Rabu, 16 Oktober 2019

Sebuah Ruang di Hati



Rintik Hujan, Titik Embun, Strawberry Bunga, Mekar


Krieeettttt...
Suara pintu ruang meeting berderit saat kubuka. Huuuffff, padahal sudah kuusahakan kedatanganku tanpa suara, tapi tetap saja suara pintu bangunan tua ini membuat bapak Regional Manager menoleh ke arah kedatanganku. Kuanggukkan kepala dan tersenyum kepada beliau. Kuedarkan pandangan mencari kursi kosong, hanya tersisa di sebelahnya Madava, rekan sekerja yang juga suami dari sahabatku yang menurut Aksa, OB dicabangku, tergila-gila padaku sejak awal kami bertemu.
Tiba-tiba aku mendengar namaku dipanggil, kutolehkan kepala kearah suara itu, tampak Devlin melambaikan tangannya kepadaku. Ternyata kursi disebelahnya kosong, alhamdulillah, walaupun posisi di depan tapi tidak mengapa yang penting tidak di sebelah Madava. Meskipun aku tahu bahwa Devlin pun mempunyai hati kepadaku. Beginilah resiko menjadi artis kantor yang punya banyak penggemar, hahaha...
Jalannya rapat tidak menarik buatku, iseng kubuka handphone, ada pesan masuk di WA. Ternyata dari Madava, singkat saja isinya hanya tiga kata,”kamu cantik sekali”. Kutersenyum tapi tidak tertarik untuk merespon. Dreeeetttt, muncul pesan baru Freya, staf andalanku di cabang yang memberitahukan bahwa Madava sudah menyiapkan kursi untukku  saat meeting. Kubalas pesannya dengan mengatakan bahwa aku sudah mendapatkan tempat duduk disebelah Devlin.
“Allahu Akbar Allahu Akbar”, yesss adzan maghrib berkumandang, akhirnya rapat yang membosankan ini reses juga. Karena sedang jadwalku libur shalat, sambil menunggu yang lain shalat aku berkeliling mengitari meja prasmanan, memilih menu mana yang akan kumakan nanti. Tapi ternyata, tidak satupun yang menggoda seleraku sehingga kuputuskan makan makanan penutup saja.
Jam tujuh rapat dimulai lagi, dengan malas aku beranjak masuk ke ruangan. Yess, kursi yang dibagian belakang masih banyak yang kosong. Kuhempaskan tubuh dikursi seraya menarik nafas panjang. “Kenapa cantik?” sebuah suara menyapaku. “Capek”, kataku seraya memejamkan mata. Kuterkejut ketika tiba-tiba ada yang menggenggam tanganku. Dan lebih terkejut lagi ketika kubuka mata dan melihat bahwa Madava lah orangnya. Kutarik tanganku tapi Madava semakin mengeratkan genggamannya. Kutatap wajahnya, baru kali ini aku melihat wajahnya dengan jarak sedekat ini, tersadar ternyata senyumnya cukup karismatik. Hehehe....
*****
Dreeetttt....dreeeetttt....sedang morning briefing di cabang, handphoneku bergetar. Siapa yang menelepon pagi-pagi begini, apakah Ravindra suamiku yang menelepon? Kalau Ravindra, berarti ada yang sangat penting yang ingin dia bicarakan denganku. Aku sangat memahami suamiku, Ravindra tidak akan menggangguku pada saat jam kerja kalau memang tidak ada yang urgent. Segera kuakhiri morning briefingnya dan kusambar handphone yang terletak diatas mejaku. Kulihat ternyata Madava yang menelepon. Hhhmmm, mau apa dia. Sejak meeting regional kemarin, Madava tidak ada sekalipun menghubungiku. Malahan Devlin yang berulang kali mengajakku makan siang bersama.
Kuangkat telepon dengan nada biasa, terdengar ucapan salam dari seberang sana. Madava langsung menanyakan apakah aku sudah shalat dhuha atau belum. Mendengar pertanyaannya, entah mengapa hatiku tiba-tiba bergetar dan dagdigdug tak menentu. Selama menikah, Ravindra tak pernah sekalipun menanyakan ibadahku, sementara aku sangat mengagumi laki-laki yang taat beribadah. Sehingga mendengar pertanyaan Madava, aku langsung tersentuh. Dan begitu dia mengajakku makan siang bersama, tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan.
Makan siang pertama berlanjut ke acara makan siang berikutnya dan berikutnya. Aku sangat menikmati kebersamaan dengan Madava. Karena selain makan siang, kami selalu melaksanakan shalat dzuhur berjamaah. Hubungan kami menjadi lebih intens, sehingga sudah menjadi rahasia umum dicabangku. Harus kuakui loyalitas timku menjaga kerahasiaan hubungan kami. Aksa sang OB selalu menutupi kedatangan Madava ke cabangku dengan cara menyediakan tempat parkir khusus yang tidak terlihat dari depan kantor. Freya dan Naila sangat membantuku dalam menjalankan cabang selama aku tinggal makan siang. Walau mereka sering mengingatkanku bahwa hubunganku dengan Madava adalah salah, terlebih Madava adalah suami dari sahabatku sendiri Zanna dan kondisi rumah tangga mereka agak goyah dikarenakan sekian belas tahun menikah masih belum dikaruniai keturunan, sedangkan aku yang baru menikah 4 tahun tapi sudah mempunyai anak 2 orang.
*****
Ting tong....
Terdengar bunyi bel rumahku, waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi dan aku sedang santai sambil mendengarkan cerita Zanna melalui telepon dilantai dua. Zanna mulai mencurigai bahwa Madava mempunyai perempuan lain karena handphone nya diberikan password dan sering menelepon berlama-lama di malam hari. Aku merasa seperti pengkhianat dan memang itu faktanya, tapi aku selalu meyakinkan Zanna untuk mengubah sikapnya menjadi lebih tegas dan lebih berpendirian dalam arti jangan nrimo terus apapun yang terjadi. Aku selalu mengatakan agar Zanna menjadi diri sendiri dan mampu mengatakan tidak untuk hal-hal yang memang tidak dia sukai, karena itu yang sebenarnya diinginkan Madava dari Zanna. Dan sikap itu Madava temukan pada diriku. Ada sedikit perasaan bersalah pada Zanna, tapi aku punya tujuan tersendiri atas hubunganku dengan Madava ini. Aku tidak perrnah berniat mengambil Madava dari Zanna, malahan aku berniat memperbaiki hubungan mereka agar rumah tangganya tetap utuh. Sungguh ironis bukan....
Ting tong....
Bunyi bel kembali terdengar, aku berteriak memanggil si bibi. Tak terdengar jawaban sehingga dengan terpaksa aku berlari turun untuk membuka pintu. Ternyata Aksa yang datang, dia diminta Madava menjemputku untuk menemuinya di sebuah pantai yang berada dipinggir kota. Kaget tapi bahagia, yaaaa, aku semakin merindukan kebersamaan dengan Madava. Tapi semakin intens hubunganku dengan Madava, semakin bergairah aku kepada Ravindra, sampai membuat Ravindra terheran-heran dengan perlakuanku kepadanya. Entahlah, aku tidak mengerti apakah itu wujud dari perasaan bersalahku atau karena keberadaan Madava membuat hubunganku dengan Ravindra yang monoton menjadi lebih ada variasi. Sudahlah, aku tidak mau memikirkan itu, aku hanya ingin menjalani ini semua karena dengan kedua hubungan ini aku merasa lengkap.
Perjalanan ke pantai terasa lama, Aksa tidak mengucap sepatah katapun sehingga membuat pikiranku melayang merenungi kembali hubunganku dengan Madava. Deeerrrttt...tiba-tiba handphoneku bergetar, tampak nama Devlin di layar. Ragu untuk kuangkat. Aksa melihat keraguanku dan menyarankan untuk mengangkatnya. Sebenarnya aku malas karena dapat kuduga tujuannya, tapi daripada sepi sepanjang perjalanan akhirnya kuputuskan untuk menerima telepon Devlin. Dan benar saja, Devlin mengajakku untuk makan siang dengan alasan bertemu klien. Lagi-lagi kutolak karena memang aku tidak tertarik kepadanya. Hhhuuuffff, lelah rasanya menghadapi Devlin yang tidak juga menyerah.
Sesampainya di pantai, ternyata Madava sudah menyiapkan jamuan makan siang yang romantis. Aku merasa tersanjung dan kembali membandingkan Madava dengan Ravindra. Ya, seumur aku mengenal Ravindra, aku tidak pernah diperlakukan romantis, tak ada ungkapan cinta atau sayang, yang penting kebutuhanku terpenuhi. Hal itu yang membuat hubunganku dengan Ravindra begitu monoton, tapi entah mengapa hubungan kami bisa bertahan sampai 12 tahun.
Selama kami makan, Madava terlihat lebih diam sehingga membuatku gelisah. Madava hanya berulang kali menatapku serasa tangannya tidak lepas menggenggam tanganku.  Perasaanku menjadi tidak enak membuat selera makanku pun lenyap. Kutak tahan lagi akhirnya kulepas genggamannya dan bertanya ada apa gerangan. Madava tidak segera menjawab, dia tampak kesulitan untuk menjawabku. Tiba-tiba Madava memelukku erat  sekali sampai kumerasa sesak. Aku berusaha melepaskan pelukannya, namun semakin kuberusaha semakin erat Madava memelukku. Menghela nafas panjang, Madava kemudian membisikan sesuatu ke telingaku,”Kyra, senin besok aku dimutasi ke Medan.”
Tubuhku beku, pikiranku melayang tak tahu harus bagaimana. Madava melepaskan pelukannya, dia elus wajahku tapi aku tetap membeku. Baru kusadari ternyata perasaanku kepada Madava sudah sedemikian dalam dan berita ini membuatku terpukul. Dengan perasaan masih tak menentu, aku katakan bahwa aku ingin pulang. Madava mengatakan bahwa dia masih ingin bersamaku tapi aku bersikeras ingin pulang. Aku hanya ingin tidur dan pada saat terbangun nanti aku akan tahu bahwa ini semua hanya mimpi.
*****
Senin pagi aku berangkat ke kantor dengan penuh semangat, menyadari akan bertemu dengan Madava. Tiba di kantor, Aksa memberikan berkas yang harus kubahas dalam morning briefing. Hhhmmm, untung sedikit yang harus dibahas sehingga kuputuskan untuk mempercepat briefing. Satu persatu kubahas berkas ditanganku bersama timku, tiba di berkas terakhir yang isinya adalah undangan acara perpisahan Madava yang akan dimutasi ke Medan. Nanar mataku menatap undangan itu, sejenak dunia terasa berputar dan gelap. Naila dan Freya dengan sigap menyangga badanku dan membawaku ke ruanganku. Aksa menyusul dengan membawa secangkir teh hangat manis. Aku bertanya kepada Freya apakah undangan itu benar, dia dan Naila membenarkannya.
Aku tidak berminat untuk menghadiri undangan itu dan sampai tiba waktu keberangkatan Madava ke Medan, tidak sekalipun aku mau menerima telepon atau membalas pesannya. Ya aku cukup terguncang. Perasaanku kepada Madava sedang mulai mekar tapi harus layu sebelum waktunya berkembang. Dan aku juga menghindar dari Zanna yang saat itu belum ikut Madava ke Medan karena masih mengurus pengunduran dirinya disekolah tempat dia mengajar.
Sejak kepergian Madava aku seolah kehilangan semangat hidup. Kyra yang seorang wanita karir dengan segudang prestasi seolah lenyap, beruntung Naila dan Freya sangat mengerti keadaanku sehingga urusan kantor mereka selesaikan tanpa menggangguku. Ya, aku merasakan kekosongan dalam hati, kepergian Madava meninggalkan sebuah ruang kosong yang begitu sunyi. Diantara kegamanganku ditinggal Madava, Ravindra membawa kabar bahwa dia dimutasi ke Jakarta. Aku semakin tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Meninggalkan kota yang sudah memberikan banyak kenangan manis bersama Madava membuatku merasa bahwa hilang sudah harapanku untuk bertemu dengan dia kembali.
*****
Deeeerrrttt....handphoneku bergetar, enggan kulihat siapa yang menelepon. Ternyata Zanna, dia minta aku datang kerumahnya karena ada yang ingin diceritakan. Kusanggupi permintaannya bahwa nanti sepulang kantor aku akan mampir ke rumahnya.
Tiba dirumah Zanna aku diberikan kejutan yang tidak kuinginkan, Madava ada disana. Aku tak sanggup untuk bertemu dia karena aku tahu aku tak akan sanggup untuk berpisah kembali dengannya. Beruntung Zanna segera datang dan dengan gembira dia mengabarkan bahwa hari ini dia sudah resmi mengundurkan diri dan sabtu besok dia akan ikut Madava ke Medan. Kuucapkan selamat kepada Zanna dengan perasaan tak menentu dan dengan alasan anakku ingin dibawakan makanan, aku permisi pulang. Tuhan, semakin kacau hatiku, beruntung aku selamat sampai rumah.
Sebulan setelah Zanna ikut Madava ke Medan, tiba-tiba pada suatu malam dia meneleponku sambil histeris mengatakan bahwa dia akan meminta cerai kepada Madava. Disaat aku sedang menata hati ditinggal Madava, tiba-tiba mendapat kabar seperti ini membuat hatiku kacau kembali. Antara muncul harapan bisa bersatu lagi dengan Madava dan bagaimana nasib rumah tanggaku dengan Ravindra.
Aku minta Zanna untuk menarik nafas panjang dan menceritakan apa yang terjadi. Zanna bercerita bahwa Madava akhirnya mengakui bahwa dia berselingkuh dan ingin bersatu dengan wanita itu. Zanna terpukul dan langsung meminta cerai walau sebenarnya dia bingung apabila bercerai nanti apa yang harus dia lakukan. Ya, Zanna selama ini tergantung kepada Madava bahkan sampai hal yang sepelepun Zanna tidak pernah berani memutuskan selalu meminta Madava yang memutuskan sehingga dengan adanya perceraian ini membuat dia benar-benar jatuh.
Mendengar cerita Zanna aku tersentak seolah tersadarkan akan apa yang sudah kulakukan kepada sahabatku. Aku tidak pernah menduga bahwa Madava akan berani mengungkapkan hubungan kami kepada Zanna walau Madava tidak mau memberitahukan bahwa akulah wanita yang dimaksud. Dan aku tidak mengira bahwa Zanna akan seterpuruk ini akibatnya. Selesai menerima telepon Zanna, aku termenung dan berpikir. Akankah aku setega ini kepada temanku sendiri yang notabene adalah wanita terlemah yang pernah aku temui? Sisi hatiku yang lain berkata bahwa ini semua bukanlah salahku. Madava lah yang sejak pertama mengejarku sampai akhirnya aku luluh. Semakin merenung semakin sakit kepalaku, akhirnya kuputuskan untuk tidur.
Keesokan harinya, kepalaku masih terasa sakit dan memutuskan untuk tidak ke kantor. Ku kirim pesan kepada Freya dan Naila serta atasanku Manager Regional untuk mengabarkan bahwa aku sedang tidak fit. Aku hanya ingin sendiri dan memikirkan ini semua. Sambil minum kopi pahit aku duduk diteras belakang rumahku. Tak terasa aku tertidur dan terbangun ketika menjelang dzuhur.
Bersiap-siap shalat dzuhur, aku tak mau membuat keputusan apapun. Kuserahkan semua kepada Allah, biarkan Dia yang memutuskan semuanya untukku. Kuhanya jalani saja semua, bersiap mengajukan mutasi ke jakarta untuk mengikuti Ravindra. Kubiarkan sebuah ruang dihatiku menunggu sang pemiliknya datang kembali atas izinNya.


Note :
Terima kasih sudah mengizinkan aku menuliskan salah satu cerita hidupmu

Tidak ada komentar: