Rabu, 23 Agustus 2023

Wanita Kedua

"Aku harus pulang dulu, Sayang. Istriku sudah menanti kepulanganku. Biasanya aku sudah tiba di rumah pukul 21, sekarang sudah hampir tengah malam aku belum pulang."
Lelaki itu berkata seraya kedua tangannya memegang wajah wanita cantik di hadapannya.
Sinar redup dan berkaca yang tampak dari mata wanitanya itu membuatnya berat untuk pergi, tetapi dia harus pulang. Istri dan anaknya sudah menunggunya di rumah.
"Kamu mencintaiku, Mas?"
Wanita itu mengucapkan pertanyaan yang sebenarnya dia pun sudah mengetahui jawabannya. Namun, tetap juga keluar kalimat itu untuk sekedar meyakinkan perasaannya.
Perasaan yang hinggap di hati yang salah sehingga entah bagaimana ujung perasaannya ini nanti. Yang dia tahu, setiap berada di dekat lelaki itu, perasaan nyaman dan bahagia selalu meliputinya. Walaupun pertemuan mereka selalu diakhiri dengan luruhnya air dari matanya serta pertanyaan retoris tadi.
Mendengar pertanyaan wanitanya yang selalu berulang, hati lelaki itu bagaikan ditusuk oleh ribuan duri beracun. Sakit dan mematikan. Namun dia memang tak berdaya. Takdir mempertemukannya dengan cintanya ini di saat dia sudah memiliki hati yang lain.
"Kamu tahu apa yang kurasakan, Sayang. Kamu tahu betapa sakitnya hati ini setiap kali melihat embun di matamu," kata lelaki itu sambil menciumi mata wanitanya yang terpejam.
Menjadi wanita kedua apapun alasannya tidak pernah membuat seorang wanita mendapat predikat wanita baik-baik. Namun, terkadang dunia terlalu senang bercanda sehingga cinta sejati muncul ketika cinta yang lain sudah hadir sebelumnya.
Tapi apakah cinta yang seperti ini masih bisa disebut cinta sejati? 
Apakah benar bahwa cinta sejati tidak selalu harus memiliki?
Namun, mengapa cinta sejati harus semenyakitkan ini?
Aku tidak pernah ingin menjadi wanita kedua bagi siapapun, begitupun aku tidak ingin kalau suamiku memiliki wanita kedua. Namun, takdir memiliki sense of humour yang tinggi, yang menjadikanku tokoh sentral di sesi open mic-nya dengan tema Wanita Kedua.
Menjalani peran sebagai wanita kedua bagaikan naik roller coaster dalam kehidupan. Siang hari aku menjadi aktris yang berperan sebagai wanita kedua, malam hari aku menjalani peran dunia nyataku sebagai istri yang baik untuk suamiku.
Menjalani dua peran ini sungguh melelahkan, tetapi hatiku dan hatinya sepertinya sudah tidak sanggup untuk saling melepaskan. Hati kami sudah sangat saling terpaut, lebih erat ikatannya dibandingkan dengan suamiku.
Sayangku, sampai kapan peran ini harus kujalani?
Sungguh aku sudah lelah, tak tahu apakah aku sanggup menjalaninya hingga akhir kita. 
Aku minta kamu untuk melepasku karena aku lebih tidak sanggup lagi untuk melepasmu. Logikaku selalu hilang setiap itu berkaitan dengan dirimu.
Tuhan, aku lelah sangat, aku ingin pergi sejauh mungkin, lepas dari semua kenyataan ini.
"Mas, aku sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya," tulisku kepada lelakiku melalui aplikasi pesan.
Dengan perasaan hancur, akhirnya aku memutuskan untuk melepas lelakiku, cinta sejatiku.
Walaupun hatiku menjadi hampa, setidaknya dia tidak lagi merasakan kelelahan.
Aku akan mencoba menghadapi kenyataan bersama lelaki yang sudah Allah takdirkan bersamaku, berharap di akhirat nanti Dia pertemukan aku kembali dengan lelaki cinta sejatiku dan menjadi jodoh akhiratku.
"Sayang, walaupun kita saling mencintai, tetapi dengan melepasmu bukan berarti cintaku padamu hilang. Justru karena aku sangat mencintaimu, aku harus melepasmu agar beban hatimu menjadi lebih ringan dan kamu bisa fokus kepada dia yang sudah berada di sisimu selama ini."