Tampilkan postingan dengan label Dream. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dream. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Agustus 2020

Antara Cita-Cita dan Impian

Keterangan foto tidak tersedia.

 

 Antara Cita-Cita dan Impian

Apa sebenarnya yang membedakan cita-cita dengan impian? Sebelum kita bahas lebih lanjut, kita cek dulu definisi cita-cita dan impian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Cita-cita adalah (1) keinginan (kehendak) yang selalu ada dalam pikiran, (2) tujuan yang sempurna (yang akan dicapai atau dilaksanakan).
Impian adalah (barang) yang diimpikan, barang yang sangat diinginkan.
Setelah membaca definisi kedua kata tersebut, jelas terlihat perbedaannya. Kalau cita-cita hanya sekedar ingin sementara impian menggunakan tambahan kata "sangat" ingin. Jadi kalau melihat dari sudut kekuatan keinginan, impian lebih kuat dibandingkan dengan cita-cita.
Itulah sebabnya, cita-cita seseorang bisa berubah. Tapi impian seseorang jarang berubah. Seseorang saat ditanya cita-cita masa kecil, jawabannya keren-keren. Ada yang jawab dokter, insinyur, pilot, polisi dan sebagainy. Tapi saat sudah dewasa, cita-citanya mayoritas berubah. Tidak lagi ingin jadi dokter atau insinyur, bisa jadi tiba-tiba jadi seniman.
Hal ini dikarenakan, saat kecil anak-anak melihat profesi-profesi tersebut tampak keren. Apalagi dengan seragam yang rapi, sungguh mempesona penampilannya. Tapi begitu beranjak dewasa, seseorang mulai memahami passionnya, bakatnya, maka seragam tidak lagi menjadi faktor yang menentukan cita-citanya. Dengan memahami passionnya, seseorang akan melakukan apapun agar bisa melakukan passionnya.
Passion inilah yang membedakan seseorang dalam mencapai cita-cita dan impiannya. Cita-cita biasanya tanpa disertai passion, tapi kalau impian, sudah pasti didasari oleh passion. Maka, mulailah menggali passion anak-anak kita sejak dini. Agar cita-citanya sejalan dengan impiannya. Apabila cita-cita sudah sejalan dengan impian, mudah bagi orang tua untuk mengarahkannya. Jangan sampai orang tua mengeluarkan stupid cost yang besar karena tidak memahami passion anaknya.
Contoh saya, sejak kecil bercita-cita menjadi dokter. Pertengahan jalan ketahuan kalau saya ternyata tidak kuat melihat darah. Maka buyarlah cita-cita menjadi dokter. Tapi saat itu saya belum menyadari bahwa menjadi dokter bukanlah impian saya. Aktivitas yang paling saya sukai adalah mendengarkan curhat orang lain. Dan ternyata, itulah yang menjadi impian saya. Keinginan untuk mendengarkan curhat orang lain dan memberikan support kepada mereka terus muncul dan semakin hari semakin kuat.
Dan seperti pepatah mengatakan, life begin at 40. Kehidupan saya menjalani profesi Solver dimulai saat usia 40 tahun.
Kalau dilihat dari sisi usia, saya termasuk terlambat mencapai impian saya. Tapi dari sisi pencapaian, lebih baik terlambat daripada tidak berusaha mencapainya sama sekali.
Jadi, jangan pernah berhenti mengejar impianmu. Saat engkau mempunyai impian, pegang erat, lakukan yang terbaik untuk meraihnya. Jangan biarkan siapapun mencoba menghalangimu untuk meraihnya. Yakin, Allah akan memberikan jalan bagi orang yang bersungguh-sungguh.

 

Minggu, 09 Agustus 2020

Solver dan Writer

 Gambar mungkin berisi: Runny Yuliasari, teks yang menyatakan 'Bunda Runny Woman Solver ပ Writer'

 
Kedua profesi inilah yang melengkapi peran saya sebagai perempuan. Sebagai diri pribadi, saya bisa mengungkapkan segala ide, perasaan dan pengalaman dalam bentuk tulisan. Di mana tulisan-tulisan tersebut menjadikan saya merintis sebagai penulis.
Sebagai seorang ibu, saya sudah menjadi ibu dari 4 orang anak yang in syaa Allah soleh dan sholehah. Sebagai seorang istri, saya sudah menjalaninya selama 17 tahun. Semoga hingga jannah-Nya nanti, kami tetap bersama.
Sebagai anggota masyarakat, saya memilih peran menjadi seorang Solver. Profesi di mana seseorang membantu orang lain untuk menemukan jalan cahaya kehidupannya. Sesuai dengan tagline Solver, yaitu "Nyalakan Jalan Cahaya".
Dengan profesi ini saya ingin mengambil peran untuk membantu para wanita agar lebih berdaya, mandiri tapi tetap memahami posisinya sebagai seorang istri, ibu dan diri sendiri. Oleh karena inilah saya mengambil spesialisasi Solver sebagai "Woman Solver". Sesuai ajaran Islam, yang diterangkan dalam Al Quran, bahwa wanita adalah tiang negara. Baik wanitanya maka baik pula negaranya.
Dengan tagline "Be A Great Woman", saya ingin mengajak para wanita untuk berjuang menjalankan berbagai peranannya. Karena prinsip yang sesuai dengan ajaran Islam adalah "A Great Woman can create A Great Leader".
Kedua profesi ini saya peroleh dengan penuh perjuangan. Keinginan menjadi penulis berawal saat bertemu dengan seorang blogger cantik di sebuah komunitas tahun 2012. Tahun 2015, bertemu seorang mentor penulis di facebook. Mencoba ikut kelasnya agar bisa menerbitkan buku solo. Walau hingga tahun 2016, buku solo tersebut tidak pernah terbit.
Hingga di tahun 2018, saat  saya mantap mengambil Solver sebagai profesi, dengan perjuangan yang tidak mudah. Karena perjuangan meyakinkan suami bahwa dengan menjadi Solver adalah impian saya, membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Karena tekad yang kuat, maka Allah membuka hati suami untuk memberikan restu dan ridhanya kepada saya. Ya, ridha suami menjadi penentu keberhasilan saya. Seiring dengan perjalanan saya menempuh pendidikan Solver, profesi Writer mulai berkembang pula. Bagi saya, seorang Solver tanpa mempunyai karya tulisan belumlah sempurna.

 

Jumat, 07 Agustus 2020

Mengapa Harus Menulis?

Gambar mungkin berisi: Runny Yuliasari, teks
 

Seringkali pertanyaan tersebut diajukan dan jawaban setiap orang pun akan berbeda pula. Ada yang karena kebutuhan, hobi atau cuma sekedar suka menulis saja.
Begitu pula bagi saya. Waktu masih sekolah dasar, saya hobi sekali membaca karena itu akhirnya timbul keinginan untuk menulis cerita pendek. Sempat beberapa kali membuat naskah cerpen dan dikirim ke redaksi majalah anak dan remaja. Tapi karena belum rejeki, akhirnya naskah tersebut tidak pernah muncul di majalah-majalah itu.
Masuk sekolah menengah pertama, sudah muncul cinta monyet. Berbagai perasaan terhadap lawan jenis dituangkan ke dalam buku harian. Berpuluh-puluh buku harian menjadi saksi berbagai perasaan saya selama masa sekolah menengah pertama. Dengan menuangkan perasaan ke dalam tulisan di buku harian, membuat hati saya menjadi lebih ringan.
Awal sekolah menengah atas, kebiasaan menulis di buku harian mulai berkurang. Bahkan akhirnya hilang sama sekali. Sejak itu sampai saya menjadi seorang ibu dengan 4 orang anak, aktivitas menulis tidak lagi saya lakukan. Namun hobi membaca tidak pernah lekang oleh waktu. Dalam satu waktu, saya terbiasa membaca beberapa buku secara paralel. Sehingga saya bisa menyelesaikan membaca beberapa buku dalam waktu yang nyaris bersamaan.
Saat ini, seiring dengan perjalanan waktu, dan untuk menunjang profesi saya sebagai Solver, menulis adalah sebuah keniscayaan. Saya ingin buku-buku yang berisi ilmu pendukung profesi saya menjadi legacy yang saya wariskan kepada anak cucu saya kelak. Jadi untuk saat ini, menulis sudah menjadi kebutuhan bagi saya.
Namun, saya bukanlah orang dengan jenis karakter yang bisa istiqomah dilepas untuk menulis sebuah buku. Saya memerlukan mentor yang akan memotivasi saya untuk istiqomah menulis. Oleh karena itulah saya banyak mengambil kelas menulis ini itu karena memang saya membutuhkannya. Jadi janganlah heran apabila di medsos pribadi, banyak postingan dengan hastag dari berbagai kelas menulis. Karena merekalah saya bisa istiqomah menulis sehingga sudah bisa menghasilkan beberapa buku antologi. Doakan agar buku solonya segera rampung. Aamiin yaa Allah…..

Kamis, 16 Juli 2020

Life Begin at Fourty

Gambar mungkin berisi: Runny Yuliasari
 

Seperti itulah pepatah mengatakan. Dan seperti itulah kenyataan dalam kehidupanku. Ya, di usia yg ke 40th, aku temukan jati diri, passion, dan impianku.
Di usia inilah, akhirnya aku menemukan diriku yang sebenarnya. Sekian puluh tahun penuh kegalauan akan pribadi yang dianggap aneh. Bahkan pasanganku sendiri mengatakan bahwa beliau tidak pernah bisa memahamiku. Sungguh suatu perjalanan hidup yang tidak mudah.
Namun seiring dengan ajegnya pribadiku, passionku dalam menolong orang menemukan kolamnya. Impianku yang tetap kugenggam erat, mulai menunjukkan wujudnya. Melalui komunitas STIFIn, aku mendapatkan itu semua.
Impianku sejak kecil adalah menjadi psikolog. Namun takdir membawaku menjadi seorang akuntan. Dimana dibidang itulah aku menemukan jodoh. Jodoh yang kelak membantuku meraih passion dan mewujudkan impian.
Gelar psikolog melayang, Allah gantikan dengan profesi Solver. Di komunitas STIFIn inilah aku digembleng menjadi seorang Solver. Seseorang yang membantu orang-orang untuk menemukan solusi permasalahannya. Finally, my dream comes true.
Sebelum menjadi Solver, aku menjadi Trainer terlebih dahulu. Modul andalanku adalah pemberdayaan wanita. Oleh karena itulah modulku dinamakan "Be A Great Woman The Series". Mengapa modulku dibuat serial? Karena modul itu dibuat untuk para wanita agara tetap terberdayakan sejak masih lajang, menikah hingga mempunyai anak.
Sesuai dengan spesialisasi modulku, maka saat profesi Solver aku sandang, Personal Brandingku menjadi "Be A Great Woman Solver". Aktivitas menjadi trainer dan profesi Solver inilah yang akhirnya membangunkan passionku dalam menulis. Dengan kondisiku saat ini, menulis menjadi suatu keniscayaan.
Kini hari-hariku dipenuhi oleh berbagai kegiatan menulis. Disamping tetap memprioritaskan tugasku sebagai istri dan ibu. Cita-citaku kini adalah ingin menghasilkan setidaknya 20 buku dalam setahun. Entah itu buku solo, antologi atau modul training. Berbagai kisah klien yang datang padaku, dapat kutulis menjadi sebuah buku untuk diambil hikmahnya.


Rabu, 15 Juli 2020

Menulis

 Menulis adalah salah satu cara saya mengekspresikan perasaan sejak kecil dulu. Sampai usia remaja,berpuluh-puluh buku diary sudah saya hasilkan. Mencoba mengirim naskah cerpen ke sebuah majalah remaja, alhamdulillah ditolak terus. Sampai akhirnya aktivitas menulis terhenti dikarenakan berbagai macam kesibukan.
Tahun 2012, bertemu dengan seorang blogger dan akhirnya ikut kelas nge-blog. Alhamdulillah walau tertatih, blog saya sudah terisi puluhan tulisan dengan berbagai macam genre.
2015, aktivitas menulis mulai dilakukan lagi, sempat ikut kelas menulis untuk menghasilkan buku, tapi karena tekad yg kurang, akhirnya hasil dari kelas tersebut g pernah ada.
2018, mulai aktif lagi ikut kelas menulis. Kali ini tekadnya lebih kuat. Hasilnya sebuah antologi yang dipersembahkan untuk para guru terbit. Satu buku antologi yang terbit ternyata membuat saya jadi candu menulis. Alhamdulillah sampai saat ini saya jadi rutin menulis beberapa naskah baik itu antologi, buku non fiksi, cerpen bahkan novel.
13 Juli 2020, kembali mengikuti kelas menulis dengan guru yang berbeda. Ini harus agar khasanah menulis kita menjadi lebih luas. Dan memang saya rasakan, dengan berguru kepada berbagai macam penulis, maka ilmu dan hasil tulisan kita pun menjadi lebih bervariasi.
Satu hal yang paling makjleb dari kelas menulis ini adalah bahwa ketika kita menulis adalah kita harus punya:

"Cita-cita, Rencana-rencana, keinginan-keinginan, Motivasi yang juga besar."

Hal-hal itulah yang selama ini belum saya jadikan kekuatan untuk istiqamah menulis.
Mulai saat ini, saya tentukan apa yang menjadi cita-cita dengan menulis, apa yang saya rencanakan dari tulisan yang dibuat, apa yang saya inginkan dari tulisan tersebut dan apa yang memotivasi saya sehingga menulis menjadi suatu kewajiban....
Bismillah, biidznillah

Minggu, 21 Juni 2020

Your Dream Your Passion

Selalu Ikuti Impian Kita, Jangan Sampai Hidup Dalam Penyesalan ...

Banyak dari kita hidup di bawah harapan orangtua, guru, dan teman-teman kita. Kita jarang bisa melakukan hal-hal yang benar-benar kita sukai dan cintai. Berada di bawah begitu banyak tekanan hingga pada usia 20 tahun, membuat kita merasa lelah dan memutuskan untuk membuang beban itu.

Terbebas dari stres dan tekanan, kita bekerja dengan antusias dan memimpikan keinginan dengan ambisius. Kita bagaikan kuda terlepas dari kandangnya. Kita bekerja sesuai dengan apa yang kita mau. Mengejar karir setinggi-tingginya demi merasakan apa yang selama ini hanya menjadi impian.

Tetapi saat kita mencapai usia 40 tahun, kita mulai kehilangan visi dan impian kita. Kita mulai merasa tidak puas. Mulai mengeluh serta mengkritik. Kita menjalani hidup sebagai penderitaan karena kita tidak pernah puas. Mulai menjalani hidup bagai zombie. Kondisi yang lebih parah dibandingkan dengan saat kita masih dibawah tekanan orang tua. Karena saat itu kita masih punya tujuan walaupun itu ditentukan oleh orang tua.

Namun saat kita hidup sebagai zombie, kita benar-benar sudah kehilangan arah dan tujuan. Hanya sekedar menjalani hidup apa adanya, mengalir begitu saja. Apabila seseorang sudah pada tahap kondisi seperti ini, maka sudah "red alert". Harus segera diperbaiki arah dan tujuan hidupnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut terjadi pada anak-anak kita, maka seyogyanya orang tua harus sudah bisa menggali apa yang menjadi impian anak-anaknya. Dimulai dari menggali bakat yang dimiliki sang anak. Selaraskan bakat yang ada dengan passion si anak.  Kemudian tentukan impian besarnya.
Mimpi yang selaras dengan passion akan menjadi sebuah kekuatan untuk menjalani hidup dengan penuh semangat dan antusias. Apalagi kalau disertai dengan bakat yang dimiliki. Maka pastikan impian anak-anak kita selaras dengan passion mereka. Bimbing mereka untuk tetap menggigit kuat-kuat impiannya, agar apapun yang terjadi, mereka tetap semangat menggapai impiannya.

Rabu, 13 Februari 2019

Purnama

Related image Dalam kegelapan malam kau sendirian
Mencoba berbagi sinarmu
Demi menerangi setiap hati yang sedang sepi
Yang terlunta diujung malam

Indahnya malam sunyi terasa
Karena hadirmu yang menyelinap diantara bintang
Seakan tak ingin kau dikenal
Oleh semua makhluk malam
Kesempurnaan bulatmu semakin menyempurnakan sang malam
Hadirmu yang utuh seakan ingin menunjukkan pengabdianmu
Tak kenal lelah kau berpendar
Demi baktimu pada malam sunyi
Tak ingin lepas mataku tuk menatapmu
Kulihat ketulusan dalam indahnya sinarmu
Ingin rasa kumeraihmu
Tuk kusimpan dalam hatiku
Mungkinkah hatiku mampu menyerupaimu
Tetap bersinar walau gelap menyelimuti
Tulus dalam bersinar demi merek yang lelah mencari cahaya
Tak peduli rasa kata yang menghampirimu



Selasa, 05 Februari 2019

SOLVER

Bahagia, sebuah kata yang menjadi harapan setiap manusia
Ketika muncul ketidakselarasan dalam hidup hilanglah bahagia
Kemanakah harus dicari
Adakah yang mampu menolong

Tuhan,
Beberapa hati telah menyatu
Bertemu dalam satu ketaatan
Berpadu dalam perjuangan
Berhimpun dibawah naungan cintaMu
Untuk bersama MENYALAKAN JALAN CAHAYA kehidupan
Kuatkan ikatan hati ini
Kekalkan himpunan cinta ini
Tunjukkan jalannya dengan terangnya cahayaMu
Bimbing kami untuk terus berusaha MENYALAKAN JALAN CAHAYAMU
Tuhan,
Lapangkan dada ini selama kami menyandang amanah ini
Karuniakan nikmatnya iman dan tawakal dalam menghadapi tantangan dalam amanah ini
Jadikan kami orang-orang yang selalu mampu untuk NYALAKAN JALAN CAHAYA

Senin, 04 Februari 2019

Siluet

Tak bernama
Tak berwajah
Tak berwarna
Hanya bayangan
Tak ingin terkenali
Tak ingin terakui
Tak ingin dikendali
Hanya bayangan
Hanya ingin berbuat
Hanya ingin beraksi
Hanya ingin bertindak
Hanya ingin bekerja
Tanpa perlu pujian
Tanpa perlu ucapan
Tanpa perlu kata manis
Cukup hasil nyata

Gambar mungkin berisi: samudera, awan dan air



 

Rabu, 30 Januari 2019

Selamat Datang Impian

Puluhan tahun sudah kau bersemayam disudut benakku
Mencoba mencari jalan untuk keluar melepaskan diri dari kukungan selama ini
Berpuluh tahun pula kau tak pernah menemukan jalan itu
Namun tak pernah kau berhenti mencoba


Hampir kuterlupa akan dirimu yang masih saja bertapa disudut bathinku
Tergantikan oleh hingar bingarnya kesuksesan semu
Ketika kesemuan itu menjadi nyata hadirmu terusik untuk mewujud
Seolah menyadarkanku bahwa kau takkan pernah mati

40 tahun kau menanti
Akhirnya jalan keluar itu terbuka melalui pencarian panjang dan berliku
Tidak hanya kerikil kecil tapi jutaan bebatuan yang menghalangimu
Namun engkau tetap bertahan memperjuangkan perwujudanmu

Saat ini....
Terwujud sudah dirimu setelah 40 tahun menanti
Perjuanganmu menunjukkan bahwa engkau adalah jalan untukku
Sehingga layaklah apabila kuucapkan "Selamat datang impianku"

Jumat, 25 Januari 2019

Rasa yang Tersembunyi

 Related image






Diantara seluruh makhluk yang ada didunia ini
Hanya dirimu yang membuat getaran itu muncul
Senyum yang hadir setiap kita bersitatap
Runtuhkan keberanianku untuk memulai menyapamu


Aaaaahhhh....
Getaran ini hadir semakin kencang kala dirimu didekatmu
Seakan ingin memberitahukan setiap manusia yang ada disekeliling kita
Betapa rasa ini begitu merindu menantikan ungkapan yang tersirat dari tatapanmu

Wahai rasa....
Bantu aku untuk memahami arti dari setiap tatapannya
Sadarkan aku dari lirikannya yang membius setiap aku tertawa
Redakan degup jantungku setiap kali dia memanggil namaku
Lembut suaramu terdengar indah ditelingaku menghilangkan kata yang ingin kuucap
Kehadiranmu dalam diam membekukan tubuhku membuatku terpaku tanpa mampu bergerak
Tatapanmu yang teduh menghangatkan relung hati yang sedang mendamba
Akan dirimu yang kuharap menjadi milikku

Nyatanya....
Keberanian itu hanya muncul dalam diam
Rasa takut akan kecewa menjadi pemenang dalam pertarungan hati kita
Tanpa kau sadari bahwa rasa kita sama
Ketika akhirnya kau menyadarinya semua itu menjadi tak berarti
Karena keping hatiku tak lagi sama dan memilih untuk menyimpannya ditempat yang tersembunyi

Selasa, 22 Januari 2019

Harapan

Di Ujung Sana
Kulihat secercah sinar
Yang menerangi jalan ini
Bagaikan bunga mekar
Yang memperindah dunia ini


Setetes air hujan
Membuat hilang dahaga
Layaknya api yang menyala
Menerangi seluruh dunia

Kutatap ujung jalan ini
Kurasakan semangat menggebu
Membuatku ingin berlari
Mengejar mimpi yang membumbung

Minggu, 11 Februari 2018

This is Me......



Bekasi, di awal hari tanggal 12 Februari 2018

Finally....
Setelah sekian lama berada didalam kegalauan yang tak berujung, akhirnya kutemukan juga jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini mengganggu. Ya, selama ini aku merasa ada yang salah dengan diriku. Aku selalu merasa bahwa aku mempunyai double personality atau kepribadian ganda, bahkan aku pernah merasa bahwa aku mengalami personality disorder karena terkadang aku melakukan sesuatu tapi aku merasa bukan aku yang melakukannya.
Dipuncak kegalauanku, aku berusaha merapat kepada beberapa psikolog beken yang kukenal dari berbagai event yang kuikuti baik sebagai peserta, panitia maupun klien. Dengan merapat kepada mereka, aku berharap mendapatkan jawaban atas kegalauanku mengenai pribadiku selama ini. Memang ilmu yang kudapat sangat bermanfaat terutama untuk mendukung cita-citaku sebagai konsultan parenting. Namun ternyata itu semua tidak juga memberikan jawaban yang membuatku lega. Sampai akhirnya karena nyaris frustasi, aku mulai melupakan mimpiku sebagai konsultan parenting. Lah bagaimana bisa jadi konsultan, wong aku saja ngga ngerti diriku ini siapa dan apa maunya. Hhhhhmmmm....
Oya, sebelum ngalor ngidul kemana-mana, aku akan menceritakan dari awal biar ngga pada bingung. Hehehe....
Sejak kecil, aku senang mendengar orang bercerita, kalau bahasa zaman now nya itu curhat. Dan memang teman-teman banyak yang menjadikanku tempat curhat sehingga aku bercita-cita untuk jadi dokter atau psikolog. Dari berbagai curhatan itu, terkadang aku bisa mendamaikan teman-temanku yang berseteru, sehingga semakin seringlah aku dijadikan tempat curhat dan konsultasi teman-teman yang sedang berantem. Semakin dewasa, klienku (biar agak keren sedikit, heheh...) semakin banyak sehingga aku menjadi banyak teman. Dan keinginan menjadi psikolog semakin membuncah mengalahkan keinginan menjadi dokter. Di SMA, aku berusaha masuk jurusan Fisika demi bisa ambil jurusan Psikologi di PTN walaupun nilai eksakku ga bagus-bagus banget. Namun pada saat pengambilan jurusan untuk UMPTN, ternyata orang tuaku terutama ayahku tidak mengijinkanku untuk mengambil jurusan Psikologi dengan alasan kuliahnya lama. Aku diminta untuk ambil jurusan ekonomi yang dalam hal ini akuntansi dengan harapan aku bisa langsung mendapat pekerjaan selepas kuliah nanti. Demi menjadi anak yang berbakti, aku akhirnya memilih jurusan Akuntansi di PTN di kota tempatku tinggal dan melupakan impianku sebagai psikolog.
Doa orang tua memang makbul, aku lulus masuk jurusan Akutansi di PTN tersebut. Selama kuliah aku tidak bisa menikmati masa-masa belajar di kelas, dan aku lampiaskan dengan aktif diberbagai organisasi. Entah itu organisasi kemahasiswaan, politik, budaya maupun keagamaan. Aku menjadi orang yang cukup dikenal karena hampir selalu ada di setiap kegiatan di kampus. Walaupun aku menjadi aktivis, tapi nilai-nilaiku tetap baik. Aku bisa lulus dalam waktu 4 tahun dengan IPK nyaris cum laude. Oya, dikampus ini pula aku menemukan jodoh. Dari sekian orang
yang mendekatiku, aku memilih dia. Teman-teman yang sudah lama mengenalku bingung karena pilihanku sama sekali tidak sesuai dengan kriteria pria idamanku. Jangankan teman-temanku, aku aja bingung koq. Tapi sekarang sih udah ga bingung lagi, heheheh
Singkat cerita, aku bekerja dan menikah dengan pria pilihanku tersebut. Alhamdulillah pernikahan kami langsung dikaruniai anak. Selama menikah dan bekerja, aku benar-benar sudah melupakan mimpiku untuk menjadi seorang psikolog, tapi aku bekerja di bagian yang ngga jauh-jauh dari mendengarkan curhatan dan keluhan pelanggan. Aku pikir, ga jadi psikolog juga ngga apa-apa toh aku masih tetap bisa memberikan konsultasi kepada orang lain namun dibidang ekonomi dan perbankan.
Sekian tahun bekerja, akhirnya pada saat hamil anakku yang paling kecil, kondisiku mengharuskan aku untuk resign dari pekerjaanku. Nah, sejak resign inilah aku mulai kepikiran lagi mengenai impianku menjadi psikolog. Aku memikirkan untuk menjadi konsultan saja daripada psikolog dikarenakan aku sudah malas untuk kuliah. Aku berpikir untuk konsultan bisa dengan mengikuti berbagai training sesuai bidang konsultasi yang kuinginkan. Sekali lagi impianku sebagai konsultan mendapatkan halangan. Kondisi mengharuskan aku untuk membuka bisnis, sehingga akhirnya training-training yang kuikuti adalah berbagai training untuk start up, bisnis, UKM dan sejenisnya. Demi memperluas jaringan, aku mengikuti berbagai komunitas bisnis dan komite sekolah. Namun ternyata jiwaku bukan pebisnis, beberapa kali buka usaha, akhirnya bangkrut juga. Ada yang ditipu teman, digendam bahkan dikadalin karyawan. Pasrah menjadi pilihanku lagi. Kendati aku bingung juga bagaimana menutupi biaya-biaya yang masih belum terselesaikan akibat bangkrut berseri tersebut.
Didalam kepasrahan, aku terus berdoa memohon jalan keluar kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dibalik kepasrahan, aku benar-benar terpuruk dan merasa bahwa aku ini bukanlah aku yang sesungguhnya. Aku merasa aku tidak seperti ini tapi kenapa aku begini. Ya, aku nyaris depresi menghadapi itu semua. Untunglah aku cukup aktif dikegiatan rohani di sekolah anak-anak, sehingga aku masih bisa berjalan di rel agama. Seperti yang sudah kuceritakan diatas, dengan kondisi psikis yang kacau, aku merapat ke berbagai psikolog terkenal. Berkali-kali aku konsultasi, tapi jawaban mereka hampir sama, bahwa aku baik-baik saja. Tidak ada yang salah dengan kepribadianku. Aku bercerita kepada mereka bahwa aku pernah membaca buku tentang Sophie, seorang perempuan yang mempunyai  16 kepribadian, dan aku merasa bahwa aku mengalami gejala-gejala yang dialami oleh Sophie. Dan lagi-lagi mereka mengatakan aku baik-baik saja, sampai akhirnya aku capek sendiri untuk mencari jawaban. Aku memutuskan untuk fokus ke anak-anak dan mulai memperdalam ilmu agama. Dan memang janji Allah itu adalah benar, jika engkau mendekati dengan merangkak maka Aku akan mendekatimu dengan berjalan. Dalam fase ini, aku mulai merasakan ketenangan walau masih tetap galau dengan kondisi psikisku. Sekian lama berselang, aku bertemu dengan seorang teman yang kukenal di salah satu komunitas bisnis. Dia menanyakan apakah aku pernah melakukan tes sidik jari STIFIn. Kujawab ya, karena memang waktu itu di sekolah anakku dilakukan tes tersebut dan feelingku mengatakan sebaiknya aku ikut test juga. Sekarang aku tahu kenapa waktu itu aku tiba-tiba ingin ikutan test juga. Beberapa kali kami bekerja sama untuk mengadakan berbagai event, kami sempat tidak berkomunikasi agak lama karena kesibukan masing-masing. Sampai akhirnya, temanku itu menghubungiku. Dia berkata bahwa sekarang dia menekuni STIFIn dan menanyakanku apakah aku mau menekuninya juga. Spontan kujawab iya, padahal aku sudah mengenal STIFIn jauh lebih lama dari dia tapi sama sekali tidak pernah terpikir untuk mendalaminya.
Mulailah aku mendalami STIFIn dengan mengikuti beberapa trainingnya. Sedikit banyak aku mulai bisa memahami kondisi kepribadianku. Walau aku sudah mengetahui jenis personality genetikku, namun aku masih merasa galau juga karena aku belum menemukan jawaban atas keanehan kepribadian yang kurasakan. Aku merasa setiap langkah yang kulakukan untuk menjalankan peranku baik itu sebagai individu, istri maupun ibu masih terasa kurang pas, aku tidak merasakan "klik'. Padahal semua ilmu dari mulai bisnis, parenting, sampai agama aku lahap demi merasakan "klik" tersebut. Jadinya aku selalu merasa ragu untuk setiap langkah yang akan kuambil. Ya, akupun merasakan kegalauan yang semakin menggulana. Hingga akhirnya temanku tersebut mengajak aku untuk menghadiri acara yang dilakukan dirumah founder STIFIn yaitu Pak Farid Poniman. Temanku berkata bahwa istri beliau yaitu Bunda Jauda mempunyai personality genetik yang sama dengan diriku sehingga aku bisa berbincang banyak dengan beliau. Oya, personality genetikku adalah Insting.
Dengan semangat 45, aku datang menghadiri acara tersebut, demi untuk mendapatkan jawaban yang kuinginkan. Hujan lebat kuterjang, jalanan banjir kuarungi. Dan alhamdulillah, perjuanganku tidak sia-sia. Di pertemuan tersebut akhirnya aku menemukan jati diriku. Akhirnya kegalauanku selama ini atas keanehan kepribadianku terjawab sudah. Aku menjadi lebih yakin untuk melangkah, untuk mewujudkan impianku sebagai konsultan, untuk melaksanakan peranku baik sebagai wanita, istri maupun ibu. Aku akhirnya bisa menerima diriku sendiri, bisa memahami arti perkataan suamiku yang menyebutkan bahwa jalan pikiranku tidak bisa dia tebak dan mengerti. Bisa memahami kenapa teman-teman dan saudaraku menyebut sikapku tidak dapat ditebak cenderung gila. Yup, akhirnya aku merasakan kelegaan yang luar biasa, aku tidak lagi merasakan beban atas anggapan orang-orang yang merasa aneh dengan pribadiku. Melalui STIFIn, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan jawaban atas kegalauanku selama ini. Aku jadi teringat Shirah Nabi, dimana Rasulullah diberikan wahyu di usia 40 tahun setelah sekian lama menyepi di Gua Hira. Begitupun diriku, ditengah fase mendekat kepada Allah, diusia 40 tahun inilah Dia memberikan jawaban atas pilihan jalan hidupku melalui STIFIn.
Last but not least, sebagai seorang Instinct kini aku mantap melangkahkan kaki kembali dijalan yang sudah kupilih sejak dulu. Meski harus melalui jalan yang memutar dan berkelok-kelok sebelumnya, aku berharap jalan yang sekarang bisa lurus kalaupun ada belokan, belokannya ngga tajam, heheh.... Terima kasih untuk Dhey Siregar yang sudah memperkenalkan lagi STIFIn padahal aku jauh lebih lama mengenal STIFIn duluan, hehehe.... Pak Farid Poniman yang sudah menemukan STIFIn dan Bunda Jauda yang sudah bersedia menjadi tempat curhatku.
*This is dedicated to My Beloved Husband n Children, you all my best supporter I've ever had. Big love n hug for u always.....


Senin, 14 April 2014

Why Blogging.....

Blogging..... sebuah kata yg beberapa tahun terakhir ini cukup jd perbincangan. Padahal sebenarnya aktivitas blogging ini persamaan kata menulis, bedanya kl blogging itu menulis yang penyimpanannya dilakukan secara digital. Eh, bener ga sih? Hhhmmm, whatever lah, yang penting blogging podo wae karo nulis....
Di jaman yg serba canggih ini, kita bisa membagikan perasaan, pikiran maupun mimpi mimpi kita kepada teman teman melalui blog. Bahkan melalui blog pula kita bisa mempromosikan produk yang kita jual. Intinya, we can share everything di blog.

Let's Blogging...

Alhamdulillah, akhirnya setelah perjuangan yg sungguh menyesakkan hati (sinyal internet yg amat tdk bersahabat) diriku bisa mulai menulis...
Sebenarnya tulis menulis karang mengarang bukanlah hal baru karena sejak SD sampai SMP, diriku sudah membuat buku harian, dan alhamdulillah buku buku diary itu msh tersimpan dgn baik di rumah orang tua. Dan sudah dipastikan, pd saat nanti dibaca kembali
akan terasa lucu dan culun, selain akan teringat kembali kisah kasih di sekola dulu (jadi kayak lagunya obie mesakh ya...) prikitiiiiwwww..... hehehe
 *jdmerahdehpipinya