggu pertama di NICU, bayiku beberapa kali mengalami kritis. Sempat tidak dapat bernafas walau sudah dibantu oleh ventilator. Aku dan suami meminta kepada dokter agar memberikan tindakan apapun yang diperlukan agar bayiku bisa tetap bertahan. Dokter mengatakan bahwa yang diperlukan bayiku hanyalah doa.

            Pertengahan minggu ketiga, bayiku sudah mulai bisa mencerna ASI. Gembira rasanya apalagi bayiku menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Di awal minggu keempat, bayiku sudah bisa dipindahkan ke ruang neonatal biasa dan minum ASInya tidak lagi melalui selang tapi dari botol. Suster memintaku untuk memberikan ASI sesuai jadwal yang sudah ditetapkan.

            Memasuki minggu kelima, anakku sudah lepas dari berbagai selang yang selama ini membantunya bertahan. Namun bilirubinnya masih tinggi, bayiku harus diterapi sinar ultraviolet. Dokter menyarankan agar bayiku digendong setiap jadwal pemberian ASI agar bisa merasakan kelekatan dengan ibunya. Diharapkan bayiku bisa minum ASI lebih banyak sehingga bilirubinnya bisa turun.

Namun ternyata walau sudah dilakukan hal tersebut, bilirubin bayiku tetap tinggi. Dari hasil cek darah dan pemeriksaan lab lainnya, ditemukan bahwa bayiku mengalami breastmilk jaundice, yaitu bayi kuning karena ASI. Penyakit ini sangat jarang terjadi namun tidak membahayakan dan biasanya hanya berlangsung 1-2 hari. Dokter menyarankan agar bayiku tidak disusui dulu selama sehari untuk mengecek penurunan bilirubinnya. Alhamdulillah, setelah tidak disusui sehari, bilirubin bayiku turun walau belum pada angka normal yaitu 5.

Akhirnya setelah hampir 2 bulan dirawat, bayiku bisa berkumpu bersama kakak-kakaknya. Dan memang selama dirumah, bayiku menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Suamiku menyiapkan boks bayi yang sudah dipasangi lampu ultraviolet karena bayiku masih terlihat kuning. Sampai usia 4 bulan, bayiku masih tetap diterapi sinar ultraviolet selain dijemur dipagi hari karena wajah dan badannya masih terlihat kuning.

Alhamdullillah, sampai saat ini bayiku berkembang sesuai dengan perkembangan bayi normal. Walaupun dokter sudah mengingatkan aku untuk tidak berharap bahwa bayiku akan berkembang sesuai dengan perkembangan bayi yang lahir normal. Namun kenyataan menunjukkan bahwa perkataan dokter tidak terbukti kepada bayiku.

Peristiwa kelahiran dan kondisi bayiku menjadi salah satu titik balik hidupku. Aku semakin memantapkan diri untuk menjadi ibu rumah tangga yang merawat, mengasuh dan mengawasi anak-anakku sendiri sebagai balasan atas waktu kebersamaan yang hilang saat aku bekerja dahulu. Bahkan dititik ini pula aku memutuskan untuk berhijab. Melalui perjuangan aku dan bayiku selama masa kehamilan dan pasca kelahirannya, aku akhirnya dapat memahami pesan yang Allah ingin sampaikan kepadaku selama ini adalah bahwa  agar aku lebih fokus mencari akhirat. Selama ini dunia sudah berada dalam genggamanku, namun aku masih menganggap sepele urusan akhirat. Sungguh Allah sangat menyayangiku.

Minggu, 01 Desember 2019

Ketika Allah Berbicara




Image result for animasi transformasi seorang muslimah 
Maret 2009, 3 bulan setelah aku melahirkan, dengan tiba-tiba aku dimutasi ke bagian kredit. Bagian yang selalu aku hindari sejak awal aku bergabung dengan bank tempatku bekerja saat ini. Namun dengan dalih aku mempunyai bayi sehingga memerlukan tugas yang lebih fleksibel dibandingkan di cabang, maka Kepala Kantor Wilayah memutasiku ke bagian kredit mikro. Sungguh suatu mutasi yang langsung membuatku demotivasi karena aku tahu hatiku tidak pernah bisa kompromi untuk bagian ini.
Tiga bulan mengikuti pendidikan kredit mikro, aku ditempatkan di cabang tempat aku menjadi kepala sebelumnya. Dan ternyata memang di kredit mikro tugasku fleksibel, begitu juga dengan jam kerjanya. Awal-awal bulan jam kerjaku masih normal, tapi begitu cabang mikroku mulai berkembang, jam kerjaku mulai tidak normal. Aku menjadi semakin sering pulang malam walaupun keesokan harinya aku masih bisa berangkat agak siang ke kantor. Tapi tetap saja aku menjadi semakin jarang berinteraksi dengan suami dan anak-anakku.
Terkadang demi untuk menjaga bonding dengan anak-anak, aku membawa serta mereka beserta baby sitter nya ke kantorku. Sehingga walau jarang berinteraksi, bonding dengan mereka masih tetap terjaga. Namun tidak demikian halnya dengan suami. Semakin jarang berinteraksi semakin tidak nyambung komunikasi kami, yang menyebabkan sering munculnya kesalahpahaman diantara kami. Mulai dari hal sepele hingga hal besar yang hampir mengakibatkan rumah tangga kami bubar.
Aku nyaris gila. Disatu sisi, aku masih merasa kurang nyaman dengan bagian dimana aku dimutasi. Disisi lain, berbagai kesalahpahaman antara aku dan suami semakin sering terjadi.  Yang terkadang membuat anak-anak ketakutan karena mendengar pertengkaran-pertengkaran kami itu.
Di bulan Desember 2009, aku mendapatkan kabar yang membahagiakan. Di satu hari aku merasakan pusing dan mual sehingga setelah melakukan survey, aku tidak langsung kembali  ke kantor melainkan pergi rumah sakit untuk memeriksakan diri. Aku langsung menuju IGD dan hasil dari pemeriksaan fisik dan lab yang dilakukan, akhirnya dokter memberitahuku bahwa aku sedang hamil. Tak terhingga senangnya hatiku mendengarnya, dan sesudah pemeriksaan selesai aku kembali ke kantor. 
Suatu hari di akhir Januari 2010, menjelang keberangkatanku dan salah satu staf marketingku untuk survey, aku merasakan perutku agak mulas dan tidak enak. Kupikir aku ingin buang air besar sehingga kuputuskan untuk ke toilet dulu sebelum berangkat survey. Namun bukannya buang air melainkan flek yang keluar. Aku kaget dan segera keluar dari toilet. Kemudian minta diantarkan ke rumah sakit oleh stafku.
Hari itu, 5 minggu setelah aku diberitahukan kabar kehamilanku, aku harus mendengar kabar bahwa kehamilan tersebut tidak dapat dilanjutkan. Ya, janinku tidak sanggup mengikuti aktivitasku yang sungguh sibuk dan melelahkan di kantor sehingga akhirnya menyerah di usia kandungan jalan 13 minggu. Saat itu, didampingi suami, aku masih berusaha mempertahankan janinku. Walau dokter kandunganku mengatakan bahwa janinku sudah meninggal, tapi aku tidak mau percaya begitu saja. Aku tetap berkata bahwa aku akan terus mempertahankan bayiku ini.
Setelah berdebat, akhirnya dokter menyarankan aku untuk dirawat di rumah sakit. Dan ternyata memang benar, selama dirawat aku terus menerus pendarahan sehingga ketika dilakukan USG, aku harus menerima kenyataan bahwa janinku sudah hancur. Hasil USG hanya menampilkan kantong bayi yang sudah kosong. Akupun  menjalani kuretase untuk membersihkan rahimku. Selamat jalan anakku, maafkan bunda yang tidak mampu menjagamu bahkan sejak masih dalam kandungan. Keguguran ini cukup membuatku terpuruk cukup dalam.
Tiga bulan setelah kuretase, tepatnya di bulan April 2010, tiba-tiba aku merasakan mual-mual, rasanya seluruh isi perutku akan keluar. Ketika kulihat kalender yang terletak di mejaku, aku tersadar bahwasanya aku sudah terlambat menstruasi selama 2 minggu. Kuyakin bahwa mual-mual yang aku rasakan sekarang adalah akibat dari sedang tumbuhnya janin dalam rahimku. Dengan sedikit lemas, aku minta ijin ke atasanku untuk pulang. Namun ditengah perjalanan, kuputuskan untuk mampir di laboratorium dekat rumah untuk memastikan kebenaran perkiraanku.
Dan perkiraanku benar, hasil laboratorium menunjukkan aku positif hamil. Esok harinya, aku memeriksakan diri ke dokter kandunganku. Dokter memintaku untuk mengurangi aktivitas mengingat riwayat keguguran yg kualami sebelumnya, dan sebisa mungkin meminimalisir naik turun tangga.
Demi janinku, berbekal surat keterangan dokter aku mengajukan mutasi ke kantor cabang yang lokasinya mendekati kantor suamiku dan hanya satu lantai. Beruntung atasanku mempunyai istri yang sedang hamil juga, sehingga bisa memahami kondisi kehamilanku dan mau memindahkanku ke kantor cabang yang dimaksud.
Juni 2010,  3 bulan sudah usia kandunganku. Satu sore menjelang pulang kantor, setelah shalat ashar, aku tiba-tiba merasa demam dan perutku terasa kencang. Perasaanku tidak enak, aku yakin ada yang tidak beres dengan kandunganku. Teringat saat keguguran yang lalu, perutku terasa mulas. Aku menelepon suami untuk menemuiku di rumah sakit karena aku memutuskan untuk ke IGD. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kandunganku.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung di periksa dan dikonsul ke dokter kandunganku. Dari hasil pemeriksaan USG dan konsultasi, aku dinyatakan mengalami pendarahan dan diharuskan menjalani bedrest selama 2 minggu. Dengan perasaan tak menentu, aku menunggu suami menjemputku. 
Beberapa minggu menjalankan bedrest, pendarahanku bukannya membaik tapi semakin parah. Aku semakin stress dan bayangan keguguran lagi muncul dipelupuk mataku. Padahal kutahu bahwa aku seharusnya tenang agar janinku juga tenang, namun tak dapat kusangkal perasaan takut yang sangat besar ini.
Puncaknya di suatu maghrib, saat berbaring di tempat tidur aku tiba-tiba merasa panas dingin, badanku demam dan perutku sakit sekali, saking sakitnya aku tidak sanggup bersuara pada saat memanggil suami yang kebetulan sedang shalat maghrib. Dan aku tiba-tiba kehilangan kesadaranku. Aku tersadar kembali ketika suami memanggil-manggil namaku dengan cemas. Saat tersadar, betapa kagetnya ketika kulihat seluruh tempat tidur sudah menjadi lautan darah. Dan untuk kesekian kalinya, aku harus keguguran lagi 
Enam bulan setelah keguguran yang terakhir, yaitu di bulan Januari 2011, aku mendapatkan kabar gembira lagi. Hasil medical check up yang kulakukan menunjukkan aku sedang hamil. Tak percaya aku sampai minta kepastian kepada suami. Dan memang dibagian hasil laboratorium terdapat hasil positif untuk kehamilan. Alhamdulillah ya Allah, sungguh bahagianya aku masih dipercaya untuk dititipkan anak kembali.
Sebulan setelah hari itu, saatnya kontrol kandungan, ditemani mbaknya anak-anak aku menunggu antrian. Sudah 2 hari aku merasa lemas, bawaan bayi pikirku. Kuajak bicara janinku, kukatakan betapa aku sayang padanya. Sungguh kaget, saat dilakukan USG di layar komputer yang terlihat hanya kantong bayi padahal usia kandunganku sudah masuk 12 minggu. Dokter memintaku untuk periksa dalam, ketika suster sedang mempersiapkan kebutuhan periksa dalam, tiba2 perutku mulas sekali. Kukatakan pada suster bahwa perutku mulas, sesaat kemudian gumpalan darah keluar dari bagian bawah tubuhku. Betapa kagetnya aku, dan ketika dokter mengatakan bahwa aku keguguran lagi, aku sudah menjadi begitu skeptis.
Mengalami keguguran 2 kali berturut-turut membuatku tak mampu menangis lagi. Aku hanya bisa pasrah dan introspeksi diri apa yang salah dalam diriku sehingga aku harus mengalaminya lagi. Semua saran dokter sudah kuturuti, namun takdirNya jugalah yang menentukan.
Bulan Oktober 2011, akhirnya jadi juga aku mutasi ke bagian yang tidak bertentangan dengan nuraniku. Sejak pergi ke kantor pagi itu, aku merasakan pusing kepala. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, aku menelepon supir kantor untuk minta tolong memarkirkan mobilku di basement. Sesampainya di lobby, aku telepon temen supirku itu untuk mengantarku ke rumah sakit. Begitu sakitnya kepalaku menyebabkan kesadaranku hilang.
Setiba di rumah sakit, dokter IGD langsung memeriksaku dan hasilnya adalah aku sedang hamil lagi dan mengalami sedikit pendarahan. Aku harus bedrest total, tidak boleh turun sama sekali dari tempat tidur karena kehamilanku sangat berisiko mengingat riwayat keguguran berulang yang pernah aku alami. Aku senang bercampur takut mendengarnya, tapi aku bertekad apapun akan kulakukan untuk mempertahankan janinku kali ini. 
Di trimester pertama, aku mengalami pendarahan 4 kali dan 4 kali pula aku harus dirawat. Memasuki trimester kedua, ujianku bertambah. Setiap aku bergerak, perutku kontraksi sehingga keluar flek. Praktis dari awal kehamilan sampai usia kandungan 20 minggu aku tidak bisa beraktivitas apapun.
Pihak kantor tidak mau tahu dengan kondisiku dengan tetap memintaku untuk hadir di kantor. Sementara, dokter kandunganku sudah memvonis bahwa aku tidak boleh banyak bergerak apabila janinku ingin selamat. Disinilah ujian Allah, aku dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Akhirnya aku harus memutuskan antara karir dan kandunganku.
Dengan mengucapkan bismillah dan mengikhlaskan hati, aku meminta ijin kepada suami untuk resign dari pekerjaanku. Suami kaget bercampur terharu, dia menyerahkan sepenuhnya keputusan kepadaku karena menurutnya aku yang menjalani, dia support apapun keputusanku. Sebulan setelah resign, aku melahirkan. Rupanya bayiku ingin segera menghirup udara dunia, dia minta dilahirkan prematur di usia kandungan 32 minggu 3 hari melalui operasi caesar.
Ujianku belum berhenti, 2 jam setelah kelahirannya bayiku kritis karena paru-parunya tidak mengembang dan dirujuk ke sebuah rumah sakit khusus ibu dan anak. Sebelum aku sadar dari pengaruh obat bius, aku sudah dipisahkan dari bayiku. Hikmah dari terpisahnya aku dan bayiku, aku menjadi lebih cepat pulih dari operasi.
Pulang dari rumah sakit, aku langsung menengok bayiku. Dan sungguh ku tak sanggup menahan tangis melihat kondisinya yang dipenuhi berbagai selang. Kubisikkan kedatanganku dan memotivasinya terus berjuang untuk hidup. Setiap hari aku mendampingi bayiku untuk memberikan asi. Dengan kuasa dan ridhoNya, bayiku bisa melewati masa kritisnya dan setelah 1 bulan lebih dirawat bisa berkumpul kembali bersama kakak-kakaknya.
Sungguh peristiwa kelahiran dan kondisi bayiku menjadi salah satu titik balik hidupku. Aku semakin memantapkan diri untuk menjadi ibu rumah tangga yang merawat, mengasuh dan mengawasi anak-anakku sendiri sebagai balasan atas waktu kebersamaan yang hilang saat aku bekerja dahulu. Sejak kelahiran anak bungsuku ini, aku benar-benar mengalami metamorfosis. Dititik ini pula aku memutuskan untuk berhijab.
Banyak teman, kenalan maupun bekas kolegaku yang tidak percaya atas perubahan ini. Ya, semua orang yang mengenalku pasti tidak akan percaya dengan gaya hidupku sekarang. Jangankan mereka, diriku pun sempat tidak percaya dengan perubahan ini, tapi aku yakin Allah sangat menyayangiku sehingga Dia menegurku agar aku lebih fokus mencari akhirat. Sungguh indah caraNya berbicara kepadaku yang tidak juga mendengarkan teguran-teguranNya. Dia siapkan mentalku untuk menghadapi kehidupan baru sehingga aku tidak merasakan apa yang disebut dengan Post Power Syndrom disaat aku sudah berpaling kepadaNya saat Dia berbicara kepadaku. Sungguh nyata besarnya kasih sayangNya.